8.500 Murid SD-SMP Sabet Nilai Sempurna '100' di TKA 2026, tapi Kok Matematika Kalah Jauh dari Bahasa Indonesia?

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkap fakta mencengangkan dalam hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026: lebih dari 8.500 murid jenjang SD dan SMP berhasil membukukan skor sempurna alias 100. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; JAKARTA — Di balik lembar jawaban yang telah dikoreksi mesin, terselip kisah tentang keunggulan yang nyaris tak bercela. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkap fakta mencengangkan dalam hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026: lebih dari 8.500 murid jenjang SD dan SMP berhasil membukukan skor sempurna alias 100. 

Namun, di balik euforia itu, tersingkap pula sebuah ironi klasik yang belum tuntas terjawab—mengapa nilai sempurna di Matematika begitu langka?

Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Kapusmendik) Kemendikdasmen, Rahmawati, membeberkan potret disparitas ini secara blak-blakan dalam Taklimat Media di Gedung E Komplek Kemendikbud, Senayan, Selasa (26/5/2026). 

"Ada yang dapat nilai sempurna, betul semua di semua soal. Dan jumlahnya kalau untuk Bahasa Indonesia memang lebih banyak, dibandingkan untuk Matematika," ujar Rahmawati membuka data.

Berburu Skor 100: Literasi Meluncur, Numerasi Terkunci

Angka tidak pernah berbohong. Pada jenjang SD/MI/sederajat, dominasi literasi begitu telak. Sebanyak 4.509 murid sukses menyapu bersih soal Bahasa Indonesia tanpa cela. Sebaliknya, di Matematika, hanya 814 murid yang berhasil menyentuh puncak kesempurnaan.

Kesenjangan ini semakin melebar saat naik ke tingkat SMP/MTs/sederajat. Jika di Bahasa Indonesia masih ada 4.051 murid yang mempertahankan skor 100, di Matematika jumlahnya anjlok drastis menjadi hanya 271 peserta didik. Sebuah jurang yang menandakan bahwa tantangan numerasi justru semakin berat seiring naiknya kompleksitas materi.

Lantas, apakah ini pertanda bahwa siswa kita pandai berkata-kata tetapi masih gagap dalam logika angka?

Pengamat pendidikan, Nisa Felicia, pernah mengingatkan bahwa akar masalahnya bukan pada bakat, melainkan cara mengajar. "Selama ini banyak siswa belajar Matematika dengan menghafal rumus, bukan memahami konsep. Begitu soal diubah sedikit atau butuh penalaran lebih dalam, mereka langsung kehilangan arah," jelasnya.

Formula Jadul dan Standard Setting yang Ketat

Menarik untuk mengintip dapur penilaian TKA. Rahmawati menjelaskan, nilai mentah dihitung dengan rumus sederhana yang sudah akrab sejak era Ebtanas: proporsi jawaban benar dikonversi ke skala 0-100. "Jadi kalau soal yang diterima murid 30, dia betul 15 soal, maka nilainya 50. Kalau dia betul 27, maka nilainya 90," jelasnya.

Yang berbeda adalah komposisi soalnya. Tidak seperti ujian SMA yang sepenuhnya buatan pusat, soal TKA SD-SMP adalah paduan 70% soal pusat dan 30% dari kabupaten/kota yang diacak per provinsi. Artinya, siswa di Aceh belum tentu menghadapi soal yang sama dengan siswa di NTT. Untuk menjaga keadilan, Kemendikdasmen melakukan verifikasi dan validasi terhadap tingkat kesukaran setiap butir soal.

"Hal ini kami lakukan untuk memastikan tidak ada murid yang dirugikan karena mendapatkan paket yang ekstrem lebih sulit, atau murid yang diuntungkan karena mendapat paket soal yang lebih mudah," tegas Rahmawati. 

Penentuan batas kategori "Kurang", "Memadai", "Baik", dan kategori baru "Istimewa" (nilai ≥95) pun melibatkan 140 guru dari berbagai wilayah dalam metode standard setting yang ketat.

Peta Kategori: Hanya Segelintir Masuk Golongan "Istimewa"

Data sebaran kategori nilai kian mempertegas bahwa predikat "Istimewa" benar-benar barang mewah. Di jenjang SD, hanya 0,59% murid yang masuk kategori Istimewa di Bahasa Indonesia, dan hanya 0,07% di Matematika.

Di jenjang SMP, persentasenya semakin kecil: 0,57% untuk Bahasa Indonesia dan hanya 0,03% untuk Matematika. Angka-angka ini menjadi alarm bahwa siswa dengan pemahaman sangat mendalam di numerasi masih amat langka. 

Di sisi lain, masih ada 27,58% murid SD yang kemampuan Bahasa Indonesianya di level "Kurang" dan 20,42% yang "Kurang" di Matematika.

"Fokus utama dari TKA di mana hasil TKA tidak berhenti kepada nilai dan capaian, tetapi berujung kepada perbaikan dan refleksi strategi pembelajaran," pungkas Rahmawati. 

Kini, pertanyaan terbesarnya bukan lagi berapa banyak yang mendapat 100, melainkan bagaimana sekolah dan orang tua merespons anak-anak yang masih tertatih di zona merah. Karena sejatinya, nilai 100 hanyalah angka. Yang lebih penting adalah memastikan tak ada anak yang tertinggal di belakang.

(Sumber: Kemendikdasmen)