Kemendikdasmen Gandeng Kemendukbangga Perkuat Pendidikan Keluarga demi Selamatkan Generasi Z dan Alpha

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN resmi menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat pendidikan keluarga, karakter, serta kesehatan remaja sebagai bekal menuju Indonesia Emas 2045. Penandatanganan nota kesepahaman berlangsung di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (28/7/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID, JAKARTA -- Pemerintah memperkuat langkah membangun generasi muda Indonesia melalui kolaborasi lintas kementerian. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN resmi menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat pendidikan keluarga, karakter, serta kesehatan remaja sebagai bekal menuju Indonesia Emas 2045.

Penandatanganan nota kesepahaman tersebut berlangsung di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, pada Selasa (28/7/2026). Kerja sama ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menghadapi berbagai tantangan yang kini dihadapi generasi muda, mulai dari persoalan kesehatan mental, paparan konten negatif di ruang digital, ketidakpastian masa depan, hingga semakin melemahnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menilai kolaborasi ini memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan generasi penerus bangsa tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman.

"Karena kita semuanya memiliki visi yang sama bahwa masa depan Indonesia ini tergantung dari generasi mudanya, terutama yang sekarang ini sebagai generasi Z dan generasi Alpha. Mereka yang masih belajar di bangku pendidikan," ujar Abdul Mu'ti.

Menurut Abdul Mu'ti, pendidikan tidak lagi cukup hanya berorientasi pada capaian akademik. Sekolah juga harus menjadi ruang yang mampu membangun karakter, memperkuat kesehatan mental, serta menyiapkan peserta didik menghadapi perubahan sosial yang semakin cepat.

Abdul Mu'ti berharap sinergi antara Kemendikdasmen dan Kemendukbangga mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih komprehensif, sehingga siswa di seluruh jenjang pendidikan dasar dan menengah memperoleh pendampingan yang lebih baik, baik dari sekolah maupun keluarga.

Sementara itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga), Wihaji, mengingatkan bahwa persoalan kesehatan mental remaja di Indonesia perlu mendapat perhatian serius. Berdasarkan data yang dipaparkannya, sebanyak 34,9 persen remaja mengalami masalah kesehatan mental, dan dari jumlah tersebut sekitar 50,2 persen telah mengarah pada gangguan kesehatan jiwa.

Melihat kondisi tersebut, Wihaji menegaskan bahwa keluarga menjadi benteng pertama dalam membentuk kualitas sumber daya manusia Indonesia.

"Unit terendah di sebuah negara namanya keluarga, jadi kalau mau memperbaiki negara, ayo perbaiki dari yang paling rendah namanya keluarga. Kalau keluarganya baik-baik saja negara akan baik-baik saja apa pun problemnya," tegas Wihaji.

Melalui kerja sama ini, kedua kementerian berkomitmen menyinergikan berbagai program yang mendukung pembangunan keluarga sekaligus memperkuat pendidikan dasar dan menengah. Harapannya, sekolah dan keluarga dapat berjalan beriringan dalam membentuk generasi yang sehat secara mental, kuat dalam karakter, serta memiliki daya saing untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

(Sumber: Kemendikdasmen)