Macet dan Cuaca Panas Jadi Musuh Baterai Mobil Hybrid dan EV, Teknisi Ungkap Cara Mencegah Kerusakan

Kemacetan lalu lintas dan suhu udara yang tinggi disebut menjadi dua tantangan utama bagi usia pakai baterai mobil hybrid maupun kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia ( Foto: istimewa) 




Editor: Dinar Kencana


GEBRAK.ID; JAKARTA--Kemacetan lalu lintas dan suhu udara yang tinggi disebut menjadi dua tantangan utama bagi usia pakai baterai mobil hybrid maupun kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia. Kondisi tersebut membuat sistem baterai bekerja lebih keras dibandingkan di negara dengan iklim yang lebih sejuk dan lalu lintas yang lebih lancar. 

Kepala Teknisi Domo Hybrid EV, Yogig Pramono, mengatakan bahwa karakteristik berkendara di Indonesia memang memberikan tekanan tersendiri terhadap performa baterai kendaraan elektrifikasi. 

Dalam keterangannya yang dilansir Kompas Otomotif pada Jumat (6/6/2026), Yogig menjelaskan bahwa lalu lintas padat serta suhu lingkungan yang relatif tinggi sepanjang tahun membuat baterai bekerja dalam kondisi yang berbeda dibandingkan negara asal sebagian besar mobil hybrid dan EV.

 "Lingkungan berkendara di Indonesia memberikan tantangan tersendiri bagi mobil hybrid maupun kendaraan listrik. Lalu lintas yang padat dan suhu udara yang relatif tinggi sepanjang tahun membuat baterai bekerja dalam kondisi yang berbeda dibandingkan negara asal sebagian besar kendaraan tersebut." 

Menurut Yogig, ketika kendaraan sering terjebak kemacetan, sistem baterai akan mengalami siklus pengisian dan pengosongan daya yang lebih sering. Di saat bersamaan, temperatur baterai juga meningkat akibat penggunaan motor listrik dan kondisi cuaca panas. Suhu Tinggi Mempercepat Degradasi Baterai Secara teknis, suhu yang tinggi merupakan salah satu faktor yang dapat mempercepat penurunan kualitas atau degradasi baterai lithium-ion. 

Berbagai penelitian mengenai sistem manajemen baterai kendaraan listrik menunjukkan bahwa temperatur yang tinggi dapat mempercepat proses penuaan sel baterai sehingga kapasitas penyimpanan energinya berkurang lebih cepat. 

Karena itu, sistem pendingin baterai menjadi komponen penting pada mobil hybrid dan EV modern. Sistem tersebut bekerja menjaga suhu baterai tetap berada pada rentang ideal agar performa dan umur pakainya tetap optimal. 

Pengguna Disarankan Tidak Mengabaikan Perawatan

Yogig mengingatkan bahwa pemilik kendaraan elektrifikasi perlu memperhatikan kondisi baterai secara berkala. Pemeriksaan rutin terhadap sistem pendingin, kondisi kipas, filter, hingga perangkat pendukung lainnya dapat membantu menjaga suhu baterai tetap stabil. 

Selain itu, beberapa kebiasaan sederhana juga dapat membantu memperpanjang usia baterai, antara lain: Menghindari parkir terlalu lama di bawah sinar matahari langsung. Melakukan servis berkala sesuai rekomendasi pabrikan. Menjaga kebersihan saluran pendingin baterai. Menggunakan kendaraan secara normal tanpa memaksakan akselerasi berulang saat kondisi lalu lintas macet. 

Kondisi Indonesia Menjadi Tantangan Tersendiri 

Indonesia memiliki iklim tropis dengan temperatur harian yang relatif tinggi serta tingkat kemacetan yang cukup padat di berbagai kota besar. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat sistem manajemen baterai bekerja lebih aktif untuk menjaga suhu operasional tetap ideal. 

Meski demikian, hal tersebut bukan berarti mobil hybrid maupun EV tidak cocok digunakan di Indonesia. Dengan teknologi pendinginan yang baik serta perawatan yang benar, performa baterai tetap dapat dipertahankan dalam jangka panjang. 

Para ahli menilai bahwa pemahaman pengguna mengenai cara merawat baterai menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga efisiensi kendaraan sekaligus memaksimalkan umur pakai komponen yang menjadi jantung mobil elektrifikasi tersebut.

(berbagai sumber)