Membaca Peta Muktamar Ke-35 NU: Regenerasi, Konsensus, dan Siapa yang Berpeluang Memimpin PBNU?

Samsul Muarif, penulis buku "SURAT CINTA UNTUK NU: Menyongsong Muktamar ke-35, Manifesto Nahdlatul Ulama Abad Kedua". (Foto: Dok.Pribadi)
Oleh Samsul Muarif *)

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), ruang publik semakin ramai dipenuhi berbagai prediksi mengenai siapa yang akan memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada periode mendatang. Beragam nama bermunculan, disertai analisis, polling daring, hingga deklarasi dukungan dari sejumlah kelompok.

Namun, satu hal yang perlu dipahami bersama adalah bahwa dinamika Muktamar NU tidak pernah sesederhana kontestasi politik elektoral.

Berbeda dengan pemilihan kepala daerah atau pemilihan presiden yang sangat dipengaruhi opini publik, Muktamar NU memiliki karakter tersendiri. Penentu akhirnya bukan persepsi masyarakat luas, melainkan para pemegang hak suara yang sah, yakni Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), serta unsur-unsur lain sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi.

Karena itu, berbagai pemetaan yang beredar saat ini lebih tepat dipahami sebagai potret dinamika yang sedang berkembang, bukan sebagai prediksi final mengenai hasil Muktamar.

Peta Kandidat Masih Cair

Hingga akhir Juli 2026, belum terlihat satu figur yang benar-benar mendominasi kontestasi Ketua Umum PBNU. Masing-masing kandidat memiliki kekuatan sekaligus tantangan.

Petahana KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, misalnya, memiliki keuntungan karena memimpin struktur organisasi dan telah membangun jaringan selama masa kepemimpinannya. Namun, sebagaimana lazim terjadi dalam organisasi mana pun, posisi sebagai inkumben juga tidak lepas dari evaluasi atas capaian dan kinerja selama satu periode.

Di sisi lain, sejumlah tokoh pesantren membawa kekuatan tradisional melalui jaringan kiai dan basis pesantren yang selama ini menjadi tulang punggung NU. Adapula figur nasional yang memiliki popularitas luas di ruang publik, meski masih menghadapi tantangan untuk mengonversi popularitas tersebut menjadi dukungan konkret dari para muktamirin.

Menariknya, perhatian publik juga mulai mengarah kepada figur-figur regenerasi. Salah satunya adalah Gus Hery Haryanto Azumi yang dalam beberapa waktu terakhir memperoleh peningkatan eksposur media dan aktif melakukan silaturahim dengan para kiai serta pengurus NU di berbagai daerah.

Meski demikian, tingginya perhatian publik maupun hasil polling daring tidak dapat disamakan dengan peta suara resmi Muktamar.

Popularitas Bukan Penentu

Eksposur media memang memiliki peran penting dalam memperkenalkan gagasan, rekam jejak, dan visi seorang kandidat kepada masyarakat. Akan tetapi, dalam tradisi NU, popularitas hanyalah salah satu variabel yang pengaruhnya terbatas.

Pengamatan terhadap dinamika yang berkembang menunjukkan sejumlah nama memperoleh sorotan media yang cukup tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Namun, eksposur tersebut tidak otomatis berbanding lurus dengan hasil pemungutan suara di arena Muktamar.

Hal serupa berlaku terhadap polling daring. Survei semacam itu lebih menggambarkan persepsi pengguna internet dibandingkan preferensi para pemegang hak suara yang sah.

Dengan kata lain, kandidat yang paling banyak diperbincangkan belum tentu menjadi pilihan mayoritas peserta Muktamar.

Dalam sejarah NU, kekuatan organisasi selalu bertumpu pada daerah. Karena itu, dinamika yang berkembang di tingkat PWNU dan PCNU jauh lebih menentukan dibandingkan percakapan yang berlangsung di media sosial.

Secara historis, Jawa Timur tetap menjadi basis paling strategis karena memiliki konsentrasi pesantren terbesar sekaligus jumlah cabang yang sangat berpengaruh. Jawa Tengah juga menempati posisi penting dengan jaringan pesantren yang luas. 

Jawa Barat dan Banten sering menjadi penyeimbang, sementara wilayah luar Jawa kerapkali memainkan peran strategis dalam membentuk konfigurasi akhir melalui proses musyawarah dan koalisi.

Itulah sebabnya hampir semua kandidat aktif bersilaturahim ke berbagai daerah. Langkah tersebut bukan sekadar membangun dukungan, melainkan juga menyerap aspirasi para kiai yang selama ini menjadi penjaga tradisi sekaligus arah perjuangan organisasi.

Lima Faktor Penentu

Apabila dicermati lebih jauh, setidaknya ada lima faktor yang berpotensi menentukan hasil Muktamar.

