Stasiun Manggarai Disiapkan Layani Kereta Jarak Jauh, Bagaimana Nasib Gambir?

1793233820410

Pengembangan Stasiun Manggarai ditargetkan rampung akhir 2027. Fasilitas baru akan memungkinkan penumpang kereta jarak jauh naik dan turun di stasiun tersebut. (Foto: Wikipedia)

GEBRAK.ID,JAKARTA – Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, dipersiapkan untuk memperluas perannya sebagai salah satu simpul utama perjalanan kereta api di Jabodetabek. Ke depan, stasiun tersebut tidak hanya menjadi titik transit utama kereta komuter, tetapi juga disiapkan untuk melayani penumpang Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ).

Rencana tersebut merupakan bagian dari pengembangan fasilitas Stasiun Manggarai yang berkaitan dengan proyek Double-Double Track (DDT) di kawasan Jakarta. Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Jakarta, Denny Michels Adlan, mengatakan pengembangan Stasiun Manggarai dilakukan secara bertahap. Fasilitas yang dibangun nantinya memungkinkan kereta api jarak jauh melayani aktivitas naik dan turun penumpang di stasiun tersebut.

“Kalau kita kan sekarang lagi memenangi yang stasiun Manggarai ya. Itu salah satu support untuk DDT juga. Nanti kereta api jarak jauh kan nanti bisa dilayani naik turun di sana,” ujar Denny dalam media briefing bersama Forum Wartawan Perhubungan (Forwahub) di Jakarta Pusat, Senin (26/10/2026).

Fasilitas Manggarai Ditargetkan Rampung Akhir 2027

Pengembangan fasilitas Stasiun Manggarai dilakukan dalam beberapa tahap. Denny menyebut fase pertama telah selesai, sedangkan fase kedua akan dilanjutkan dengan pekerjaan yang mencakup fasilitas pelayanan penumpang, sejumlah jembatan, serta jalur kereta. Penyelesaian pengembangan fasilitas tersebut ditargetkan pada akhir 2027.

Selain pembangunan fasilitas di stasiun, pemerintah juga masih membahas kelanjutan proyek DDT bersama Japan International Cooperation Agency (JICA), terutama mengenai ruang lingkup pekerjaan. Proyek DDT menjadi bagian penting dalam pengembangan jaringan perkeretaapian Jakarta karena bertujuan meningkatkan kapasitas lintasan dengan pemisahan perjalanan kereta berdasarkan layanan.

Pemerintah sebelumnya menargetkan penyelesaian DDT lintas Manggarai-Jatinegara pada akhir 2027 dan pengoperasiannya pada awal 2028. Dengan kapasitas lintasan yang semakin besar, pengaturan perjalanan KRL dan kereta jarak jauh di kawasan Jakarta diharapkan dapat dilakukan secara lebih optimal.

Manggarai Sudah Jadi Simpul Transportasi yang Sangat Padat

Pengembangan Manggarai sebagai stasiun yang dapat melayani lebih banyak jenis perjalanan bukan tanpa alasan. Saat ini Manggarai sudah menjadi salah satu simpul transportasi paling sibuk di Jakarta. KAI mencatat stasiun tersebut melayani sekitar 162 ribu pelanggan per hari dan sekitar 700-750 perjalanan kereta api setiap hari.

Layanannya mencakup Commuter Line Jabodetabek dan Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta. Kawasan Manggarai juga semakin terintegrasi dengan moda transportasi lain. LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai telah beroperasi sejak September 2026, sementara fasilitas penghubung langsung antara Stasiun LRT Manggarai dan Stasiun KAI Manggarai terus disiapkan.

Artinya, jika layanan KAJJ nantinya benar-benar beroperasi di Manggarai, stasiun tersebut berpotensi menjadi simpul perjalanan antarkota sekaligus titik perpindahan antarmoda yang semakin penting.

Apakah Gambir Akan Berhenti Layani Kereta Jarak Jauh?

Rencana pengembangan Manggarai memunculkan pertanyaan mengenai masa depan Stasiun Gambir yang selama ini menjadi salah satu stasiun utama keberangkatan dan kedatangan kereta api jarak jauh di Jakarta. Namun, berdasarkan informasi terbaru dari KAI, belum tepat jika rencana tersebut langsung diartikan sebagai penghapusan fungsi KAJJ di Gambir.

KAI justru menyatakan Stasiun Gambir tetap disiapkan sebagai gerbang perjalanan KAJJ di pusat Jakarta. PDalam pengembangan yang diumumkan KAI pada Agustus 2026, Gambir diarahkan untuk diperkuat sebagai gerbang KAJJ sekaligus dikembangkan sebagai kawasan yang terintegrasi dengan transportasi publik dan kawasan Monas.

