![]() |
| Rupiah memang tak melemah sendirian, tapi Indonesia harus waspada terkait menguatnya dolar AS. (Foto: freepik) |
GEBRAK.ID; JAKARTA--Nilai tukar rupiah terus menjadi sorotan setelah beberapa pekan terakhir tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan pada perdagangan Mei 2026, rupiah sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di kisaran Rp17.600 per dolar AS.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik: apakah hanya rupiah yang “babak belur”, atau mata uang negara Asia Tenggara lain juga mengalami tekanan serupa?
Berdasarkan data pasar keuangan regional dan laporan sejumlah lembaga internasional, tekanan terhadap mata uang ternyata tidak hanya dialami Indonesia. Mayoritas mata uang Asia juga ikut melemah akibat penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik Timur Tengah, hingga tingginya harga minyak dunia. Namun, tingkat pelemahannya berbeda-beda di tiap negara.
Rupiah Jadi Salah Satu yang Paling Tertekan
Reuters melaporkan rupiah menjadi salah satu mata uang Asia dengan performa terburuk tahun ini. Pelemahan dipicu keluarnya modal asing dari pasar negara berkembang, tingginya suku bunga AS, serta kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal domestik.
Pada Senin (18/5/2026), rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.668 per dolar AS sebelum Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi pasar.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor global, terutama perang di Timur Tengah dan tingginya suku bunga The Fed di Amerika Serikat.
Bagaimana Kondisi Mata Uang Asia Tenggara Lain?
Meski rupiah paling banyak disorot, sejumlah mata uang Asia Tenggara sebenarnya juga ikut melemah terhadap dolar AS.
1. Baht Thailand
Baht Thailand ikut mengalami tekanan dan sempat menjadi mata uang Asia dengan pelemahan harian terdalam. Faktor utama berasal dari perlambatan sektor pariwisata dan meningkatnya kekhawatiran ekonomi global.
2. Peso Filipina
Peso Filipina juga melemah akibat tingginya kebutuhan impor dan tekanan harga energi dunia. Sebagai negara pengimpor minyak, Filipina cukup rentan ketika harga minyak global naik. �m
3. Ringgit Malaysia
Berbeda dengan rupiah, ringgit Malaysia relatif lebih stabil bahkan cenderung lebih kuat dibanding beberapa mata uang Asia lain. Hal ini didukung posisi Malaysia sebagai eksportir energi sehingga diuntungkan ketika harga minyak dunia naik.
4. Dolar Singapura
Dolar Singapura termasuk mata uang yang paling stabil di Asia Tenggara. Investor global masih menganggap Singapura sebagai “safe haven” atau tempat investasi yang lebih aman saat kondisi global bergejolak.
5. Dong Vietnam
Dong Vietnam relatif terkendali meski tetap berada dalam tekanan. Stabilitas ekspor manufaktur dan arus investasi asing membantu menjaga mata uang Vietnam tidak jatuh terlalu dalam.
Kenapa Dolar AS Sangat Kuat?
Penguatan dolar AS saat ini dipicu beberapa faktor besar, di antaranya:
• Suku bunga AS masih tinggi
• Investor global memburu aset aman berbasis dolar
• Konflik geopolitik Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian pasar
• Harga minyak dunia melonjak
• Arus modal keluar dari negara berkembang
Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk di Asia Tenggara, mengalami tekanan secara bersamaan.
Ekonom: Rupiah tidak Sendirian, tapi Indonesia Harus Waspada
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Mohammad Nur Rianto Al Arif menilai pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan pasar uang, tetapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat karena harga barang impor dan kebutuhan produksi bisa ikut naik.
Sementara itu, pengamat ekonomi menilai Indonesia perlu menjaga kepercayaan investor agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam. Sebab, dibanding Singapura atau Malaysia, Indonesia masih lebih sensitif terhadap arus keluar modal asing.
Pemerintah dan BI Mulai Bergerak
Pemerintah dan Bank Indonesia mulai melakukan sejumlah langkah untuk menahan pelemahan rupiah, antara lain:
• Intervensi pasar valuta asing
• Pengetatan aturan pembelian dolar
• Menjaga suku bunga
• Menarik aliran modal asing masuk ke Indonesia
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi dinamika global dan meningkatnya permintaan dolar AS di pasar internasional.
Meski begitu, analis menilai tekanan terhadap rupiah masih bisa berlanjut jika konflik geopolitik dan penguatan dolar AS belum mereda.
Pelemahan rupiah memang cukup dalam dibanding sebagian mata uang Asia Tenggara lain. Namun, kondisi ini sebenarnya terjadi hampir di seluruh kawasan Asia akibat kuatnya dolar AS dan ketidakpastian global.
Bedanya, negara seperti Singapura dan Malaysia masih memiliki bantalan ekonomi yang lebih kuat sehingga mata uangnya relatif stabil. Sementara Indonesia, Thailand, dan Filipina lebih rentan karena ketergantungan terhadap impor energi dan arus modal asing.
(berbagai sumber)
