![]() |
| Gus Hery Haryanto Azumi. (Foto: Dok.GKB-NU) |
GEBRAK.ID, JAKARTA -- Dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mulai menghangat. Polling daring yang digelar NU Online lewat saluran WhatsApp (WA) sejak 22 Juli 2026 menunjukkan nama Gus Hery Haryanto Azumi berada di posisi teratas dalam dukungan publik.
Gus Hery mengungguli sejumlah figur lain yang disebut-sebut berpeluang maju dalam bursa Calon Ketua Umum (Caketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Figur-figur lain itu adalah KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH. Zulfa Mustofa, KH. Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH. Nasaruddin Umar, KH. Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam), dan KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).
Hasil polling hingga Jumat (24/7/2026) malam atau memasuki hari ketiga pelaksanaan itu dinilai menjadi sinyal positif atas besarnya perhatian warga Nahdliyin terhadap sosok dan gagasan yang berkembang menjelang Muktamar NU yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Agustus 2026.
Meski demikian, hasil polling tersebut tidak serta-merta menjadi gambaran hasil pemilihan Ketua Umum PBNU. Sebab, mekanisme penentuan kepemimpinan organisasi tetap berada di tangan para muktamirin yang berasal dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) sesuai tradisi serta konstitusi organisasi.
Kendati begitu, polling yang dilakukan media resmi milik Nahdlatul Ulama tersebut dipandang dapat menjadi salah satu indikator untuk membaca aspirasi dan antusiasme publik Nahdliyin terhadap figur maupun arah kepemimpinan NU di masa mendatang.
Menanggapi hasil polling tersebut, Gus Hery Haryanto Azumi mengaku menyambutnya secara positif. Menurutnya, survei maupun polling merupakan salah satu instrumen untuk melihat aspirasi publik, namun bukan penentu legitimasi kepemimpinan.
"Polling apa pun hasilnya, saya memandangnya secara positif sebagai salah satu instrumen untuk mendukung ikhtiar memenangkan hati dan pikiran para pemilik suara. Tetapi yang jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana kita bersama-sama memenangkan gagasan besar Nahdlatul Ulama untuk abad keduanya," ujar Gus Hery.
Gus Hery menegaskan bahwa popularitas dan legitimasi organisasi merupakan dua hal yang berbeda. Survei daring setidaknya dapat mencerminkan antusiasme dan perhatian publik Nahdliyin.
"Terlebih polling ini dilakukan oleh media resmi milik NU sehingga menarik dibaca sebagai salah satu potret aspirasi warga Nahdliyin. Namun legitimasi kepemimpinan organisasi tetap lahir dari mekanisme Muktamar dan pertimbangan para muktamirin sesuai tradisi, konstitusi, dan aturan jam'iyyah yang kita hormati bersama," kata Gus Hery.
Karena itu, Gus Hery berharap dinamika menjelang Muktamar tidak sekadar menjadi ajang adu popularitas, melainkan kompetisi menghadirkan gagasan terbaik bagi masa depan NU.
"Saya berharap hasil polling ini tidak dibaca sebagai klaim kemenangan siapa pun. Justru sebaliknya, ia harus menjadi masukan yang sangat berharga untuk memperkaya pembahasan mengenai tantangan dan masa depan Nahdlatul Ulama. Yang kita perlukan hari ini bukan sekadar kompetisi popularitas, tetapi musabaqah fil afkar atau perlombaan menghadirkan gagasan terbaik untuk NU abad kedua," jelas Gus Hery.
Menurut Gus Hery, Muktamar NU ke-35 memiliki arti penting karena menjadi momen pertama organisasi tersebut memasuki abad keduanya. Abad pertama NU adalah abad membangun kebesaran organisasi.
"Sedangkan abad kedua NU harus menjadi abad membangun kebesaran peradaban. Karena itu, pendekatan yang menempatkan gagasan, kemaslahatan jam'iyyah, dan kualitas kepemimpinan di atas klaim popularitas akan jauh lebih sejalan dengan semangat musyawarah yang diwariskan para muassis Nahdlatul Ulama," tegas Gus Hery.
Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU), Dr. Eng. M. Kozin, menilai tingginya dukungan terhadap Gus Hery menjadi energi positif bagi proses regenerasi kepemimpinan di tubuh NU.
"Saya mengenal Gus Hery sebagai salah satu intelektual andalan ISNU yang mempunyai kiprah panjang dalam pergerakan umat dan kaderisasi Nahdliyin. Beliau adalah tokoh muda NU yang mempunyai kapasitas kepemimpinan, visi kebangsaan, dan jejaring intelektual yang sangat baik. Yang paling penting, Gus Hery hadir membawa optimisme tentang regenerasi kepemimpinan NU pada abad keduanya," kata Kozin.
Menurut Kozin, NU membutuhkan pemimpin yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas sekaligus memiliki visi besar menuju Indonesia Emas 2045. NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara pesantren dan dunia global, antara kebesaran masa lalu dan tantangan masa depan.
"Saya melihat Gus Hery memiliki kapasitas dan rekam jejak yang sangat baik untuk memainkan peran tersebut," cetus Kozin.
Kozin menambahkan, regenerasi merupakan bagian dari proses alami organisasi besar. Menurutnya, Muktamar bukan hanya memilih Ketua Umum PBNU untuk lima tahun ke depan, tetapi juga menentukan arah perjalanan Nahdlatul Ulama memasuki abad keduanya.
Karena itu, hasil polling NU Online dinilai dapat menjadi referensi untuk membaca aspirasi publik Nahdliyin. Namun keputusan akhir tetap berada di tangan para muktamirin melalui mekanisme Muktamar yang menjunjung tinggi musyawarah, persatuan, dan kemaslahatan jam'iyyah. (*)
Daftar Hasil Polling Bursa Calon Ketua Umum PBNU di Saluran WA NU Online
(hingga Jumat malam, 24 Juli 2026)
| No | Nama Calon Ketua Umum PBNU | Jumlah Dukungan |
|---|---|---|
| 1 | Gus Hery Haryanto Azumi | 1.700 |
| 2 | KH. Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) | 1.200 |
| 3 | KH. Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) | 762 |
| 4 | KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) | 353 |
| 5 | KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam) | 265 |
| 6 | KH. Zulfa Mustofa | 195 |
| 7 | KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) | 181 |
| 8 | KH. Nasaruddin Umar | 119 |
Keterangan:
Data merupakan hasil polling Bursa Calon Ketua Umum PBNU di saluran WhatsApp NU Online menjelang Muktamar ke-35 NU. Hasil polling bersifat aspiratif dan bukan hasil resmi pemilihan Ketua Umum PBNU.
