![]() |
| Menteri Rosan resmikan proyek HPAL Sambalagi di IGIP Morowali. Investasi Rp30T, serap 9.600 tenaga kerja, dan produksi 90.000 ton MHP untuk baterai EV. (Foto: sekneg) |
GEBRAK.ID,MOROWALI-- Pemerintah resmi mengoperasikan proyek strategis pengolahan nikel High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di kawasan Indonesia Green Industrial Park (IGIP), Morowali, Sulawesi Tengah. Proyek ini menandai babak baru hilirisasi mineral Indonesia menuju ekosistem industri baterai kendaraan listrik (EV) global.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, meresmikan proyek yang dikembangkan oleh PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) ini pada Rabu (22/7). BNSI sendiri merupakan perusahaan patungan strategis antara PT Vale Indonesia Tbk, GEM Co. Ltd. dari Tiongkok, dan EcoPro dari Korea Selatan.
Proyek yang digadang-gadang sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) ini menanamkan investasi fantastis mencapai Rp30,1 triliun (USD 1,845 miliar). Fasilitas ini dirancang untuk mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) bahan baku utama katoda baterai kendaraan listrik dengan kapasitas produksi mencapai 90.000 ton kandungan nikel per tahun.
Serapan Tenaga Kerja Masif dan Dampak Ekonomi
Salah satu dampak paling signifikan dari proyek ini adalah penciptaan lapangan kerja yang masif. Rosan menyampaikan bahwa proyek HPAL Sambalagi diproyeksikan akan menyerap sekitar 6.000 tenaga kerja pada masa konstruksi dan 3.600 tenaga kerja pada masa operasional, yang mencakup kegiatan penambangan dan fasilitas pengolahan.
Secara lebih luas, pengembangan kawasan IGIP ini diproyeksikan akan menyerap hingga 88.000 tenaga kerja saat seluruh area beroperasi penuh. Kehadiran proyek ini juga diharapkan memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah melalui pembangunan infrastruktur, fasilitas sosial, dan pemberdayaan usaha lokal.
Teknologi Canggih dan Ramah Lingkungan
Proyek ini memasuki fase penting dengan kedatangan autoclave berkapasitas 1.268 meter kubik, yang diklaim sebagai peralatan utama berkapasitas terbesar yang pernah diterapkan pada proyek HPAL di dunia.
Teknologi terkini ini mampu mengolah bijih nikel laterit dengan kadar sangat rendah (hingga 0,4%), yang sebelumnya tidak bernilai ekonomis. Hal ini memberikan keuntungan strategis dengan memperpanjang umur cadangan nikel Indonesia hingga beberapa dekade mendatang.
Selain itu, fasilitas HPAL Sambalagi dirancang dengan prinsip keberlanjutan melalui pemanfaatan sistem waste heat recovery dan energi surya untuk mendukung operasional rendah karbon, sejalan dengan target Net Zero Emissions (NZE) Indonesia.
Memperkuat Rantai Pasok Baterai Global
Rosan menegaskan bahwa pembangunan HPAL Sambalagi menjadi bagian dari strategi pemerintah melengkapi rantai nilai industri nikel nasional, mulai dari produksi MHP, nickel sulfate, precursor, cathode active material, hingga baterai kendaraan listrik.
"Dengan demikian, Indonesia diharapkan tidak lagi hanya menjadi eksportir bahan mentah, tetapi menjadi pemain penting dalam rantai pasok global kendaraan listrik," ujar Rosan . Proyek ini juga disebut mampu memasok bahan baku nikel untuk memproduksi baterai bagi sekitar 3 juta kendaraan listrik setiap tahunnya.
( berbagai sumber)
