Pemerintah memastikan proses belajar mengajar di tiga provinsi tersebut telah kembali berjalan sepenuhnya. Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyebut seluruh aktivitas pendidikan sudah aktif, meski sebagian kecil masih berlangsung di ruang kelas darurat.
“Pendidikan menjadi prioritas karena menyangkut masa depan generasi muda,” ujar Tito saat rapat koordinasi di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta.
Bagi banyak keluarga di wilayah terdampak, kembalinya sekolah bukan sekadar soal kurikulum, tetapi tanda kehidupan mulai normal. Anak-anak kembali mengenakan seragam, guru kembali mengajar, dan rutinitas harian perlahan pulih.
Tak hanya sekolah, layanan kesehatan juga sudah kembali berfungsi. Rumah sakit dan puskesmas yang sempat terdampak kini kembali melayani warga. Akses listrik dan internet pun berangsur pulih, memastikan proses belajar—baik tatap muka maupun berbasis digital—dapat berjalan lebih lancar.
Dari sisi ekonomi, pasar rakyat di sebagian besar wilayah kembali buka. Ini penting karena kestabilan ekonomi keluarga berpengaruh langsung pada keberlanjutan pendidikan anak.
Meski begitu, pemulihan belum sepenuhnya selesai. Beberapa sekolah masih memanfaatkan ruang darurat, dan infrastruktur seperti jalan serta jembatan masih diperbaiki secara bertahap. Pemerintah membentuk posko pemantauan untuk memastikan proses ini terus berjalan.
Pemulihan pendidikan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali gedung sekolah, tetapi mengembalikan rasa aman, harapan, dan semangat belajar. Ketika sekolah kembali hidup, masa depan pun perlahan menemukan jalannya kembali.
Bagi banyak anak, sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang aman untuk tumbuh. Ketika bencana melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar), aktivitas belajar sempat terhenti. Kini, perlahan tapi pasti, sekolah-sekolah di wilayah terdampak kembali hidup.
Pemerintah memastikan proses belajar mengajar di tiga provinsi tersebut telah kembali berjalan 100 persen. Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyebut pendidikan menjadi prioritas utama dalam pemulihan pascabencana.
Namun, di balik data dan laporan resmi, ada cerita manusia yang lebih dalam.
“Waktu sekolah tutup, anak-anak sering bertanya kapan bisa belajar lagi,” ujar Nurhayati, seorang guru sekolah dasar di Aceh. “Sekarang meski masih pakai kelas darurat, mereka sudah senang bisa kembali bertemu teman dan belajar bersama.”
Hal serupa dirasakan Rizki (13 tahun), siswa SMP di Sumatera Barat. Ia mengaku sempat kehilangan semangat belajar setelah bencana. “Rumah rusak, sekolah juga. Tapi pas sekolah dibuka lagi, rasanya seperti mulai hidup normal lagi,” katanya.
Sebagian sekolah memang masih memanfaatkan ruang kelas sementara. Namun, bagi para guru, kehadiran siswa di kelas jauh lebih penting daripada kondisi bangunan. “Yang penting anak-anak tidak putus sekolah,” ujar seorang guru di Sumatera Utara.
Pemulihan pendidikan ini juga didukung oleh pulihnya layanan kesehatan, listrik, dan internet. Akses tersebut membuat kegiatan belajar kembali stabil, termasuk penggunaan materi digital di sekolah.
Di sisi lain, pasar-pasar yang kembali beroperasi membantu orang tua memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga anak-anak bisa fokus kembali pada pendidikan.
Meski tantangan masih ada, semangat untuk bangkit terlihat jelas di ruang-ruang kelas. Pemerintah memastikan pemantauan terus dilakukan agar pemulihan berjalan berkelanjutan.
Bagi para siswa dan guru, kembalinya sekolah bukan hanya soal pelajaran, melainkan tentang harapan. Di tengah keterbatasan, ruang belajar kembali menjadi simbol bahwa masa depan tetap bisa diperjuangkan.
(Puspen Kemendagri)

Posting Komentar untuk "Setelah Bencana, Sekolah Kembali Hidup: Cerita Pemulihan Pendidikan di Aceh, Sumut, dan Sumbar"