Editor: Devona R
Dua murid SMA Negeri 4 Manokwari, Papua Barat, tersenyum. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID; MANOKWARI – Kabar yang telah lama dinantikan akhirnya datang bagi keluarga besar SMA Negeri 4 Manokwari, Papua Barat. Setelah hampir satu tahun menjalani kegiatan belajar mengajar dengan menumpang di sekolah lain, para siswa kini bisa bernapas lega.
Pemerintah resmi memulai pembangunan gedung sekolah baru yang akan menjadi rumah permanen bagi sekolah tersebut. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, melakukan peletakan batu pertama pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) SMA Negeri 4 Manokwari pada akhir Mei 2026.
Proyek ini menjadi tonggak penting dalam upaya pemerataan akses pendidikan di Papua Barat sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat akan fasilitas pendidikan menengah yang layak.
Bagi para siswa, pembangunan sekolah baru ini bukan sekadar proyek infrastruktur. Kehadirannya menjadi simbol harapan, kemandirian, dan masa depan yang lebih baik.
Sejak berdiri pada Juli 2025, SMA Negeri 4 Manokwari belum memiliki gedung sendiri. Sebanyak 60 siswa angkatan pertama harus menjalani proses belajar mengajar dengan memanfaatkan fasilitas milik SMP Negeri 27 Manokwari. Aktivitas pembelajaran dilakukan pada siang hingga sore hari, mulai pukul 12.15 hingga 17.00 WIT.
Kepala SMA Negeri 4 Manokwari, Iriandi Eendyasmoko, mengaku terharu melihat perjuangan para siswa yang selama ini tetap bersemangat meski belajar dalam keterbatasan.
"Anak-anak sangat gembira mendengar kabar ini. Kehadiran sekolah baru tentu akan memberikan kenyamanan yang selama ini mereka impikan," ujar Iriandi, Jumat (29/5/2026).
Menurut Iriandi, lokasi pembangunan yang berdekatan dengan SMP Negeri 27 Manokwari juga akan memudahkan akses pendidikan bagi masyarakat di kawasan Pantai Utara (Pantura) Manokwari yang terus berkembang.
Dari Rasa Canggung Menjadi Kebanggaan
Kebahagiaan juga dirasakan langsung para siswa. Salah satunya Maria Aura Angeli Tampani, siswi kelas 10 yang selama ini harus berbagi fasilitas dengan sekolah lain.
Maria mengaku sering merasa sungkan karena menggunakan ruang dan sarana milik sekolah yang bukan miliknya sendiri. Karena itu, pembangunan gedung baru menjadi momen yang sangat berarti.
"Otomatis senang karena akhirnya punya gedung sendiri. Selama ini kami menumpang, jadi ada rasa malu juga," ujar Maria.
Hal senada disampaikan Filki Israel Kuai. Bagi siswa kelas 10 tersebut, sekolah baru bukan hanya menghadirkan kenyamanan belajar, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri seluruh warga sekolah.
"Harapannya SMA 4 bisa semakin dikenal, berkembang, dan mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lain," kata Filki penuh optimisme.
Anggaran Rp8,1 Miliar, Ditarget Rampung Enam Bulan
Pembangunan Unit Sekolah Baru SMA Negeri 4 Manokwari merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah dan Kemendikdasmen melalui program revitalisasi pendidikan tahun 2026.
Untuk proyek ini, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp8,1 miliar dengan target penyelesaian sekitar enam bulan. Fasilitas yang dibangun tidak hanya ruang belajar, tetapi juga berbagai sarana pendukung yang dirancang untuk menunjang proses pendidikan secara optimal.
Iriandi mengaku tidak menyangka sekolahnya akan mendapatkan fasilitas yang begitu lengkap, termasuk pagar sekolah yang dinilai sangat penting untuk mendukung keamanan lingkungan belajar.
"Kami sangat bersyukur dan terharu atas perhatian yang diberikan. Ini menjadi semangat baru bagi seluruh warga sekolah," ujar Iriandi.
Menariknya, SMA Negeri 4 Manokwari menjadi satu-satunya Unit Sekolah Baru tingkat SMA yang dibangun di Papua Barat pada tahun 2026.
Tak Hanya Bangun Sekolah, tapi Gerakkan Ekonomi Warga
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu'ti menegaskan bahwa pembangunan sekolah baru ini juga membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Seluruh proyek dilaksanakan menggunakan sistem swakelola sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto.
Melalui mekanisme tersebut, masyarakat lokal dilibatkan dalam proses pembangunan sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus menggerakkan roda ekonomi daerah melalui pembelian material dari toko-toko bangunan setempat.
Menurut Abdul Mu'ti, program revitalisasi nasional yang menargetkan 71.744 satuan pendidikan pada 2026 berpotensi menyerap sedikitnya 710 ribu tenaga kerja di berbagai daerah Indonesia.
Abdul Mu'ti juga mengingatkan seluruh pihak agar mengawal pembangunan dengan prinsip tata kelola yang baik, transparan, dan akuntabel. Dengan demikian, sekolah baru yang sedang dibangun benar-benar dapat menjadi lingkungan belajar yang aman, sehat, bersih, dan nyaman bagi generasi muda Papua.
(Sumber: Kemendikdasmen)