Kalimantan dan Sumatera: Yang Terbakar Bukan Hanya Hutan
Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan selama ini lebih sering dilihat dari apa yang tampak di permukaan: hutan terbakar, lahan gambut mengering, asap menyelimuti permukiman, dan kualitas udara memburuk. Namun, ada ancaman yang jauh lebih tersembunyi. (Foto ilustrasi: Gebrak.id/AI)
Oleh Chappy Hakim *)
Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan selama ini lebih sering dilihat dari apa yang tampak di permukaan: hutan terbakar, lahan gambut mengering, asap menyelimuti permukiman, dan kualitas udara memburuk.
Namun, ada ancaman yang jauh lebih tersembunyi. Api tidak selalu berhenti ketika kobaran di permukaan padam. Dalam kondisi tertentu, bara justru terus bergerak di bawah tanah dan membakar lapisan gambut hingga mencapai batubara.
Fenomena ini dikenal sebagai kebakaran batubara bawah permukaan atau subsurface coal fire. Api semacam ini dapat bertahan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, tanpa terlihat jelas dari permukaan. Tanda yang muncul terkadang hanya asap dari retakan tanah atau peningkatan suhu di sekitar lokasi.
Api yang bergerak di bawah tanah
Sumatera, terutama Kalimantan, memiliki kondisi geologi yang memungkinkan fenomena tersebut terjadi. Di sejumlah kawasan, lapisan batubara berada relatif dekat dengan permukaan atau bahkan tersingkap.
Ketika musim kemarau panjang membuat vegetasi dan tanah semakin kering, api dari aktivitas manusia maupun sumber alami dapat mencapai lapisan gambut dan kemudian merambat ke lapisan batubara.
Sejarah juga menunjukkan bahwa kebakaran di kawasan batubara bukan persoalan baru. Penelitian sebelumnya menemukan bukti kebakaran di Kalimantan Timur berlangsung sejak masa prasejarah. Bukti radiokarbon menunjukkan adanya kebakaran sekitar 10.560 tahun sebelum sekarang.
Aktivitas manusia kemudian memperbesar risikonya. Pembukaan lahan dengan cara membakar, perubahan penggunaan lahan, hingga aktivitas pertambangan dapat membuka jalan bagi api menuju lapisan bawah tanah.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara kebakaran permukaan dan kebakaran batubara bawah permukaan. Jika karhutla biasa mudah dikenali melalui kobaran api dan titik panas, kebakaran di bawah tanah dapat terus berlangsung dalam kesunyian.
Gambut menjadi jembatan api
Kondisinya menjadi semakin rumit ketika api bertemu dengan lahan gambut. Material organik yang tersimpan di dalam gambut mudah terbakar dan mampu mempertahankan bara dalam waktu lama.
Api yang masuk ke dalam gambut dapat bergerak secara horizontal maupun vertikal. Permukaan tanah mungkin terlihat sudah aman, tetapi bara di bawahnya masih aktif. Dalam kondisi tertentu, bara tersebut dapat kembali muncul ke permukaan atau merambat hingga mencapai lapisan batubara.
Karena itu, penanganan karhutla di kawasan gambut tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat. Permukaan yang sudah dingin belum tentu menunjukkan bahwa sumber api benar-benar telah mati.
Ketika gambut dan batubara sama-sama menjadi bahan bakar, terbentuk sistem pembakaran yang sulit dikendalikan. Oksigen dapat masuk melalui retakan dan pori-pori tanah, sementara kondisi panas serta kering mempercepat proses pembakaran.
Ancaman tidak berhenti pada asap
Kebakaran batubara bawah permukaan membawa ancaman yang lebih luas daripada sekadar kabut asap.
Pembakaran batubara dapat mengurangi massa material di bawah tanah dan membentuk rongga. Jika rongga terus membesar, permukaan tanah kehilangan penyangga sehingga berpotensi mengalami amblasan atau subsidence.
Kasus di Tarakan memberikan gambaran mengenai risiko tersebut. Kebakaran batubara di kawasan Jalan Amal Lama dilaporkan membentuk rongga horizontal sekitar tiga meter dengan kedalaman sekitar dua meter dan bukaan permukaan hingga enam meter. Lokasinya hanya beberapa meter dari badan jalan sehingga menimbulkan risiko bagi masyarakat dan pengguna jalan.
Artinya, lokasi yang tampak sudah terbebas dari api tidak otomatis aman. Pemerintah tetap perlu memastikan kestabilan tanah dan kondisi bawah permukaan sebelum kawasan tersebut kembali digunakan.
Asap yang terus mencari jalan keluar
Dampak berikutnya menyentuh langsung kesehatan masyarakat.