KAI mencatat Stasiun Gambir saat ini melayani 34 perjalanan KA reguler per hari, dengan sekitar 78 aktivitas pemberhentian untuk naik dan turun pelanggan KAJJ. KAI juga sebelumnya menegaskan bahwa pengembangan Gambir dan Manggarai memiliki fungsi yang berbeda.

Manggarai diarahkan sebagai simpul perpindahan antarlintas, sedangkan Gambir tetap memiliki posisi strategis sebagai gerbang KAJJ di pusat Jakarta. Karena itu, keberadaan layanan KAJJ di Manggarai nantinya tidak otomatis berarti seluruh perjalanan KAJJ akan dipindahkan dari Gambir.

Gambir Juga Tengah Dipersiapkan untuk Berubah

Di tengah rencana penguatan Manggarai, Stasiun Gambir juga sedang memasuki tahap transformasi.KAI menyiapkan pengembangan kawasan Gambir agar lebih terintegrasi dengan transportasi publik dan kawasan Monas. Salah satu gagasan yang dikembangkan adalah menjadikan Gambir sebagai kawasan hub transportasi sekaligus ruang publik yang lebih terintegrasi.

Bahkan, rencana pengembangan Gambir mencakup kemungkinan layanan KRL berhenti dan melayani naik-turun penumpang di stasiun tersebut. Namun, pengoperasian KRL di Gambir masih membutuhkan kesiapan berbagai aspek, mulai dari fasilitas peron, kapasitas lintas, sistem persinyalan, kelistrikan hingga pola operasi.

Dengan demikian, Jakarta ke depan berpotensi memiliki dua simpul besar dengan karakter berbeda: Manggarai sebagai pusat perpindahan antarlintas dan Gambir sebagai gerbang perjalanan di pusat kota.

Apa Dampaknya bagi Penumpang?Jika fasilitas KAJJ di Manggarai selesai dan mulai digunakan, masyarakat akan mendapatkan alternatif baru untuk naik maupun turun kereta api jarak jauh.

Manggarai memiliki keunggulan dari sisi konektivitas karena terhubung dengan jaringan KRL Jabodetabek dan Commuter Line Bandara. Kehadiran LRT Jakarta di kawasan tersebut juga semakin memperkuat konektivitas antarmoda.

Bagi penumpang dari wilayah Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang maupun kawasan Jakarta lainnya, keberadaan KAJJ di Manggarai berpotensi mempermudah perjalanan karena penumpang dapat mengakses stasiun melalui jaringan kereta komuter.

Di sisi lain, Gambir tetap memiliki keunggulan karena lokasinya berada di pusat Jakarta dan dekat dengan kawasan pemerintahan, perkantoran, hotel serta Monumen Nasional. Karena itu, apabila kedua stasiun sama-sama melayani perjalanan antarkota, pilihan stasiun keberangkatan atau kedatangan dapat menjadi lebih fleksibel bagi masyarakat.

Bukan Sekadar Memindahkan Stasiun

Pengembangan Manggarai dan Gambir pada akhirnya bukan hanya soal memindahkan titik keberangkatan kereta jarak jauh. Proyek tersebut merupakan bagian dari upaya menata kembali sistem perkeretaapian Jakarta agar kapasitas lintasan meningkat dan perpindahan antarmoda semakin mudah.

Manggarai sendiri telah dikembangkan sebagai kawasan Transit-Oriented Development (TOD) dengan integrasi KRL, Commuter Line Bandara, TransJakarta, terminal, LRT, konektivitas pejalan kaki dan kawasan perkotaan. KAI mencatat kawasan TOD Manggarai memiliki luas sekitar 129 hektare.

Dengan target penyelesaian fasilitas KAJJ pada akhir 2027, perubahan fungsi Manggarai akan menjadi salah satu perkembangan penting dalam sistem transportasi kereta api Jakarta. Namun, masyarakat masih perlu menunggu keputusan pola operasi resmi mengenai kereta mana saja yang nantinya berhenti di Manggarai serta bagaimana pembagian layanan dengan Stasiun Gambir.

Untuk saat ini, Manggarai disiapkan agar mampu melayani KAJJ, tetapi Gambir juga masih dipertahankan dan dikembangkan sebagai salah satu gerbang utama KAJJ di pusat Jakarta.

(Dinar K/ berbagai sumber)

Dukung GEBRAK.ID

Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.

Dukung lewat Saweria
Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID