Gempa Susulan di NTT Tembus 13.156 Kali, BMKG Ungkap Perkiraan Aktivitas Berikutnya

gempa 7 lombok

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 3.752 gempa bumi susulan setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Tangkapan layar BMKG)

GEBRAK.ID — Aktivitas gempa susulan masih mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa utama terjadi pada 15 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 13.156 kali gempa susulan hingga Senin, 7 September 2026.

Data tersebut disampaikan BMKG melalui akun Instagram resmi @infobmkg pada Senin (7/9/2026) pukul 05.00 WIB. Dari ribuan kejadian itu, gempa susulan terkuat tercatat mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terlemah memiliki magnitudo 0,9.

BMKG juga mencatat 36 kejadian gempa susulan dengan kekuatan lebih dari magnitudo 5. Meski jumlahnya mencapai ribuan, sebagian besar getaran tidak dirasakan langsung oleh masyarakat.

Berdasarkan catatan BMKG, hanya 177 gempa susulan yang dirasakan warga. Angka tersebut menunjukkan tingginya frekuensi aktivitas seismik di wilayah tersebut, meskipun tidak seluruh gempa menimbulkan guncangan yang terasa di permukaan.

BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan di NTT masih dapat berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Namun, intensitasnya diprediksi terus menurun seiring berjalannya waktu.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengatakan pola aktivitas gempa susulan secara umum menunjukkan kecenderungan menurun. Kendati demikian, peningkatan aktivitas masih dapat terjadi pada periode tertentu.

“Berdasarkan hasil monitoring BMKG, aktivitas gempa susulan masih akan berlangsung. Secara umum dari grafik terlihat bahwa kecenderungannya menurun, walaupun dalam beberapa periode masih terjadi peningkatan aktivitas, tetapi gempa susulan akan menurun,” kata Nelly Florida Riama dalam konferensi pers bersama BNPB.

Menurut Nelly, berdasarkan data yang tersedia, aktivitas tersebut diperkirakan masih berlangsung sekitar 21 hingga 30 hari ke depan. Ia menegaskan bahwa frekuensi gempa akan cenderung berkurang meski masyarakat tetap perlu mewaspadai kemungkinan terjadinya guncangan.

“Dengan data yang ada saat ini, kira-kira (masih akan berlangsung) dalam 21-30 hari ke depan, tetapi akan menurun,” ujar Nelly.

Tingginya jumlah gempa susulan membuat pemantauan aktivitas seismik di NTT menjadi perhatian BMKG. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap mengikuti informasi resmi dan tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang sumbernya tidak jelas.

BMKG terus memantau perkembangan aktivitas gempa untuk memberikan informasi terbaru kepada masyarakat dan pihak terkait.

(Saeful Imam/Sumber: BMKG)