Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Banten, Warga Pesisir Serang-Pandeglang Diminta Pakai Masker

1788357224076

Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau sejak Jumat malam memicu sebaran abu vulkanik. Warga diminta waspada dan mengikuti informasi resmi pemerintah. (Foto: ist)

GEBRAK.ID,BANTEN — Sebagian wilayah Provinsi Banten terdampak sebaran abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir Kabupaten Serang dan Pandeglang, diminta meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker atau pelindung pernapasan ketika beraktivitas di luar rumah.

Erupsi Gunung Anak Krakatau berlangsung menerus sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Sabtu dini hari. Aktivitas tersebut disertai fenomena lava fountain atau pancaran lava serta suara dentuman dan gemuruh yang terdengar hingga sejumlah wilayah. Berdasarkan laporan Badan Geologi, aktivitas Gunung Anak Krakatau pada periode pengamatan dini hari diinterpretasikan sebagai erupsi lava fountain.

Sejumlah erupsi sebelumnya juga menghasilkan kolom abu yang teramati mengarah ke barat dan barat laut. Sebaran abu vulkanik tersebut menjadi perhatian karena dapat mengganggu jarak pandang sekaligus berdampak terhadap kesehatan, terutama saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat di wilayah yang mengalami hujan atau paparan abu dianjurkan menggunakan pelindung pernapasan.

Gunung Anak Krakatau Masih Level III Siaga

Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III atau Siaga. Status tersebut telah diberlakukan sejak 2 Juli 2026 menyusul peningkatan aktivitas vulkanik. PVMBG mengingatkan masyarakat, wisatawan, nelayan maupun pengunjung agar tidak mendekati kawasan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Potensi bahaya yang perlu diwaspadai antara lain lontaran material pijar, aliran lava, awan panas dan hujan abu vulkanik. Masyarakat juga diminta tidak mendekati gunung api hanya untuk menyaksikan atau merekam aktivitas erupsi. Langkah tersebut diperlukan karena potensi lontaran material dari kawah aktif masih ada.

Warga Banten Diminta Tidak Panik

Di tengah sebaran abu dan suara dentuman yang dilaporkan terdengar hingga wilayah yang cukup jauh, pemerintah meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Banten, Lampung dan Jawa Barat diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Gelombang suara akibat aktivitas erupsi dapat merambat jauh melalui atmosfer.

Kekhawatiran mengenai tsunami juga muncul kembali karena sejarah erupsi Anak Krakatau pada 2018. Namun, PVMBG menyatakan hasil evaluasi terbaru menunjukkan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meski demikian, pemantauan terhadap aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau terus dilakukan secara intensif.

Abu Vulkanik Perlu Diwaspadai

PVMBG meminta masyarakat di wilayah yang terdampak sebaran abu untuk menggunakan pelindung pernapasan apabila terjadi hujan abu. Masyarakat juga diminta mengikuti perkembangan informasi dari Badan Geologi, PVMBG, BPBD, serta pemerintah daerah setempat. Dengan kondisi aktivitas gunung api yang masih berlangsung, masyarakat pesisir Banten dan Lampung tetap dapat beraktivitas seperti biasa dengan memperhatikan perkembangan situasi serta mematuhi setiap rekomendasi keselamatan dari otoritas.

Informasi yang belum terverifikasi, khususnya mengenai potensi tsunami, juga diimbau tidak disebarluaskan agar tidak menimbulkan kepanikan.

(Dinar K/ berbagai sumber)