Editor: Damar Pratama
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti (duduk tengah) saat meresmikan Sekolah Bakti Mulya 400 di Depok, Jawa
Barat, Jumat (23/5/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID; DEPOK – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyatakan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan sekolah swasta dalam memperkuat kualitas pendidikan nasional. Hal tersebut disampaikannya saat meresmikan Sekolah Bakti Mulya 400 di Depok, Jawa Barat, Jumat (23/5/2026).
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menilai pendidikan bermutu tidak hanya diukur dari fasilitas megah atau capaian akademik semata, melainkan juga kemampuan sekolah dalam membentuk karakter, integritas, dan kepedulian kebangsaan peserta didik.
“Realitas pendidikan di Indonesia ini memang ada sekolah yang megah, ada sekolah yang muridnya banyak, tetapi ada juga beberapa sekolah yang pendaftarnya satu,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurut Abdul Mu'ti, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pemerataan mutu pendidikan masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Karena itu, dibutuhkan kerja sama semua pihak, termasuk sekolah swasta, untuk memperluas akses pendidikan berkualitas.
Abdul Mu'ti menekankan bahwa sekolah swasta bukan pesaing pemerintah, melainkan mitra strategis dalam membangun ekosistem pendidikan nasional. “Saya sering mengatakan jika sekolah swasta adalah mitra pemerintah,” tegasnya.
Abdul Mu’ti menjelaskan semangat kolaborasi tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang menjamin setiap warga negara memperoleh hak pendidikan bermutu tanpa memandang latar belakang sekolah.
Mendikdasmen juga menekankan bahwa kualitas pendidikan harus hadir di semua sekolah, baik sekolah unggulan maupun sekolah dengan fasilitas sederhana.
“Apakah sekolah itu sekolah elite atau sekolah yang sederhana, semuanya haruslah sekolah yang bermutu dan sekolah yang memiliki kualitas,” kata Abdul Mu'ti.
Selain aspek akademik, pemerintah kini mendorong pendidikan berbasis karakter sebagai fondasi penting dalam membentuk generasi masa depan Indonesia. Menurut Abdul Mu’ti, pendidikan tidak boleh hanya fokus mencetak siswa pintar secara teori, tetapi juga harus membangun integritas, nasionalisme, dan kepedulian sosial.
“Pendidikan tidak hanya proses untuk mendidik anak-anak bangsa ini pandai mengerjakan soal atau keterampilan teknokratik, tapi juga harus membentuk integritas, nasionalisme, dan komitmen untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara,” ujar Abdul Mu'ti.
Dalam arah kebijakan pendidikan nasional, pemerintah saat ini terus memperkuat revitalisasi sarana pendidikan, digitalisasi sekolah, hingga peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru sebagai bagian dari upaya pemerataan mutu pendidikan.
Pada kesempatan yang sama, CEO Bakti Mulya 400, Sutrisno Muslimin, menyampaikan bahwa sekolah yang dipimpinnya dibangun dengan visi membentuk generasi religius, nasionalis, dan internasionalis.
“Ada tiga capaian besar BM 400 yaitu membentuk generasi religius, nasionalis, dan internasionalis,” ujar Sutrisno.
Sutrisno menjelaskan nilai religius diwujudkan melalui pembentukan karakter seperti kejujuran, disiplin, empati, dan integritas dalam kehidupan sehari-hari siswa. Sementara nasionalisme ditanamkan agar peserta didik memiliki kesadaran untuk mencintai dan berkontribusi bagi Indonesia.
Di sisi lain, konsep internasionalis menurutnya bukan berarti kehilangan identitas bangsa, tetapi kesiapan menjadi warga global yang tetap berakar pada budaya Indonesia.
“Internasionalis bukan berarti kebarat-baratan tetapi kesiapan untuk menjadi warga dunia tanpa kehilangan jati diri,” jelas Sutrisno.
Peresmian Sekolah Bakti Mulya 400 Depok sekaligus menjadi simbol penting bahwa penguatan pendidikan nasional membutuhkan sinergi pemerintah, sekolah swasta, guru, hingga masyarakat demi menciptakan generasi unggul menuju Indonesia yang kuat dan bermartabat.
(Sumber: Humas Kemendikdasmen)