Silaturahim dengan 15 PCNU Se-Lampung, Gus Hery: Saya Datang untuk Berkhidmat, Menyelaraskan Ikhtiar Besar NU

Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Gus Hery Haryanto Azumi, bersilaturahim dengan jajaran pengurus dari 15 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Provinsi Lampung, Sabtu (11/7/2026). (Foto: Gebrak.id/Sam)
Editor: Samsul Muarif

GEBRAK.ID, BANDAR LAMPUNG – Komunikasi menuju Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 terus menghangat. Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Gus Hery Haryanto Azumi, bersilaturahim dengan jajaran pengurus dari 15 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Provinsi Lampung, Sabtu (11/7/2026).

Pertemuan yang berlangsung secara hibrida itu menghadirkan Gus Hery melalui sambungan Zoom, sementara tim inti dipimpin langsung Ketua Tim Pemenangan Dr. H. Fadli Yasir, MA; bersama Dr. Akhmad Khusyairi, ST, M. Eng dan Samsul Muarif MSi, yang hadir di Bandar Lampung. Forum berlangsung hangat, penuh keakraban, dan diwarnai dialog terbuka mengenai arah kepemimpinan NU memasuki abad keduanya.

Acara dipandu Sekretaris PCNU Kota Bandar Lampung, Dr. H. Mairozi, yang membuka ruang dialog bagi para kiai dan pengurus cabang untuk menyampaikan pandangan serta harapan terhadap kepemimpinan PBNU mendatang.

Dalam pengantarnya, Dr. Fadli Yasir menyatakan bahwa Lampung memiliki posisi yang sangat istimewa dalam perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama.

"Lampung bukan daerah biasa dalam sejarah NU. Provinsi ini jadi tuan rumah Muktamar Ke-34 NU yang melahirkan berbagai keputusan penting bagi perjalanan jam'iyah. Karena itu, kami datang bukan sekadar bersilaturahim, tapi juga ingin mendengarkan secara langsung aspirasi para kiai dan pengurus cabang yang selama ini menjadi penggerak utama NU di daerah. Kami meyakini masa depan NU harus dibangun dari dialog dengan seluruh daerah, bukan hanya dari pusat," ujar Dr. Fadli.

Dalam sambutannya melalui Zoom, Gus Hery menegaskan bahwa keputusannya mengikuti kontestasi Ketua Umum PBNU bukan dilandasi ambisi pribadi, melainkan panggilan untuk mengabdi kepada Nahdlatul Ulama.

"Saya hadir bukan karena merasa lebih tahu, lebih mampu, apalagi ingin mengajari atau menggurui para kiai. Saya justru datang untuk belajar, mendengar, dan berkhidmat. Yang ingin kita bangun adalah keselarasan ikhtiar, menyatukan langkah dan tujuan yang lebih besar demi kemajuan Nahdlatul Ulama serta kemaslahatan umat. NU akan semakin kuat apabila seluruh elemennya berjalan bersama dalam semangat musyawarah dan persaudaraan," ujar Gus Hery.

Dialog berlangsung dinamis. Sejumlah Ketua PCNU menyampaikan pandangan dan aspirasinya, di antaranya Ketua PCNU Kota Bandar Lampung KH. Ichwan Ajiwibowo, Ketua PCNU Kota Metro KH. Ismail, Ketua PCNU Lampung Barat KH. Imam Syafii, Ketua PCNU Way Kanan KH. Nurul Huda, Ketua PCNU Tulang Bawang Barat KH. Nurul Hadi, serta Ketua PCNU Lampung Utara KH. Sonhaji Anis.

Para kiai menyampaikan doa dan dukungan kepada Gus Hery serta menilai kehadirannya dalam bursa calon Ketua Umum PBNU membawa semangat baru bagi proses regenerasi kepemimpinan NU.

Mereka berharap Muktamar kali ini menjadi momentum membuka ruang yang lebih luas bagi kader-kader muda NU yang memiliki kapasitas, integritas, dan visi besar untuk mengembangkan jam'iyah.

Mewakili para peserta, KH. Ichwan Ajiwibowo menekankan bahwa NU membutuhkan pemimpin yang benar-benar memahami persoalan organisasi hingga ke akar rumput.

"Calon Ketua Umum PBNU harus memiliki kemampuan dan memahami secara utuh persoalan yang dihadapi NU, bukan sekadar mengetahui dari kejauhan. Penyadaran bersama yang kami rasakan hari ini adalah Gus Hery memahami problem-problem itu. Karena itu, kepemimpinan PBNU ke depan harus memberi ruang yang lebih besar kepada pengurus cabang dan struktur di bawah untuk ikut berkontribusi dalam menentukan arah organisasi," kata KH. Ichwan.

