Editor: A. Rayyan K
Para pengungsi dari etnis Rohingya. (Foto: Anadolu)
GEBRAK.ID, JAKARTA -- Tragedi kemanusiaan kembali menimpa etnis Rohingya. Lebih dari 500 orang diduga meninggal dunia setelah dua kapal yang mengangkut para pengungsi tenggelam di perairan Myanmar dalam beberapa pekan terakhir.
Peristiwa memilukan tersebut menjadi salah satu kecelakaan laut paling mematikan yang melibatkan pengungsi Rohingya dalam beberapa tahun terakhir. Hingga kini, jumlah pasti korban masih belum dapat dipastikan karena proses verifikasi masih berlangsung.
Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) bersama Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengonfirmasi bahwa dua kapal yang sebagian besar mengangkut warga Rohingya berangkat dari wilayah Rakhine, Myanmar, pada akhir Juni 2026.
Sebagian penumpang diketahui berasal dari kamp-kamp pengungsian di Cox's Bazar, Bangladesh, yang selama ini menjadi tempat penampungan terbesar bagi pengungsi Rohingya.
Menurut pernyataan bersama kedua lembaga tersebut, kapal pertama membawa sekitar 250 penumpang. Namun, tak lama setelah berlayar, kapal tersebut dilaporkan hilang kontak.
Sementara itu, kapal kedua yang mengangkut sekitar 280 orang diduga tenggelam di perairan pesisir Ayeyarwady, Myanmar, pada 8 Juli 2026.
"Terjadinya peristiwa tersebut dan jumlah pasti korban kecelakaan masih belum dinyatakan secara resmi," demikian pernyataan bersama UNHCR dan IOM.
Meski belum ada angka resmi, kedua lembaga PBB itu menyampaikan keprihatinan mendalam atas besarnya potensi korban jiwa dalam tragedi tersebut.
"Sebagian besar penumpang berasal dari etnis Rohingya yang menantang risiko pelayaran laut yang berbahaya demi mencari keamanan," tulis UNHCR melalui akun resminya di platform X.
Selama bertahun-tahun, etnis Rohingya terus menghadapi diskriminasi dan penindasan di Myanmar. Kondisi tersebut memaksa banyak warga meninggalkan kampung halaman mereka demi mencari perlindungan dan kehidupan yang lebih aman.
Sebagian besar pengungsi memilih melarikan diri ke Bangladesh, sementara sebagian lainnya nekat menempuh perjalanan laut menuju negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Namun, perjalanan menggunakan kapal-kapal sederhana kerap berujung petaka akibat cuaca buruk, kelebihan muatan, hingga minimnya perlengkapan keselamatan.
Tragedi terbaru ini kembali menjadi pengingat bahwa krisis kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya masih jauh dari kata selesai dan membutuhkan perhatian serius dari komunitas internasional.
(Sumber: Anadolu)