Sebelum Anak Krakatau, Ada Letusan Dahsyat 1883: Begini Kisah Krakatau yang Mengubah Dunia
Sebelum Anak Krakatau, ada letusan dahsyat 1883: Begini kisah Krakatau yang mengubah dunia. (Foto: Wikipedia).
GEBRAK.ID — Nama Krakatau telah menjadi bagian penting dalam sejarah kebencanaan dunia. Gunung api yang berada di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatera, pernah mengalami salah satu letusan paling dahsyat yang tercatat dalam sejarah modern pada 1883 silam.
Peristiwa tersebut tidak hanya menghancurkan sebagian besar tubuh gunung, tetapi juga memicu tsunami besar yang menelan puluhan ribu korban jiwa. Dampaknya bahkan terasa jauh di luar wilayah Indonesia, mulai dari perubahan atmosfer hingga perubahan kondisi iklim global untuk sementara waktu.
Namun, Krakatau yang meletus pada 1883 perlu dibedakan dari Gunung Anak Krakatau yang dikenal saat ini. Anak Krakatau merupakan gunung api baru yang tumbuh kemudian di dalam kaldera yang terbentuk setelah kehancuran Krakatau pada 1883.
Letusan Krakatau 1883 dan Kehancuran Besar
Aktivitas vulkanik Krakatau mulai meningkat pada Mei 1883. Dalam beberapa bulan berikutnya, intensitas erupsi terus bertambah hingga mencapai puncaknya pada 26–27 Agustus 1883.
Ledakan terbesar terjadi pada pagi 27 Agustus. Energi yang dilepaskan sangat besar dan menyebabkan sebagian besar tubuh gunung runtuh. Kehancuran tersebut membentuk kaldera luas di kawasan Selat Sunda.
Besarnya energi letusan Krakatau sering digambarkan dengan perbandingan terhadap ledakan nuklir. Sejumlah kajian memperkirakan energi ledakan puncaknya mencapai sekitar 200 megaton ekuivalen TNT. Sebagai gambaran, angka tersebut jauh melampaui energi bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima-Nagasaki Jepang.
Letusan juga menghamburkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar ke atmosfer, termasuk abu, batu apung, dan gas vulkanik seperti sulfur dioksida.
Tsunami Menjadi Penyebab Utama Banyak Korban
Kekuatan letusan Krakatau bukan satu-satunya penyebab besarnya jumlah korban. Salah satu dampak paling mematikan justru berasal dari tsunami yang menyapu pesisir Jawa dan Sumatera.
Gelombang tsunami mencapai ketinggian sekitar 30 meter di sejumlah lokasi di sekitar Selat Sunda. Permukiman pesisir tersapu dalam waktu singkat sehingga korban jiwa mencapai puluhan ribu orang.
Data yang dirangkum NOAA menyebutkan lebih dari 36.000 orang meninggal dunia, dengan sebagian besar kematian berkaitan dengan tsunami.
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bahwa bahaya gunung api yang berada di dekat laut tidak terbatas pada lava, abu, atau material letusan. Perubahan atau keruntuhan tubuh gunung api juga dapat memindahkan volume air laut dalam jumlah besar dan menghasilkan tsunami.
Dampak Letusan Menjangkau Atmosfer dan Iklim
Letusan Krakatau 1883 juga menunjukkan bahwa sebuah bencana vulkanik dapat memberikan dampak yang jauh melampaui wilayah di sekitar gunung.
Material vulkanik yang mencapai atmosfer memengaruhi jumlah dan karakter cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi. Keberadaan aerosol vulkanik kemudian menghasilkan berbagai fenomena atmosfer yang tidak biasa.
Pada periode setelah letusan, suhu global mengalami penurunan sementara akibat pengaruh material vulkanik di atmosfer. Langit di berbagai belahan dunia juga dilaporkan menampilkan warna merah dan jingga yang sangat mencolok saat matahari terbit maupun terbenam.
Salah satu fenomena yang menarik perhatian adalah laporan mengenai Bulan yang tampak berwarna kebiruan. Kondisi tersebut berkaitan dengan cara partikel vulkanik di atmosfer menyebarkan dan menyerap berbagai panjang gelombang cahaya.