KH. Ichwan juga mengingatkan bahwa NU membutuhkan peta jalan yang jelas dalam memasuki abad kedua. NU harus memiliki roadmap yang jelas untuk seratus tahun ke depan. 

"Salah satu tantangan yang perlu kita evaluasi adalah kecenderungan pembangunan organisasi yang selama ini masih sangat berpusat di Pulau Jawa. Potensi NU di Sumatra dan berbagai wilayah luar Jawa sangat besar, tetapi belum sepenuhnya mendapatkan ruang yang proporsional. Kepemimpinan PBNU mendatang harus mampu mengayomi seluruh wilayah secara adil, tanpa membedakan pusat dan daerah," tegas KH. Ichwan.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Gus Hery menyampaikan bahwa dirinya memiliki perhatian yang sama terhadap pentingnya pemerataan peran seluruh wilayah dalam struktur kepemimpinan PBNU.

Tim Pemenangan Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Gus Hery Haryanto Azumi, bersilaturahim dengan jajaran pengurus dari 15 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Provinsi Lampung, Sabtu (11/7/2026). (Foto: Gebrak.id/Sam)
Menurutnya, pengalaman kepemimpinan KH. Idham Chalid yang mampu menjaga soliditas organisasi selama puluhan tahun menjadi salah satu inspirasi penting dalam membangun NU ke depan. Kepemimpinan KH. Idham Chalid, lanjut Gus Hery, menunjukkan bahwa NU dapat dikelola dengan perspektif kebangsaan yang luas dan mampu merangkul seluruh elemen jam'iyah. 

"Ke depan, struktur kepemimpinan PBNU harus semakin representatif dan strategis. Komposisi kepengurusan harus mencerminkan kekuatan NU secara nasional, termasuk memberikan ruang yang lebih besar bagi kader-kader dari luar Jawa. Potensi kader muda NU saat ini luar biasa besar. Tugas kita adalah menghadirkan sistem yang mampu memberdayakan seluruh potensi itu untuk kemajuan organisasi," jelas Gus Hery.

Senada dengan itu, Dr. Fadli Yasir mengatakan bahwa pemerataan representasi wilayah menjadi salah satu perhatian utama tim Gus Hery. Komposisi kepengurusan PBNU antara Jawa dan luar Jawa harus menjadi perhatian serius. 

"Ke depan perlu dibangun forum komunikasi para kiai dari seluruh Nusantara secara berkala, misalnya setiap bulan agar PBNU selalu mendapatkan masukan langsung dari daerah. Tantangan NU pada abad kedua akan semakin kompleks sehingga pengambilan keputusan harus semakin partisipatif dan berbasis aspirasi dari seluruh wilayah," tegas Dr. Fadli.

Hubungan NU dan Pemerintah

Dalam kesempatan tersebut, Gus Hery juga menegaskan kembali pandangannya mengenai hubungan Nahdlatul Ulama dengan negara. Menurutnya, sebagaimana pesan almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), NU harus tetap menjaga independensi sebagai organisasi masyarakat sipil yang berpijak pada kepentingan umat.

"NU bukan lembaga stempel negara. Gus Dur selalu mengingatkan bahwa NU harus bergerak dari bawah, mendengarkan aspirasi warga nahdliyin, bukan menjadikan kekuasaan sebagai orientasi utama. NU harus mampu berdialog dengan pemerintah secara setara, memberikan dukungan terhadap kebijakan yang baik, sekaligus menyampaikan kritik secara santun apabila diperlukan. Hubungan NU dan pemerintah adalah hubungan dua arah yang saling menguatkan demi kepentingan bangsa," kata Gus Hery.

Gus Hery menambahkan bahwa sepanjang sejarahnya, NU selalu hadir memberikan solusi pada berbagai momentum penting bangsa.

"Sejarah mencatat NU selalu hadir ketika bangsa menghadapi persoalan besar, mulai dari masa-masa awal kemerdekaan, dinamika politik pada dekade 1950-an, berbagai krisis pada era Orde Baru, hingga masa Reformasi 1998. Karena itu, NU harus terus membangun legacy sebagai organisasi yang mampu menghadirkan solusi, bukan sekadar menjadi penonton sejarah," tegas Gus Hery.

Silaturahim yang berlangsung lebih dari dua jam tersebut ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ketua PCNU Lampung Utara, KH. Sonhaji Anis. Para peserta berharap komunikasi dan dialog seperti itu terus dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat persatuan jam'iyah serta mempersiapkan kepemimpinan NU yang mampu menjawab tantangan abad kedua dengan semangat kebersamaan, pemerataan, dan pengabdian. (*)