Kasus ISPA Melonjak 125%, Banten Perpanjang PJJ hingga 11 September

1788925086291

Lonjakan 4.500 Kasus di Tengah Erupsi, Gubernur Andra Soni Ambil Kebijakan Daring demi Keselamatan Siswa. (Foto: ilustrasi freepik)

GEBRAK.ID,BANTEN– Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten resmi memperpanjang masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) di seluruh wilayahnya. Kebijakan yang semula hanya berlaku hingga Rabu (9/9) ini diperpanjang hingga Jumat (11/9/2026) menyusul lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang dipicu oleh paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.

Gubernur Banten, Andra Soni, mengungkapkan bahwa dalam kondisi normal, jumlah kasus ISPA di Banten berkisar di angka 2.000 kasus. Namun, berdasarkan laporan lapangan terkini, angka tersebut kini melonjak drastis hingga mencapai sekitar 4.500 kasus atau meningkat 125 persen.

“Keputusan ini kami ambil karena kualitas udara akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dinilai belum aman untuk pelaksanaan pembelajaran tatap muka, terutama bagi anak-anak,” ujar Andra dalam keterangannya di Tangerang, Rabu (9/9/2026).

Data Kasus ISPA dan Usia Produktif Paling Terdampak

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti, memberikan rincian lebih lanjut mengenai lonjakan kasus tersebut. Ia menyebutkan bahwa peningkatan signifikan mulai terjadi sejak Sabtu (5/9/2026) malam, dengan puncaknya tercatat pada Senin (7/9/2026) yang menyentuh angka 4.058 kasus.

“Kenaikan ini yang semula biasanya kasus ISPA sekitar 1.000 sampai dengan 1.500 kasus, kini menjadi 2,5 kali lipat,” jelas Ati. Menariknya, data Dinkes menunjukkan bahwa kasus ISPA tidak hanya didominasi oleh anak-anak, melainkan juga oleh kelompok usia produktif atau dewasa. Hal ini berkaitan dengan tingginya mobilitas harian kelompok tersebut untuk bekerja di luar ruangan, sehingga tetap terpapar abu vulkanik meskipun imbauan untuk berdiam diri di rumah telah dikeluarkan.

Status Gunung Anak Krakatau Masih Siaga

Perpanjangan PJJ ini sejalan dengan rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Hingga saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Siaga (Level III) yang telah ditetapkan sejak 2 Juli 2026. Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, M. Nugraha Kartadinata, mengonfirmasi bahwa aktivitas erupsi saat ini masih berupa tipe strombolian yang berpotensi melontarkan material vulkanik hingga jarak lebih dari dua kilometer dari pusat erupsi.

“Selain abu vulkanik, erupsi ini juga melontarkan batuan. Karena itu, kami merekomendasikan agar tidak ada aktivitas warga dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif,” tegas Nugraha. Meskipun sempat terjadi fase erupsi menerus pada awal September, Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan bahwa aktivitas kini telah kembali ke karakter erupsi normalnya (Strombolian) dengan durasi letusan yang relatif pendek. Namun, potensi ancaman berupa hujan abu lebat dan lontaran batu pijar masih tetap ada.

Imbauan kepada Masyarakat

Pemprov Banten terus mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan wajib menggunakan masker jika terpaksa harus beraktivitas di luar guna menghindari paparan abu vulkanik yang dapat memicu ISPA. Pemerintah juga gencar melakukan pembagian masker gratis di berbagai titik publik. “Kami terus melakukan pemantauan. Sampai saat ini gunung masih mengeluarkan abu hitam yang pergerakannya bergeser ke arah samudra. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada,” pungkas Gubernur Andra.

( Devona R/ berbagai sumber)