Editor: Devona R
Rendahnya capaian nilai matematika dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA 2026 menjadi sorotan kalangan pendidik. (Foto ilustrasi: Humas Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID; JAKARTA — Rendahnya capaian nilai matematika dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA 2026 menjadi sorotan kalangan pendidik. Kondisi tersebut dinilai bukan sekadar persoalan hasil ujian, melainkan sinyal kuat bahwa sistem pembelajaran di sekolah masih perlu dibenahi secara serius.
Organisasi Pendidikan Guru Matematika Nusantara (OPGMN) menilai hasil TKA SMA tahun ini memberikan gambaran nyata tentang lemahnya pemahaman konsep siswa, khususnya pada mata pelajaran matematika.
Ketua Umum OPGMN, Moch. Fatkoer Rohman, mengatakan hasil TKA seharusnya dipahami sebagai bahan refleksi bersama bagi sekolah dan tenaga pendidik, bukan sekadar angka evaluasi.
“Capaian yang masih rendah, khususnya pada matematika menunjukkan pembelajaran perlu segera dibenahi,” ujar Fatkoer dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Menurut Fatkoer, TKA kini dapat menjadi cermin objektif untuk melihat sejauh mana efektivitas proses belajar di sekolah.
Melalui data hasil tes tersebut, sekolah dapat mengetahui mata pelajaran mana yang sudah berjalan baik dan mana yang masih membutuhkan perhatian lebih serius.
“Sekolah dapat mengevaluasi apakah metode belajar selama ini benar-benar membantu siswa memahami konsep atau hanya mengejar hafalan,” kata Fatkoer.
Fatkoer menilai persoalan utama pembelajaran matematika di banyak sekolah saat ini masih terjebak pada pola lama, yakni menghafal rumus dan mengerjakan latihan soal secara berulang tanpa memahami konsep dasar.
Akibatnya, siswa memang terbiasa menyelesaikan soal dengan cara cepat, tetapi kesulitan ketika dihadapkan pada persoalan yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan logika.
“Masih banyak pembelajaran yang hanya berisi rumus dan latihan soal berulang. Anak akhirnya terbiasa menghafal cara cepat, tetapi tidak benar-benar memahami konsep,” ujar Fatkoer.
Fenomena rendahnya kemampuan numerasi siswa sebenarnya juga beberapa kali tercermin dalam hasil asesmen pendidikan internasional seperti Programme for International Student Assessment (PISA), yang selama ini menunjukkan tantangan Indonesia dalam penguatan literasi dan matematika.
Karena itu, Fatkoer menilai pembelajaran matematika ke depan perlu diarahkan agar siswa lebih aktif memahami konsep, berdiskusi, dan memecahkan masalah nyata, bukan hanya mengejar nilai ujian.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Surabaya, Iva Afiati Rahma. Menurutnya, hasil TKA justru membantu sekolah membaca kondisi pembelajaran secara lebih terukur karena capaian siswa dapat dibandingkan dengan rata-rata nasional.
“Dari hasil TKA, kami bisa melihat mata pelajaran mana yang perlu perhatian lebih serius. Ini membantu guru melakukan evaluasi yang lebih objektif dan berbasis data,” ujar Iva.
Iva menjelaskan, di SMAN 1 Surabaya hasil TKA tidak berhenti hanya sebagai laporan angka semata. Sekolah menjadikan hasil tersebut sebagai dasar menyusun langkah perbaikan pembelajaran.
Beberapa program yang dilakukan di antaranya menghadirkan klinik belajar bagi siswa yang membutuhkan pendampingan tambahan, evaluasi metode pengajaran di kelas, hingga pelatihan guru agar pendekatan pembelajaran menjadi lebih interaktif.
Tak hanya itu, kolaborasi antarguru juga diperkuat agar proses evaluasi berjalan secara bersama-sama di tingkat sekolah, bukan hanya dilakukan masing-masing guru di kelas.
Menurut Iva, keterlibatan orang tua juga menjadi bagian penting dalam perbaikan kualitas belajar siswa. Karena itu, hasil TKA turut disosialisasikan kepada wali murid agar mereka mengetahui perkembangan akademik anak secara lebih jelas. “Dampaknya, keterlibatan orang tua dalam mendampingi proses belajar siswa ikut meningkat.”
Iva menegaskan bahwa TKA seharusnya tidak dipandang sebagai alat untuk menghakimi siswa maupun guru. “TKA bukan untuk menghakimi guru atau siswa dari angka semata, tetapi menjadi dasar untuk melihat apa yang perlu diperbaiki bersama,” ujar dia.
Pemerintah saat ini tengah melakukan berbagai evaluasi terhadap pelaksanaan TKA 2026, termasuk penyempurnaan sistem pembelajaran dan asesmen di sekolah agar lebih mampu mengukur kemampuan berpikir siswa secara mendalam.
(Sumber: OPGMN)
Jangan Terlewatkan: Hasil TKA SMA 2025 Anjlok, Kemendiktisaintek RI Tegaskan Nilai TKA tak Wajib pada Jalur SNBP 2026