PISA 2025: Skor Literasi dan Sains Indonesia Naik, Akses Pendidikan Tembus 90 Persen
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) merilis hasil Programme for International Student Assessment (PISA)2025 di Jakarta pada Selasa (8/9/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID, JAKARTA — Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 membawa kabar positif bagi pendidikan Indonesia. Skor literasi membaca dan sains mengalami kenaikan dibandingkan hasil PISA 2022, sementara akses pendidikan bagi murid usia 15 tahun melonjak hingga 90 persen.
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) merilis hasil PISA 2025 di Jakarta pada Selasa (8/9/2026). Asesmen ini menjadi yang terbesar sejak PISA pertama kali digelar pada 2000, dengan melibatkan lebih dari 760 ribu murid dari 91 negara dan ekonomi.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin, mengatakan capaian Indonesia cukup berarti di tengah penurunan performa pendidikan yang terjadi di banyak negara OECD.
“Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains,” kata Toni.
Pada PISA 2025, skor sains Indonesia naik enam poin dari 383 pada 2022 menjadi 389. Skor membaca juga meningkat enam poin, dari 359 menjadi 365. Sementara itu, skor matematika tercatat 364 poin.
Kenaikan tersebut menjadi lebih penting jika dikaitkan dengan perluasan akses pendidikan. Kemendikdasmen mencatat Coverage Index, yakni proporsi murid usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal, meningkat dari 0,46 pada PISA 2003 menjadi 0,90 pada PISA 2025.
Artinya, jumlah anak yang masuk dalam cakupan sistem pendidikan formal meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan saat Indonesia pertama kali mengikuti PISA. Perluasan akses itu berlangsung seiring transformasi pelaksanaan asesmen, termasuk peralihan penuh dari tes berbasis kertas ke tes berbasis komputer sejak PISA 2018.
Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher turut mengapresiasi capaian Indonesia. Menurutnya, Indonesia menunjukkan kemampuan memperluas akses pendidikan tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran.
Data PISA 2025 juga menunjukkan murid Indonesia memiliki tingkat keingintahuan yang tinggi dan mulai mengembangkan kemampuan belajar secara mandiri. Mereka bahkan menunjukkan performa yang lebih baik dalam pemecahan masalah komputasional serta lebih sering berlatih menilai kredibilitas konten yang dibuat dengan kecerdasan artifisial (AI).
Menindaklanjuti hasil tersebut, Kemendikdasmen menyiapkan empat strategi. Pertama, memperkuat kompetensi guru melalui kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta kemampuan pedagogik dan digital, termasuk koding dan AI.
Kedua, meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran mendalam, digitalisasi, serta penguatan literasi, numerasi, dan karakter. Ketiga, menyelaraskan Asesmen Nasional dan Tes Kemampuan Akademik dengan kompetensi penalaran dalam kerangka PISA. Keempat, memperkuat peran keluarga melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dan kemitraan orang tua dalam pembelajaran.
Kemendikdasmen juga menyediakan sejumlah platform pembelajaran dan asesmen yang dapat dimanfaatkan guru serta murid secara mandiri. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan bernalar, literasi digital, dan kemandirian belajar sejalan dengan tuntutan pendidikan di era digital.
(Devona R/Sumber: Kemendikdasmen)
