![]() |
| Rilis BPS kali ini bukan hanya deretan persentase dan nominal rupiah. Ia adalah potret keras dunia kerja Indonesia hari ini bahwa ijazah masih menentukan harga tenaga. (Foto: Ilustrasi/Pixabay) |
JAKARTA -- Jutaan buruh di Indonesia berangkat bekerja, membawa bekal harapan yang sama: upah yang layak untuk menopang hidup. Namun, di balik deru mesin pabrik, layar komputer kantor, hingga panasnya proyek konstruksi, ada satu fakta yang tak bisa diabaikan, pendidikan tetap menjadi penentu utama nilai kerja.
Badan Pusat Statistik (BPS) RI kembali membuka tabir realitas tersebut lewat rilis terbaru rerata gaji atau upah buruh per bulan di Indonesia pada Agustus 2025. Data itu berbicara lugas, nyaris tanpa basa-basi.
Buruh yang menamatkan pendidikan rendah masih harus puas dengan upah yang jauh dari kata ideal, sementara mereka yang mengantongi ijazah pendidikan menengah hingga tinggi menikmati gaji yang lebih besar.
Jurang penghasilan itu bukan sekadar angka dalam tabel statistik, melainkan cermin ketimpangan kesempatan yang sudah lama mengakar. Di satu sisi, pendidikan menjadi “tangga” sosial yang efektif untuk menaikkan kesejahteraan. Di sisi lain, akses terhadap pendidikan berkualitas belum sepenuhnya merata.
Rilis BPS kali ini bukan hanya deretan persentase dan nominal rupiah. Ia adalah potret keras dunia kerja Indonesia hari ini bahwa ijazah masih menentukan harga tenaga. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditamatkan, semakin tebal amplop gaji yang dibawa pulang di akhir bulan. Ini sebuah realitas yang kembali menegaskan, sekolah bukan sekadar soal ilmu, tetapi juga soal masa depan ekonomi.
Data BPS menunjukkan, rerata gaji buruh/karyawan/pegawai di Indonesia per Agustus 2025 sekitar Rp 3,3 juta. Menurut Berita Resmi Statistik No. 103/11/Th. XXVIII, 5 November 2025, rata-rata upah buruh dari Agustus 2024 ke Agustus 2025 tumbuh 1,94 persen dari Rp 3,27 juta menjadi Rp 3,33 juta.
Berdasarkan lapangan usahanya, buruh yang bekerja di bidang informasi dan komunikasi mendapatkan rerata gaji tertinggi sebesar Rp 5,28 juta. Lalu, buruh yang bekerja di sektor aktivitas jasa lainnya menerima upah terendah dengan hanya Rp 1,97 juta.
Berdasarkan jenis kelamin, rata-rata upah buruh laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan. Rerata gaji buruh laki-laki sebesar Rp 3,59 juta, buruh perempuan sebesar Rp 2,86 juta.
Adapun Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 menunjukkan bahwa gaji yang didapatkan buruh berkaitan dengan jenjang pendidikan yang ditamatkan. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditamatkan, semakin besar upah yang diterima.
Gaji buruh dengan pendidikan Diploma IV, S1, S2, S3 memperoleh rerata gaji tertinggi sebesar Rp 4,80 juta. Sementara buruh berpendidikan SD ke bawah menerima gaji terendah hanya sebesar Rp 2,19 juta. Jika dibandingkan, buruh berpendidikan D-IV, S1, S2, S3 menerima rerata gaji sebesar 2,2 kali lipat dari buruh berpendidikan SD ke bawah.
Rerata Gaji Tertinggi Buruh di Indonesia Berdasarkan Pendidikan Per Agustus 2025
1. Lulusan D-IV, S1, S2, S3: Rp 4,8 juta
2. Lulusan D-I,D-II, D-III: Rp 4,5 juta
3. Lulusan SMK: Rp 3,26 juta
4. Lulusan SMA: Rp 3,15 juta
5. Lulusan SMP: Rp 2,48 juta
6. Lulusan SD: Rp 2,19 juta.
Kelompok Umur Buruh yang Dapat Rerata Gaji Terendah di Indonesia per Agustus 2025
1. 15-19 tahun: Rp 2,02 juta
2. 20-24 tahun: Rp 2,60 juta
3. 25-29 tahun: Rp 3,12 juta.
(dtk/gpt/end)

Posting Komentar untuk "Rilis BPS Ungkap Fakta Upah Buruh 2025: Pendidikan Jadi Penentu Besar Kecilnya Gaji"