Pertama, dukungan nyata dari para pemegang hak suara. Kedua, kepercayaan dan restu para kiai pengasuh pesantren yang memiliki pengaruh moral di kalangan nahdliyin. 

Ketiga, kemampuan membangun konsensus lintas wilayah dan lintas kelompok. Keempat, rekam jejak kepemimpinan serta kapasitas menawarkan visi yang relevan bagi NU memasuki abad keduanya. Kelima, dinamika koalisi yang hampir selalu berubah menjelang maupun selama pelaksanaan Muktamar.

Kelima faktor tersebut jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar intensitas pemberitaan ataupun popularitas di media sosial.

Regenerasi Menjadi Isu Strategis

Di luar soal siapa yang akhirnya terpilih, satu isu besar yang mengemuka menjelang Muktamar adalah regenerasi kepemimpinan.

NU kini memasuki abad kedua dengan tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa-masa sebelumnya. Digitalisasi, kecerdasan buatan, geopolitik global, ekonomi syariah, ketahanan pangan, perubahan iklim, hingga diplomasi internasional menuntut kapasitas kepemimpinan yang semakin adaptif.

Karena itu, munculnya figur-figur baru seharusnya dipandang sebagai bagian dari proses regenerasi yang sehat. Tradisi NU sendiri selalu mengajarkan bahwa pergantian kepemimpinan merupakan sunnatullah organisasi. Regenerasi bukan ancaman terhadap tradisi, melainkan mekanisme untuk memastikan nilai-nilai para muassis tetap hidup melalui generasi berikutnya.

Dalam konteks tersebut, Gus Hery Haryanto Azumi tampil sebagai salah satu figur yang secara konsisten mengusung agenda regenerasi. Dalam berbagai forum silaturahim bersama para kiai, pengurus wilayah, maupun pengurus cabang, ia menegaskan bahwa pencalonannya bukan untuk mempertentangkan generasi lama dengan generasi baru, melainkan melanjutkan estafet perjuangan para muassis melalui kepemimpinan yang adaptif terhadap tantangan abad kedua NU.

Narasi tersebut tampaknya memperoleh resonansi yang cukup kuat di ruang publik. Sejumlah analisis menunjukkan Gus Hery mengalami peningkatan perhatian publik serta eksposur media yang cukup tinggi. Bahkan, dalam beberapa polling daring, namanya berada di posisi teratas.

Meski demikian, polling maupun popularitas media bukanlah instrumen resmi untuk mengukur preferensi para pemegang hak suara.

Namun, mengabaikan sepenuhnya sinyal yang muncul dari ruang publik juga kurang tepat. Dalam berbagai kontestasi organisasi modern, perhatian publik seringkali menjadi indikator awal menguatnya harapan terhadap hadirnya alternatif kepemimpinan.

Popularitas memang tidak identik dengan kemenangan. Akan tetapi, ia dapat menjadi modal politik apabila mampu dikonversi menjadi kepercayaan para kiai, dukungan pengurus wilayah dan cabang, serta konsensus di kalangan muktamirin.

Apabila para pemilik hak suara memandang bahwa NU memasuki fase baru yang membutuhkan kombinasi pengalaman organisasi, kapasitas intelektual, jejaring global, serta kemampuan membangun konsensus lintas generasi, maka narasi regenerasi dapat menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan pilihan. 

Muktamar Masih Sangat Terbuka

Melihat keseluruhan dinamika yang berkembang, kontestasi Ketua Umum PBNU masih sangat terbuka. Belum ada satu kandidat yang benar-benar memiliki keunggulan mutlak. Peta dukungan masih cair dan sangat mungkin berubah seiring proses konsolidasi yang terus berlangsung di berbagai daerah.

Pada akhirnya, Muktamar NU bukan sekadar kompetisi antarkandidat. Ia merupakan forum musyawarah yang selama lebih dari satu abad menjadi tradisi dalam menentukan arah perjalanan organisasi.

Dalam forum seperti ini, komunikasi antarkiai, kepercayaan personal, kemampuan membangun persatuan, serta kebijaksanaan membaca aspirasi jam'iyah sering kali jauh lebih menentukan dibandingkan angka-angka yang beredar di ruang publik.

Karena itu, siapa pun yang hari ini tampak unggul belum tentu menjadi pemenang. Sebaliknya, mereka yang terlihat berada di belakang tetap memiliki peluang apabila mampu membangun konsensus menjelang detik-detik terakhir Muktamar.

Di situlah letak keunikan Muktamar NU. Ia bukan sekadar arena kompetisi, melainkan ruang ikhtiar kolektif untuk memilih pemimpin yang diyakini paling mampu membawa jam'iyah memasuki abad kedua dengan tetap berpegang teguh pada tradisi, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman.

Jakarta, 30 Juli 2026

*) Penulis buku "SURAT CINTA UNTUK NU: Menyongsong Muktamar ke-35, Manifesto Nahdlatul Ulama Abad Kedua".