70 Tahun AFS di Indonesia, Bina Antarbudaya Dorong AI Jadi Jembatan Pendidikan Antarbudaya
Ketua Dewan Pengurus Yayasan Bina Antarbudaya, Sinta Kaniawati, memberikan sambutan dalam Asia Pacific International Symposium 2026 bertema “Shaping the Future: AI and Innovation in Intercultural Education for Global Peace and Prosperity” yang digelar secara hibrida di Gedung Kemendikdasmen RI, Jakarta, Rabu (9/9/2026). (Foto: Gebrak.id)
GEBRAK.ID, JAKARTA — Memasuki 70 tahun perjalanan program AFS di Indonesia, Yayasan Bina Antarbudaya mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memperkuat pendidikan antarbudaya dan membangun perdamaian global.
Gagasan tersebut menjadi salah satu fokus dalam Asia Pacific International Symposium 2026 bertema “Shaping the Future: AI and Innovation in Intercultural Education for Global Peace and Prosperity” yang digelar secara hibrida di Gedung Kemendikdasmen RI, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Forum ini mempertemukan pemimpin pendidikan, pembuat kebijakan, serta pakar inovasi untuk membahas peluang dan tantangan penggunaan AI dalam pendidikan lintas budaya. Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Ketua Dewan Pengurus Yayasan Bina Antarbudaya, Sinta Kaniawati, mengatakan perkembangan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter dan nilai kemanusiaan.
“Di era digital ini, kecerdasan buatan harus menjadi alat pemersatu yang memperluas akses pendidikan berkualitas, sekaligus memperkuat karakter, toleransi, dan pemahaman antarbudaya bagi generasi muda Indonesia di panggung global,” kata Sinta.
President & CEO AFS Intercultural Programs, Daniel Obst, menilai perkembangan AI membuka peluang untuk memperluas pendidikan kompetensi global kepada lebih banyak anak muda.
Menurut Daniel, pengalaman AFS selama tujuh dekade dalam menghubungkan berbagai budaya dapat diperkuat melalui inovasi digital.
“Selama 70 tahun, AFS telah menghubungkan berbagai budaya di seluruh dunia. Integrasi AI dan inovasi digital memberikan peluang luar biasa untuk memperluas jangkauan pendidikan kompetensi global, memastikan lebih banyak anak muda siap menjadi warga dunia yang aktif dan berempati,” ujar Daniel.
Dari sisi riset dan inovasi, Anggota Dewan Pengarah BRIN Tri Mumpuni menekankan pentingnya memastikan perkembangan teknologi tetap berpijak pada kebutuhan masyarakat.
“Inovasi teknologi, termasuk AI, harus berakar pada pemahaman budaya lokal dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Integrasi antara sains, nilai budaya, dan pemahaman global adalah kunci menuju perdamaian serta kemakmuran yang berkelanjutan,” kata Tri.
Executive Director AFS Indonesia, Gatot Nuradi Sam, menegaskan peringatan 70 tahun bukan sekadar momentum mengenang perjalanan organisasi. Menurut dia, capaian tersebut menjadi pijakan untuk menghadapi tantangan pendidikan pada masa depan.
“Peringatan 70 tahun ini bukan hanya perayaan sejarah, melainkan refleksi untuk melangkah ke depan. Kami berkomitmen terus memimpin transformasi pendidikan antarbudaya di Indonesia dengan memanfaatkan kecerdasan buatan secara bijak untuk mencetak pemimpin masa depan yang berwawasan global,” ujar Gatot.
Simposium juga menghadirkan panel internasional yang melibatkan pakar dari AFS Asia Pacific Initiative, AFS China, AFS India, serta Universitas Indonesia. Diskusi membahas penerapan AI dalam metode pembelajaran lintas budaya.
Bina Antarbudaya merupakan organisasi nirlaba berbasis relawan dan mitra AFS Intercultural Programs di Indonesia. Organisasi ini bergerak dalam pendidikan antarbudaya, pertukaran pelajar, serta pengembangan kepemimpinan generasi muda.
Memasuki usia 70 tahun program AFS di Indonesia, Bina Antarbudaya menempatkan teknologi sebagai salah satu instrumen untuk memperluas pengalaman belajar lintas budaya, tanpa meninggalkan nilai toleransi, empati, dan kemanusiaan.
(Endro Yuwanto)