Dengan demikian, letusan Krakatau menjadi salah satu contoh nyata bahwa aktivitas sebuah gunung api dapat memengaruhi sistem atmosfer dan kondisi lingkungan dalam skala global.
Dentuman Krakatau Terdengar Ribuan Kilometer
Krakatau 1883 juga dikenang karena suara ledakannya yang luar biasa kuat.
Gelombang tekanan akibat letusan tercatat memengaruhi alat pengukur tekanan udara di Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta, meskipun lokasinya berjarak sekitar 160 kilometer dari pusat letusan.
Laporan sejarah juga menyebutkan bahwa suara ledakan terdengar hingga wilayah yang sangat jauh. Di Pulau Rodrigues, dekat Mauritius di Samudra Hindia, yang berjarak sekitar 4.800 kilometer, suara tersebut dilaporkan terdengar seperti dentuman meriam berat.
Di Perth, Australia Barat, sekitar 3.100 kilometer dari Krakatau, masyarakat juga dilaporkan mendengar suara ledakan dan sempat mengira terjadi aktivitas militer atau tembakan artileri.
Fenomena tersebut memperlihatkan betapa besar energi akustik yang dilepaskan ketika Krakatau mencapai fase klimaks erupsinya.
Dari Krakatau 1883 Lahir Anak Krakatau
Setelah kehancuran besar pada 1883, aktivitas vulkanik di kawasan tersebut ternyata belum berakhir.
Pada akhir Desember 1927, aktivitas erupsi bawah laut mulai membentuk kerucut vulkanik baru di dalam kaldera bekas Krakatau. Gunung api baru tersebut kemudian berkembang menjadi Anak Krakatau.
Sejak kemunculannya, Anak Krakatau menunjukkan aktivitas vulkanik yang berulang. Erupsi menghasilkan abu, material pijar, bom vulkanik, serta lava yang secara bertahap membangun tubuh gunung.
Aktivitas penting juga tercatat pada sejumlah periode, termasuk sekitar 1959–1963 dan 1972–1973. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Anak Krakatau merupakan gunung api yang terus mengalami perubahan dan pertumbuhan.
Tsunami Anak Krakatau 2018 Kembali Mengingatkan Bahaya
Salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah modern Anak Krakatau terjadi pada 22 Desember 2018.
Saat aktivitas erupsi berlangsung, sebagian tubuh gunung mengalami longsoran dan runtuh ke laut. Material yang masuk ke laut tersebut kemudian memicu tsunami yang menerjang sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Peristiwa 2018 menjadi pengingat bahwa ancaman dari gunung api di kawasan kepulauan memiliki karakter yang kompleks.
Gunung api yang berada di dekat laut dapat menimbulkan bahaya berlapis, mulai dari erupsi, abu vulkanik, lava, hingga tsunami akibat longsoran atau perubahan struktur tubuh gunung.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Sejarah Krakatau?
Sejarah Krakatau memperlihatkan bahwa bencana alam tidak selalu datang dengan pola yang sama. Letusan besar dapat menghasilkan berbagai dampak sekaligus, sementara perubahan kecil pada tubuh gunung api juga dapat memicu bahaya serius apabila terjadi di lingkungan laut.
Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa aktivitas gunung api bukan sekadar fenomena alam yang menarik untuk disaksikan.
Pemantauan gunung api secara ilmiah, sistem peringatan dini, kesiapan jalur evakuasi, kepatuhan terhadap zona bahaya, serta pemahaman masyarakat mengenai risiko tsunami merupakan bagian penting dalam mengurangi korban ketika bencana terjadi.
Aktivitas Anak Krakatau yang masih berlangsung hingga 2026 juga perlu disikapi secara proporsional. Waspada bukan berarti panik.Â
Masyarakat sebaiknya mengandalkan informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, serta pemerintah daerah dan mengikuti ketentuan mengenai kawasan yang dinyatakan berbahaya.
Kisah Krakatau 1883 dan Anak Krakatau 2018 pada akhirnya memberikan pelajaran yang sama: memahami sejarah bencana adalah salah satu cara untuk mempersiapkan diri menghadapi risiko di masa depan.
(Damar Pratama/Berbagai Sumber).
