Dari Halaman Rumah, Kampung Literasi Pekijing di Serang Tumbuhkan Budaya Baca dan Kreativitas Warga

Kampung Literasi Pekijing, Serang, Banten, menghadirkan rumah-rumah buku sederhana di depan kediaman warga yang dapat diakses siapa saja secara gratis. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID; KOTA SERANG – Di tengah kekhawatiran rendahnya minat baca masyarakat dan tingginya ketergantungan anak pada gawai, sebuah gerakan sederhana di Kota Serang, Banten, justru menghadirkan harapan baru. Warga Kampung Pekijing membangun budaya literasi dari lingkungan terkecil: halaman rumah mereka sendiri.

Melalui inisiatif bertajuk Kampung Literasi Pekijing, masyarakat setempat menghadirkan rumah-rumah buku sederhana di depan kediaman warga yang dapat diakses siapa saja secara gratis. Kotak-kotak kecil berisi buku bacaan itu kini menjadi simbol tumbuhnya budaya membaca berbasis gotong royong dan partisipasi masyarakat.

Program tersebut mendapat perhatian langsung dari Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen0, Hafidz Muksin, saat melakukan kunjungan ke lokasi pada Selasa (12/5/2026).

Menurut Hafidz, penguatan literasi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif komunitas dan keluarga. Ia menilai Kampung Literasi Pekijing menjadi contoh nyata bagaimana budaya baca dapat tumbuh dari lingkungan masyarakat secara alami dan menyenangkan.

“Kami melihat Kampung Literasi Pekijing menunjukkan bagaimana masyarakat dapat membangun ekosistem literasi yang hidup dan menyenangkan. Anak-anak, orang tua, dan komunitas hadir bersama dalam berbagai aktivitas yang mendorong budaya membaca dan kreativitas di lingkungannya,” ujar Hafidz.

Dalam kunjungan tersebut, Hafidz didampingi Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten, Devyanti Asmalasari. Ia juga menegaskan bahwa keberadaan taman bacaan masyarakat memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah dalam membangun budaya literasi nasional.

Bukan sekadar tempat membaca buku, Kampung Literasi Pekijing berkembang menjadi ruang interaksi sosial lintas generasi. Anak-anak rutin mengikuti kegiatan mendongeng, membaca bersama, bermain permainan tradisional, hingga belajar seni dan musik. Sementara para lansia ikut terlibat dalam aktivitas melukis, mewarnai, hingga membuat kerajinan tangan.

Salah satu momen yang paling menyentuh terlihat ketika anak-anak membacakan buku untuk para lansia yang mengalami keterbatasan membaca. Aktivitas sederhana itu menciptakan hubungan emosional yang hangat sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga.

Pembina Kampung Literasi Pekijing, Edi Suryadi, mengaku awalnya tidak semua warga yakin konsep rumah buku di depan rumah akan berhasil. Namun pendekatan sederhana justru membuat masyarakat lebih dekat dengan buku.

“Ketika buku-buku ditempatkan di depan rumah dan mudah diakses serta judulnya menarik maka masyarakat mulai berani memegang dan membaca buku. Dari situ kami menyadari bahwa masyarakat sebenarnya membutuhkan bahan bacaan yang dekat dengan kehidupan mereka,” kata Edi.

Melihat antusiasme warga yang terus meningkat, masyarakat kemudian secara mandiri menambah sudut baca dan rumah-rumah buku di sepanjang jalan kampung. Kini, area tersebut bukan hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang edukasi alternatif bagi anak-anak.

Selain menghadirkan budaya membaca, warga Kampung Literasi Pekijing juga aktif menghidupkan permainan tradisional untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget. Anak-anak diajak bermain bersama agar lebih aktif bersosialisasi sekaligus mengembangkan kreativitas.

“Kami ingin anak-anak memiliki ruang untuk bermain bersama, membangun rasa percaya diri, dan mengembangkan kreativitasnya dengan bahagia,” ujar Edi.

Semangat itu juga dirasakan langsung oleh anak-anak di lingkungan kampung. Salah seorang anak bernama Anisa mengaku kini lebih senang membaca dan berkumpul bersama teman-temannya di kampung literasi.

“Kegiatan di kampung literasi membuat kami lebih senang membaca dan lebih dekat satu sama lain. Semoga buku-buku di sini semakin banyak dan anak-anak semakin semangat belajar,” kata Anisa.

Pendongeng anak, Jujun, yang rutin mengisi kegiatan di Kampung Literasi Pekijing juga melihat antusiasme luar biasa dari anak-anak. Ia berharap gerakan literasi berbasis masyarakat seperti ini terus berkembang di berbagai daerah.

“Saya berharap anak-anak semakin gemar membaca dan nantinya dapat menjadi penerus yang menjaga kampung literasi ini,” ujar Jujun.

Sebagai bentuk dukungan, Badan Bahasa turut menyerahkan bantuan buku hasil sayembara serta koleksi bacaan dari Kantor Bahasa Provinsi Banten untuk memperkaya bahan bacaan masyarakat.

Gerakan yang tumbuh dari kampung kecil di Kota Serang ini menjadi bukti bahwa literasi tidak selalu harus dimulai dari program besar dan mahal. Dari halaman rumah warga, budaya membaca perlahan tumbuh menjadi investasi sosial untuk membangun generasi yang lebih cerdas, kreatif, dan berkarakter.

(Sumber: Humas Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Dari Halaman Rumah, Kampung Literasi Pekijing di Serang Tumbuhkan Budaya Baca dan Kreativitas Warga"