Bukan Cuma Harga, Ini 2 Alasan Ojol Masih Ragu Beralih ke Motor Listrik
Danantara menyebut persoalan performa kendaraan dan akses pembiayaan menjadi hambatan utama. Padahal, penggunaan motor listrik berpotensi memangkas biaya operasional pengemudi hingga sekitar Rp500 ribu per bulan.(Foto: instagram)
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA — Pengemudi ojek online (ojol) dinilai menjadi salah satu kelompok yang paling potensial untuk mempercepat penggunaan kendaraan listrik di Indonesia. Tingginya intensitas penggunaan sepeda motor membuat pengemudi ojol berpeluang mendapatkan manfaat langsung dari biaya operasional kendaraan listrik yang lebih rendah.
Namun, peralihan dari motor berbahan bakar bensin ke motor listrik belum berlangsung secara masif. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia mengungkap terdapat sejumlah persoalan yang masih membuat pengemudi ojol ragu melakukan peralihan.
Managing Director Industrialization BPI Danantara Indonesia, Ardy Muawin, menyebut setidaknya dua persoalan utama, yakni kendala teknis kendaraan dan akses pembiayaan.
1. Performa dan kapasitas baterai masih jadi perhatian
Ardy menjelaskan, persoalan teknis menjadi salah satu alasan yang muncul sejak tahap awal pengembangan motor listrik untuk kebutuhan operasional ojol. Sejumlah motor listrik sebelumnya dinilai belum cukup bertenaga ketika digunakan di jalan menanjak. Selain itu, kapasitas baterai juga dianggap belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pengemudi yang harus berkendara selama berjam-jam setiap hari.
Bagi pengemudi ojol, kemampuan kendaraan menjadi faktor penting karena sepeda motor bukan sekadar alat transportasi, melainkan sarana utama untuk mencari penghasilan. Meski demikian, Danantara menyebut persoalan tersebut secara bertahap mulai diatasi produsen melalui pengembangan teknologi kendaraan dan baterai yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna dengan mobilitas tinggi.
Pengembangan infrastruktur pengisian maupun penukaran baterai juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem kendaraan listrik. Sejumlah penyedia layanan telah mengembangkan sistem battery swapping yang memungkinkan pengguna mengganti baterai tanpa harus menunggu proses pengisian daya.
2. Akses kredit pengemudi ojol masih menjadi masalah
Persoalan berikutnya bahkan dinilai lebih berat, yakni pembiayaan. Danantara menerima masukan bahwa sebagian pengemudi ojol masih mengalami kesulitan memperoleh kredit kendaraan. Salah satu persoalannya berkaitan dengan proses verifikasi dan riwayat kredit dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK.
Padahal, menurut Danantara, karakteristik pendapatan pengemudi ojol sebenarnya dapat digunakan untuk mengukur kemampuan mereka dalam membayar cicilan secara lebih spesifik. Artinya, penilaian calon debitur tidak semestinya hanya bergantung pada profil kredit konvensional, tetapi juga dapat mempertimbangkan aktivitas dan pendapatan pengemudi dari platform digital.
Masalah lain adalah tingginya biaya pembiayaan kendaraan. Bunga kredit motor disebut dapat berada di kisaran 30-40 persen, sedangkan kredit mobil berada di kisaran 12 persen. Kondisi tersebut membuat cicilan motor menjadi beban yang cukup besar bagi konsumen.
Danantara kemudian menggandeng Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk membahas skema pembiayaan yang lebih terjangkau.
Danantara siapkan skema kredit lebih murah
Upaya memperbaiki akses pembiayaan juga telah disampaikan Danantara ketika meluncurkan program Motor Listrik Nasional (Molinas). CEO BPI Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan perbankan dan institusi keuangan untuk menyediakan pembiayaan dengan bunga lebih rendah serta tenor lebih panjang.
Danantara juga membuka opsi mengurangi bahkan menghilangkan uang muka atau down payment (DP) yang selama ini menjadi salah satu hambatan pembelian kendaraan. Rencana tersebut mendapat perhatian dari sektor pembiayaan. Pasalnya, penerapan DP 0 persen tetap harus memperhitungkan risiko kredit dan kemampuan konsumen membayar cicilan agar tidak meningkatkan potensi gagal bayar.
Motor listrik berpotensi hemat Rp500 ribu per bulan
Di tengah berbagai hambatan tersebut, Danantara melihat alasan ekonomi yang cukup kuat bagi pengemudi ojol untuk menggunakan motor listrik. Berdasarkan riset Danantara, biaya operasional harian motor listrik berpotensi lebih rendah sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000 dibandingkan motor berbahan bakar bensin.
Jika pengemudi bekerja selama 25 hari dalam sebulan, penghematannya dapat mencapai sekitar Rp250.000 hingga Rp500.000 per bulan. Besarnya penghematan tersebut dinilai cukup signifikan bagi pengemudi ojol yang menjadikan kendaraan sebagai alat utama mencari pendapatan.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga menyampaikan bahwa motor listrik menawarkan efisiensi biaya energi dibandingkan motor bensin. Pemerintah karena itu mendorong pengembangan industri dan ekosistem motor listrik nasional.
Ojol menjadi pasar strategis Motor Listrik Nasional
Keterlibatan pengemudi ojol dalam program Molinas bukan tanpa alasan. Pengemudi ojol dan pekerja sektor logistik merupakan pengguna kendaraan roda dua dengan intensitas perjalanan tinggi setiap hari. Danantara pun melibatkan perusahaan aplikator seperti Gojek dan Grab dalam pengembangan ekosistem tersebut.
Pendekatan yang dilakukan bukan hanya memproduksi motor listrik, tetapi juga memastikan kendaraan sesuai kebutuhan pengguna, tersedia pembiayaan dan memiliki ekosistem pendukung. Sebelumnya juga telah dilaporkan, pemerintah telah meresmikan Motor Listrik Nasional (Molinas) di Cikarang, Kabupaten Bekasi, pada 13 Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian transportasi dan industri kendaraan listrik nasional.
Dengan demikian, tantangan migrasi ojol ke motor listrik tidak hanya terletak pada harga kendaraan. Performa, daya tahan baterai, akses kredit, besaran bunga dan skema pembayaran menjadi faktor yang sama pentingnya. Jika persoalan tersebut dapat diatasi, pengemudi ojol berpotensi menjadi salah satu motor penggerak utama percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
(berbagai sumber)
