Rupiah Melemah, Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat? Ini Saran Pakar Keuangan dan Ekonom

Masyarakat bisa menyiasati naiknya dolar AS dengan beberapa cara, antara lain adalah dengan membeli produk-produk lokal. (Foto: istimewa) 

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian publik. Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah terus mengalami tekanan hingga sempat menyentuh level sekitar Rp17.600 per dolar AS.

Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat karena pelemahan rupiah biasanya berdampak pada kenaikan harga barang impor, biaya transportasi, hingga harga kebutuhan pokok.

Pengamat ekonomi Universitas Pasundan Bandung, Acuviarta Kartabi mengatakan pelemahan rupiah terjadi karena meningkatnya permintaan dolar AS serta menurunnya kepercayaan investor asing terhadap pasar negara berkembang. Pernyataan itu dikutip dari Kompas.com pada Minggu (17/5/2026). 

Menurut Acuviarta, kondisi ini tidak bisa dianggap sepele karena dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.

“Rupiah melemah karena permintaan dollar meningkat cukup drastis,” ujarnya. 

Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira pada Januari 2026 lalu mengingatkan bahwa pelemahan rupiah berpotensi memicu imported inflation atau inflasi akibat naiknya harga barang impor.

“Kalau rupiah dibiarkan terus melemah, harga pangan naik dan menyebabkan imported inflation,” kata Bhima. 

Lalu, apa yang bisa dilakukan masyarakat agar kondisi keuangan tetap aman di tengah pelemahan rupiah?

Kurangi Belanja yang Tidak Mendesak

Financial planner Prita Hapsari Ghozie mengingatkan masyarakat agar mulai mengatur ulang prioritas pengeluaran ketika kondisi ekonomi sedang tidak stabil.

Menurut Prita, masyarakat sebaiknya menunda pembelian barang konsumtif yang tidak terlalu penting, terutama produk impor yang harganya rentan naik ketika rupiah melemah.

Prita menyampaikan hal tersebut dalam berbagai edukasi finansial dan seminar literasi keuangan yang ia unggah melalui platform edukasi keuangannya, zapfinance.co.id⁠. 

Ia menilai menjaga arus kas rumah tangga jauh lebih penting dibanding mengikuti gaya hidup konsumtif di tengah ketidakpastian ekonomi.

Perkuat Dana Darurat

Prita juga menekankan pentingnya dana darurat. Menurutnya, masyarakat idealnya memiliki simpanan minimal tiga sampai enam bulan biaya hidup.

Dana darurat diperlukan untuk menghadapi kemungkinan kenaikan harga kebutuhan pokok maupun situasi tak terduga lainnya.

Langkah ini dinilai penting terutama bagi pekerja informal dan masyarakat dengan penghasilan yang belum stabil.

Hindari Utang Konsumtif

Selain itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati menggunakan kartu kredit maupun layanan paylater.

Saat ekonomi sedang bergejolak, cicilan berbunga tinggi dapat menjadi beban besar bagi keuangan keluarga.

Karena itu, financial planner menyarankan masyarakat fokus melunasi utang konsumtif terlebih dahulu dibanding menambah cicilan baru.

Mulai Diversifikasi Investasi

Pakar keuangan juga menyarankan masyarakat tidak menyimpan seluruh dana hanya dalam satu instrumen.

Emas, deposito, reksa dana pasar uang, maupun surat berharga negara dinilai bisa menjadi pilihan untuk membantu menjaga nilai aset saat rupiah melemah. 

Namun masyarakat diingatkan agar tidak ikut panik memborong dolar AS secara berlebihan karena justru dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah.

Gunakan Produk Lokal dan Hemat Energi

Acuviarta Kartabi juga menyarankan masyarakat mulai mengurangi konsumsi produk impor dan lebih memilih produk lokal.

Menurut dia, langkah sederhana seperti menggunakan transportasi umum dan mengurangi konsumsi BBM juga dapat membantu mengurangi tekanan impor energi nasional.

Cari Sumber Penghasilan Tambahan

Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak pasti, masyarakat juga dianjurkan memiliki sumber pendapatan tambahan.

Pekerjaan freelance, usaha kecil berbasis digital, hingga monetisasi keterampilan dinilai bisa membantu menjaga kestabilan keuangan rumah tangga.

Para pakar menilai masyarakat tidak perlu panik berlebihan menghadapi pelemahan rupiah. Yang terpenting adalah menjaga pengeluaran tetap terkendali, memiliki dana darurat, serta mengelola investasi secara bijak.

Bank Indonesia sendiri terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah agar tidak mengalami pelemahan lebih dalam. 

(berbagai sumber)