Pembakaran batubara dapat menghasilkan sejumlah polutan, antara lain karbon dioksida, karbon monoksida, sulfur dioksida, serta partikulat halus seperti PM2.5 dan PM10.
Berbeda dengan kebakaran permukaan yang sumber asapnya dapat berkurang setelah api berhasil dipadamkan, kebakaran bawah tanah dapat terus menghasilkan emisi selama proses pembakaran masih berlangsung.
Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi berpotensi mengalami paparan polutan dalam waktu panjang. Gangguan pernapasan dan iritasi mata menjadi salah satu risiko kesehatan, sementara pelepasan karbon yang tersimpan selama jutaan tahun turut menambah beban gas rumah kaca di atmosfer.
Ancaman lain datang dari potensi swabakar atau self-combustion. Batubara dapat mengalami oksidasi ketika bersentuhan dengan oksigen. Proses tersebut menghasilkan panas. Jika panas terus terakumulasi dan tidak dapat dilepaskan secara memadai, suhu dapat meningkat hingga memicu pembakaran.
Karakteristik batubara, kelembapan, kadar abu, volatile matter, kandungan sulfur, hingga keberadaan pirit atau FeSâ‚‚ ikut memengaruhi potensi tersebut. Cuaca panas dan kering dalam waktu panjang juga dapat memperbesar risikonya.
Belajar dari kebakaran masa lalu
Kalimantan memiliki sejarah panjang menghadapi kebakaran pada periode kekeringan ekstrem. Salah satu contoh paling besar terjadi saat El Nino 1982–1983.
Kekeringan yang sangat parah ketika itu memicu kebakaran luas. Sekitar lima juta hektare hutan di Kalimantan Timur dan wilayah sekitarnya dilaporkan terbakar.
Pengalaman tersebut semestinya menjadi pelajaran penting. Ketika kekeringan ekstrem bertemu dengan hutan, gambut dan lapisan batubara yang mudah terbakar, risiko bencana dapat meningkat berkali-kali lipat.
Perubahan iklim membuat persoalan ini semakin relevan. Periode panas dan kering yang lebih panjang berpotensi memperluas wilayah rawan sekaligus memperpanjang durasi kebakaran.
Tidak cukup hanya menyiram air
Kebakaran batubara bawah permukaan membutuhkan strategi yang berbeda dari kebakaran biasa.
Menyiram air dari permukaan belum tentu mampu mencapai sumber api yang berada jauh di bawah tanah. Dalam kondisi tertentu, penanganan membutuhkan pengupasan atau pengerukan material agar lapisan yang terbakar dapat dijangkau dan sumber panas benar-benar dihilangkan.
Langkah tersebut tentu tidak sederhana. Dibutuhkan keterlibatan keahlian geologi, teknik pertambangan, pemadaman kebakaran, hingga keselamatan kerja.
Deteksi dini juga harus menjadi bagian penting dari strategi penanganan. Pencitraan termal, pemantauan gas, survei geologi, pemetaan lapisan batubara dan pemantauan satelit perlu digunakan secara terpadu untuk memahami kondisi di atas sekaligus di bawah permukaan.
Mengubah cara pandang terhadap karhutla
Sudah saatnya kebakaran hutan dan lahan di wilayah yang memiliki kandungan batubara bawah permukaan tidak hanya dipandang sebagai persoalan kehutanan.
Fenomena tersebut merupakan persoalan geo-ekologis yang mempertemukan berbagai aspek sekaligus, mulai dari lingkungan, geologi, perubahan iklim, kesehatan, keselamatan publik hingga tata kelola wilayah.
Karena itu, pemetaan kawasan rawan perlu memasukkan informasi tentang gambut, lapisan batubara, sejarah kebakaran, penggunaan lahan, aktivitas pertambangan dan kondisi iklim.
Ukuran keberhasilan penanganan pun harus diperluas. Padamnya api di permukaan bukan akhir dari persoalan. Yang lebih penting adalah memastikan sumber api di bawah tanah benar-benar mati, emisi berhenti, struktur tanah stabil dan kawasan tersebut tidak lagi membahayakan masyarakat.
Bahaya terbesar kebakaran batubara justru terletak pada sifatnya yang tidak terlihat. Api dapat menghilang dari pandangan, tetapi tetap hidup di bawah kaki kita.
Sumatera dan terutama Kalimantan, dengan demikian, tidak hanya menghadapi persoalan kebakaran hutan di atas tanah. Dalam kondisi tertentu, yang terbakar bukan hanya hutan, melainkan juga bumi di bawahnya.
Jakarta, 26 Agustus 2026
*) Pusat Studi Air Power Indonesia
