Editor: Devona R
Tren wisata alam dan pendakian gunung terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. (Foto ilustrasi: Pixabay)
GEBRAK.ID; JAKARTA – Tren wisata alam dan pendakian gunung terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun di balik keindahan panorama yang ditawarkan, aktivitas mendaki tetap menyimpan risiko yang tidak boleh dianggap remeh, terutama ketika dilakukan di kawasan gunung berapi aktif.
Karena itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI mengingatkan wisatawan dan pendaki agar membekali diri dengan pengetahuan, persiapan fisik, serta informasi terkini sebelum memulai perjalanan menuju puncak.
Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Jumat (5/6/2026), Kemenpar menegaskan bahwa langkah pertama yang wajib dilakukan calon pendaki adalah memastikan status aktivitas gunung yang akan didaki.
Cek Status Gunung Sebelum Berangkat
Kementerian menjelaskan, informasi aktivitas gunung berapi dapat dipantau melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dikelola oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat mengetahui status terkini gunung api, mulai dari normal hingga level yang berpotensi membahayakan keselamatan pendaki.
Jika status gunung dinyatakan tidak aman untuk aktivitas pendakian, wisatawan diminta menunda atau bahkan membatalkan rencana perjalanan demi menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Pahami Zona Aman dan Zona Berbahaya
Selain memantau status gunung, pendaki juga harus memahami batas-batas zona aman yang telah ditetapkan oleh otoritas terkait.
Kemenpar mengingatkan bahwa setiap gunung berapi memiliki karakteristik berbeda, termasuk radius bahaya yang sewaktu-waktu dapat berubah mengikuti aktivitas vulkanik.
Karena itu, pendaki dianjurkan menggunakan jasa pemandu lokal bersertifikat yang memahami kondisi medan sekaligus perkembangan aktivitas gunung.
"Pastikan untuk menghubungi pemandu lokal bersertifikat yang telah dibekali kemampuan untuk mengetahui secara persis titik-titik mana yang aman dan kapan harus tahu membatalkan pendakian," ujar Kementerian Pariwisata.
Kondisi Fisik dan Peralatan tak Boleh Diabaikan
Persiapan fisik juga menjadi faktor penting sebelum melakukan pendakian. Aktivitas mendaki membutuhkan stamina yang prima karena jalur yang ditempuh sering kali menantang dan menguras tenaga.
Selain menjaga kondisi tubuh, pendaki wajib membawa perlengkapan yang sesuai, mulai dari tas carrier, sepatu gunung, jaket pelindung, perlengkapan navigasi, hingga logistik yang memadai.
Kemenpar juga secara khusus mengingatkan pentingnya membawa masker respirator saat mendaki gunung berapi aktif. Peralatan tersebut berguna untuk melindungi saluran pernapasan apabila terjadi paparan abu vulkanik atau gas beracun.
Jangan Langgar Aturan demi Ambisi ke Puncak
Dalam pesannya, Kementerian Pariwisata menegaskan bahwa keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama dibanding ambisi mencapai puncak gunung.
Pendaki diminta mematuhi seluruh aturan yang ditetapkan PVMBG maupun pengelola kawasan konservasi dan jalur pendakian. Instruksi petugas di lapangan juga harus dipatuhi tanpa pengecualian.
Kondisi cuaca buruk, aktivitas vulkanik yang meningkat, atau berbagai faktor lain dapat menjadi alasan untuk menghentikan pendakian. Dalam situasi seperti itu, pendaki tidak disarankan memaksakan diri demi mencapai target perjalanan.
"Menjadi pendaki yang hebat bukan berarti berani mati, tapi tahu kapan harus berhenti demi keselamatan diri dan orang lain," tegas Kementerian Pariwisata.
Peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa pendakian bukan hanya soal menaklukkan ketinggian, tetapi juga tentang memahami risiko, menghormati alam, dan mengutamakan keselamatan selama perjalanan.
(Sumber: Kementerian Pariwisata)