![]() |
| ESDM menghitung harga keekonomian Pertamax. Penurunan harga BBM nonsubsidi berpeluang terjadi jika biaya pokok penyediaan ikut turun. ( Foto: GEBRAK.ID) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax seiring tren pelemahan harga minyak mentah dunia. Saat ini, pemerintah masih menghitung harga keekonomian atau biaya pokok penyediaan (BPP) sebagai dasar untuk menentukan harga jual yang sesuai dengan kondisi pasar.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan pemerintah belum dapat memastikan apakah harga Pertamax akan turun pada periode penyesuaian berikutnya. Menurutnya, keputusan akan diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap komponen pembentuk harga BBM.
"Harga keekonomian masih dihitung. Yang menjadi dasar adalah biaya pokok penyediaan ditambah margin sesuai ketentuan," kata Yuliot, Rabu (29/7).
Menurut Yuliot, harga BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar sehingga dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya distribusi, hingga biaya pengolahan. Karena itu, penurunan harga minyak dunia tidak otomatis langsung diikuti penurunan harga BBM di dalam negeri.
Harga minyak dunia jadi faktor utama
Pemerintah menjelaskan fluktuasi harga minyak global dalam beberapa pekan terakhir dipicu dinamika geopolitik internasional. Ketika harga minyak naik tajam, biaya pengadaan BBM ikut meningkat. Sebaliknya, jika tren penurunan harga bertahan, maka ruang untuk menurunkan harga BBM nonsubsidi akan semakin terbuka.
ESDM memproyeksikan rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) pada Juli 2026 berada di kisaran 67-71 dolar AS per barel. Meski demikian, realisasi harga masih bergantung pada perkembangan pasar energi global dan situasi geopolitik.
Penyesuaian harga dilakukan berkala
Sesuai mekanisme yang berlaku, evaluasi harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala. Pemerintah menghitung biaya pokok penyediaan berdasarkan harga minyak mentah, biaya impor atau pengadaan, kurs rupiah, hingga komponen distribusi sebelum menetapkan harga jual kepada masyarakat.
Sebelumnya, pemerintah juga menegaskan bahwa ketika harga minyak dunia mengalami pelemahan secara konsisten, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax berpotensi mengalami koreksi turun. Namun, terdapat jeda waktu antara perubahan harga minyak dunia dengan penyesuaian harga di SPBU karena proses pengadaan menggunakan harga rata-rata dalam periode tertentu.
Pengamat nilai ruang penurunan semakin besar
Sejumlah pengamat energi menilai peluang penurunan harga Pertamax semakin terbuka apabila tren harga minyak mentah terus melemah hingga akhir Juli. Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyaki bahkan memperkirakan harga Pertamax dapat turun secara bertahap pada paruh kedua 2026 apabila harga minyak tetap stabil dan nilai tukar rupiah tidak mengalami tekanan signifikan.
Meski demikian, pemerintah menegaskan keputusan akhir tetap akan mengacu pada hasil perhitungan harga keekonomian serta mempertimbangkan kondisi fiskal dan stabilitas pasokan energi nasional.
Sampai saat ini, ESDM belum mengumumkan besaran harga baru Pertamax. Hasil evaluasi tersebut diperkirakan akan menjadi dasar penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada awal periode penetapan berikutnya.
( berbagai sumber)
