![]() |
| Ilustrasi kapal Global Sumur Flotilla ( foto: istimewa) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID; JAKARTA--Pasukan Israel mencegat armada kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional dekat Siprus. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut misi tersebut sebagai "rencana jahat" yang dirancang untuk melanggar blokade terhadap Hamas di Gaza.
Pernyataan Israel: "Rencana Jahat" dan Provokasi
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mengakui dan membela tindakan pencegatan yang dilakukan militer Israel terhadap armada kapal bantuan yang menuju Jalur Gaza.
Dalam video yang dirilis kantornya, Netanyahu berbicara langsung kepada komandan pasukan pencegat dan memuji operasi tersebut. Ia menyebut misi kemanusiaan itu sebagai "rencana jahat" (malicious plan) yang dirancang untuk menembus blokade laut yang diberlakukan Israel di Gaza .
"Saya yakin Anda melakukan pekerjaan yang luar biasa, menggagalkan rencana jahat yang dirancang untuk melanggar blokade yang telah kami terapkan pada teroris Hamas di Gaza," kata Netanyahu kepada komandan pasukan pencegat, seperti dikutip dari pernyataan kantornya .
Netanyahu juga menegaskan bahwa operasi tersebut berjalan sukses dan tidak menimbulkan perhatian besar seperti yang diharapkan pihak lawan. "Anda melaksanakannya dengan sukses luar biasa... dan tentu saja dengan jauh lebih sedikit gembar-gembor daripada yang diantisipasi musuh kita," tambahnya .
Kementerian Luar Negeri Israel turut menuding konvoi tersebut sebagai bentuk provokasi internasional. Dalam unggahan di media sosial X, kementerian tersebut menyatakan, "Sekali lagi, sebuah provokasi demi provokasi: apa yang disebut 'armada bantuan kemanusiaan' lainnya tanpa ada bantuan kemanusiaan di dalamnya" .
Israel juga menuding dua kelompok Turki, Mavi Marmara dan IHH, yang disebutnya sebagai organisasi teroris, menjadi bagian dari provokasi tersebut.
Kronologi Pencegatan Armada Global Sumud Flotilla
Berikut kronologi lengkap peristiwa pencegatan armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 berdasarkan informasi dari berbagai sumber:
•Kamis, 14 Mei 2026: Keberangkatan Armada
Sekitar pukul 08.00 waktu setempat, sebanyak 54 kapal yang membawa bantuan kemanusiaan mengangkat jangkar serempak dari Albatros Marina, Pelabuhan Albatros, Marmaris, Turki .
Armada ini mengangkut ratusan aktivis dan tenaga medis dari 45 negara, termasuk 9 Warga Negara Indonesia (WNI). Mereka membawa obat-obatan, logistik, dan perlengkapan medis untuk warga Gaza yang sejak lama menghadapi blokade ketat .
•Sabtu, 16 Mei 2026: Persinggahan Teknis
Armada melakukan dua kali persinggahan teknis untuk menangani kebutuhan mendesak di kapal, seperti perbaikan perangkat Starlink, mesin kapal, dan sistem rigging atau penyangga layar .
•Minggu, 17 Mei 2026: Pelayaran Dilanjutkan
Setelah dua hari tertahan akibat angin kencang dan ombak tinggi, seluruh kapal berkumpul dan berangkat serempak dari Teluk Andrasa, Antalya, Turki sekitar pukul 09.05 waktu setempat .
•Senin, 18 Mei 2026: Pencegatan oleh Militer Israel
Pagi hari, armada tiba di perairan Siprus, sekitar 300 mil laut dari Gaza. Panitia GSF melaporkan adanya pergerakan kapal-kapal mencurigakan di sekitar armada .
Sekitar pukul 11.00 waktu Turki, pasukan Israel mulai melakukan intersepsi di perairan Siprus, sekitar 200-250 mil laut dari Gaza .
Jurnalis Republika, Bambang Noroyono, yang berada di Kapal Boralize, mengirimkan video terakhir yang menunjukkan kapal tempur Israel mendekat. Ia kemudian mengirimkan video SOS sesuai protokol menjelang kemungkinan intersepsi dan hilang kontak .
Proses Pencegatan:
· Kapal-kapal militer Israel mengepung armada dan memerintahkan seluruh kapal untuk mematikan mesin .
· Pasukan komando Israel menaiki kapal-kapal tersebut secara paksa .
· Siaran langsung dari dalam kapal tiba-tiba terputus saat pasukan Israel naik .
· Para aktivis terlihat mengenakan rompi pelampung dan mengangkat tangan saat pasukan bersenjata lengkap mendekat .
Hingga malam hari, 17 kapal dikonfirmasi telah dicegat, termasuk lima kapal yang membawa delegasi Indonesia: Kapal Josef, Osgurluk, Zapyro, Kasr-1, dan BorAlize .
