Jabar Resmi Miliki Pabrik Alat Berat Elektrik Pertama di Indonesia, KDM: Angin Segar Industri Manufaktur

 

Jabar resmi bangun pabrik alat berat elektrik pertama di Indonesia di Karawang. Investasi Rp5,2 triliun dari LiuGong, target operasi 2027. ( Foto: instagram) 

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID,Karawang - Provinsi Jawa Barat resmi mencatatkan sejarah baru di sektor industri manufaktur nasional dengan dimulainya pembangunan pabrik alat berat bertenaga listrik pertama di Indonesia. Pabrik yang dibangun oleh produsen alat berat asal China, LiuGong Machinery Manufacturing Indonesia (LMMI), di Kawasan Industri Karawang Artha Industrial Hill (KAIH) ini diharapkan menjadi katalis bagi percepatan pembangunan infrastruktur dan transformasi ekonomi hijau di tanah air.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menyebut kehadiran pabrik ini sebagai angin segar bagi industri manufaktur di Jawa Barat hingga tingkat nasional. Menurutnya, ketersediaan alat berat merupakan kebutuhan mendasar dalam mengakselerasi pembangunan infrastruktur, mulai dari akses jalan, gedung, saluran air, hingga fasilitas publik lainnya.

"Alat berat adalah kebutuhan mendasar dalam pembangunan infrastruktur. Jika diproduksi di dalam negeri, biayanya akan jauh lebih kompetitif dibandingkan dengan produk impor. Kami berharap regulasi dapat mendukung agar industri dapat mendistribusikan langsung kepada konsumen tanpa perantara yang panjang, sehingga harganya lebih terjangkau," ujar KDM dalam keterangan tertulis, Senin (27/7/2026). 

Investasi Rp5,2 Triliun dan Target Operasi 2027

Proyek ambisius ini merupakan bagian dari Indonesia Green Smart Industrial Park dengan nilai investasi mencapai US$317 juta atau setara Rp5,2 triliun. Fasilitas yang ditargetkan beroperasi pada paruh pertama 2027 ini akan menjadi basis produksi LiuGong untuk kawasan Asia Pasifik, sekaligus secara bertahap memasok produk ke pasar Amerika Utara dan Eropa. 

Chairman of Guangxi LiuGong Group, Zheng Jin, menyatakan bahwa pembangunan kawasan industri ini merupakan wujud komitmen jangka panjang perusahaan terhadap pasar Indonesia. "Kami akan terus memperdalam kemitraan di Indonesia dan kawasan ASEAN, mendorong inovasi melalui kolaborasi yang terbuka, serta bekerja sama dengan para mitra industri untuk mendukung pembangunan industri yang berkelanjutan dan transformasi hijau di kawasan," ujarnya dalam acara peletakan batu pertama beberapa waktu lalu. 

Fase Pertama Produksi 5.000 Unit per Tahun

Pembangunan pabrik akan dilaksanakan dalam tiga tahap. Pada fase pertama, LiuGong akan membangun lini produksi excavator dan wheel loader elektrik dengan kapasitas hingga 5.000 unit per tahun. Presiden Direktur LiuGong Indonesia, Levi Lin, menjelaskan bahwa seluruh wheel loader yang diproduksi merupakan kendaraan listrik (EV), sedangkan excavator akan terdiri atas versi listrik maupun diesel. 

"Kapasitas produksi tahap pertama ditargetkan 5.000 unit excavator dan 500 unit wheel loader setiap tahun. Dalam 3 tahun ke depan kami akan beralih dari model CKD (completely knocked down) menuju SKD (semi knocked down) sekaligus meningkatkan tingkat kandungan lokal (TKDN)," ungkap Levi. 

Pusat Riset dan Pengembangan Serta Transfer Teknologi

Vice Chairman and President of Guangxi LiuGong Machinery, Luo Guobing, menegaskan bahwa kawasan industri ini dirancang bukan sekadar menjadi fasilitas produksi, melainkan pusat industri hijau dan cerdas yang mengintegrasikan manufaktur, riset, pengembangan teknologi, hingga pengembangan talenta. 

LiuGong akan mendirikan Indonesia Product Application Research and Development (R&D) Center serta bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mendorong transfer teknologi dan mengembangkan talenta lokal. Pabrik ini juga akan mengadopsi teknologi manufaktur pintar seperti Automated Guided Vehicle (AGV), Rail Guided Vehicle (RGV), dan Manufacturing Execution System (MES). 

Dampak Ekonomi dan Ketenagakerjaan

Kehadiran industri ini diproyeksikan memberikan efek berganda jangka panjang bagi perekonomian Jawa Barat. Selain berpotensi meningkatkan pendapatan daerah, penyerapan tenaga kerja dari sektor ini diharapkan mampu menjadi pendorong naiknya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Barat. 

KDM menambahkan bahwa efisiensi harga pengadaan alat berat akan berdampak langsung pada penekanan biaya produksi infrastruktur. Hal tersebut pada gilirannya akan mengefisienkan pengelolaan tata keuangan negara, perusahaan, serta sektor-sektor produksi lainnya. "Peningkatan IPM akan berimplikasi langsung pada kesejahteraan warga yang bermuara pada perputaran roda ekonomi," tegasnya. 

Sebagai bagian dari strategi lokalisasi, LiuGong telah melatih lebih dari 900 siswa sejak mengikuti Program Kerja Sama Sekolah China–Indonesia pada 2023. Saat ini, sebanyak 30 siswa tengah menjalani pelatihan profesional di kantor pusat LiuGong di China sebelum praktik kerja di fasilitas manufaktur Indonesia. 

( berbagai sumber)