Nasib Warga Negara Indonesia (WNI)
Dari 9 WNI yang tergabung dalam misi, 5 orang dikonfirmasi telah ditangkap atau "diculik" oleh militer Israel :
1.Bambang Noroyono (Abeng) Jurnalis Republika (BorAlize)
2.Thoudy Badai Jurnalis Republika (Ozgurluk)
3. Andre Nugroho Jurnalis Tempo (Ozgurluk)
4.Rahendra Herubowo Jurnalis iNewsTV (Ozgurluk)
5.Andi Angga Prasadewa Delegasi Rumah Zakat (Josef)
Empat delegasi lainnya masih dalam pelayaran hingga Senin malam: Herman Budianto dan Ronggo Wirasanu (Dompet Dhuafa) di Kapal Zapyro, serta Asad Aras Muhammad dan Hendro Prasetyo di Kapal Kasr-1 .
Video SOS dari Jurnalis Republika
Sebelum komunikasi terputus, Bambang Noroyono sempat mengirimkan video yang meminta pertolongan kepada pemerintah Indonesia.
"Saya Bambang Daryono alias Abeng. Saya warga Indonesia. Saya adalah partisipan pelayaran misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2026," ujar Abeng sambil menunjukkan paspornya dalam video yang diunggah Republika .
"Jika Anda menemukan video ini mohon disampaikan kepada Pemerintah Republik Indonesia bahwa saya saat ini dalam penculikan tentara Zionis Israel. Saya mohon agar pemerintah Republik Indonesia membebaskan saya dari penculikan tentara penjajah Zionis Israel," tambahnya .
Reaksi dan Kecaman Internasional
Pemerintah Indonesia
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengecam keras tindakan militer Israel yang mencegat kapal misi kemanusiaan di perairan internasional.
"Kementerian Luar Negeri mengecam keras tindakan Militer Israel yang telah mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur," kata Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang .
Kemlu mendesak Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan sesuai hukum humaniter internasional .
Pemerintah juga telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman untuk memastikan keselamatan WNI dan mempersiapkan proses pemulangan .
Turki
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam keras tindakan Israel dan menyebutnya sebagai "pembajakan dan bandit" (piracy and banditry).
"Serangan Israel terhadap misi bantuan tidak akan menghentikan solidaritas global dengan Palestina atau upaya mencari keadilan," kata Erdogan dalam pidatonya setelah rapat kabinet mingguan di Ankara .
Pihak Penyelenggara (Global Sumud Flotilla)
Koalisi Global Sumud Flotilla menyatakan armada mereka "diserang" dan dicegat secara ilegal dengan kekerasan di perairan internasional.
"Pendudukan Israel sekali lagi secara ilegal dan dengan kekerasan mencegat armada internasional kapal kemanusiaan kami dan menculik para sukarelawan kami," tulis kelompok itu di media sosial .
"Kami marah atas normalisasi pelanggaran hukum maritim internasional ini dan penculikan warga sipil yang damai di perairan internasional," lanjut mereka, menuntut pembebasan segera para aktivis .
Media dan Lembaga Pers
Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, mengecam keras tindakan intersepsi yang dilakukan militer Israel.
"Tindakan ini pelanggaran serius terhadap hukum internasional, prinsip kemanusiaan universal, serta kebebasan sipil warga dunia yang membawa bantuan bagi rakyat Palestina di Gaza," tegasnya
Latar Belakang: Bukan Insiden Pertama
Pencegatan ini merupakan yang kedua kalinya dalam waktu kurang dari sebulan. Pada 30 April 2026, pasukan Israel juga mencegat sekitar 20 kapal dari armada yang sama di dekat Pulau Kreta, Yunani selatan, dan menahan 175 aktivis .
Para aktivis dari insiden sebelumnya melaporkan bahwa mereka dianiaya, dilecehkan, dan dipukul oleh pasukan Israel selama penahanan .
Israel memberlakukan blokade laut terhadap Jalur Gaza sejak musim panas 2007. Sementara itu, kondisi kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Menurut otoritas kesehatan Gaza, setidaknya 72.763 orang telah tewas akibat serangan Israel sejak Oktober 2023 dan 172.664 lainnya terluka .
Situasi Terkini
Hingga berita ini diturunkan, kapal-kapal yang dicegat dilaporkan sedang dibawa ke Pelabuhan Ashdod, pelabuhan terbesar Israel . Nasib para aktivis, termasuk 5 WNI yang ditangkap, masih menunggu perkembangan lebih lanjut.
Kementerian Luar Negeri RI menyatakan akan terus memantau kondisi WNI dan berupaya memfasilitasi perlindungan serta percepatan proses pemulangan .
(berbagai sumber)
