AS dan Trump Kembali Terjebak dalam Quagmire: Menang di Langit, Gagal Menguasai Arah Perang

Cendekiawan, filantropis, dan penulis Indonesia, Haidar Bagir. (Foto: Dok.Mizan)
Oleh Haidar Bagir *)

Inilah dilema klasik yang hampir selalu dihadapi kekuatan besar. Amerika Serikat (AS)  mampu mengerahkan daya hancur yang luar biasa. Namun, setiap rudal atau pesawat nirawak Iran yang relatif murah dapat memaksa Washington menembakkan satu, bahkan beberapa rudal pencegat yang nilainya berkali-kali lipat lebih mahal.

Iran tidak harus memenangkan setiap pertempuran. Yang perlu dilakukan hanyalah memperpanjang konflik hingga biaya finansial, militer, dan politik yang ditanggung Amerika menjadi jauh lebih besar daripada keuntungan strategis yang diperoleh.

Di tengah situasi itu, muncul pula pertanyaan mengenai transparansi korban perang. Beredar dugaan bahwa jumlah korban sebenarnya lebih tinggi daripada angka resmi yang diumumkan. Kritik juga mengarah pada cara Pentagon mengklasifikasikan korban, memisahkan satu fase operasi dengan fase lainnya, serta menyampaikan informasi mengenai tingkat kerusakan pangkalan secara bertahap.

Memang belum ada bukti yang secara meyakinkan menunjukkan bahwa data resmi sengaja disembunyikan. Namun perubahan kategori, keterlambatan pembaruan data, perbedaan angka antarlembaga, minimnya akses verifikasi independen, hingga kurang terbukanya informasi mengenai kerusakan pangkalan cukup untuk memunculkan pertanyaan. Jangan-jangan korban di pihak Amerika sebenarnya jauh lebih besar?

Dalam setiap perang, pengendalian informasi hampir selalu menjadi bagian dari pengendalian persepsi publik. Pemerintah tentu berkepentingan agar masyarakat Amerika tidak memandang konflik ini sebagai perang panjang yang mahal, penuh korban, dan tanpa arah penyelesaian yang jelas.

Persoalan yang lebih mendasar justru terletak pada tujuan perang yang terus berubah. Apa sebenarnya sasaran utama Amerika? Menghancurkan program nuklir Iran? Melumpuhkan kemampuan rudalnya? Membuka kembali Selat Hormuz? Mengganti rezim di Teheran? Atau sekadar menghukum Iran?

Masing-masing tujuan itu membutuhkan strategi, sumber daya, dan ukuran keberhasilan yang berbeda.

Sejauh ini, pemerintahan Iran tetap bertahan. Kemampuan militernya memang mengalami kerusakan, tetapi belum lumpuh. Program persenjataannya mulai dibangun kembali, sementara pengaruhnya terhadap jalur strategis Selat Hormuz juga belum benar-benar dapat dihilangkan.

Bahkan, serangan AS tampaknya tidak menghasilkan keruntuhan politik di dalam negeri Iran. Sebaliknya, seperti yang sering terjadi ketika suatu negara menghadapi ancaman dari luar, perang justru berpotensi memperkuat solidaritas nasional, termasuk di kalangan masyarakat yang sebelumnya bersikap kritis terhadap pemerintah.

Tentu saja, Iran tidak keluar dari perang tanpa luka. Korban jiwa, kerusakan infrastruktur, tekanan ekonomi, dan penderitaan rakyatnya sangat besar.

Namun jika tujuan strategis Amerika adalah menciptakan perpecahan internal dan memaksa Iran menyerah, hasilnya sejauh ini justru bergerak ke arah yang berlawanan. Sejumlah pengamat bahkan menilai Iran kini secara politik lebih solid dibandingkan sebelum konflik pecah.

Di sisi lain, tekanan terhadap Presiden AS Donald Trump terus meningkat di dalam negeri. Perang yang belum menunjukkan tanda-tanda kemenangan mulai menggerus popularitasnya. Tingkat persetujuan publik terhadap kinerjanya melemah, sementara hanya sebagian kecil warga Amerika yang menilai perang melawan Iran sepadan dengan biaya, korban, dan risiko yang harus ditanggung.

Angka-angka itu penting karena Trump tidak sedang berperang dalam ruang hampa politik.

Menjelang pemilihan sela, setiap tambahan korban, kenaikan harga energi, membengkaknya anggaran militer, maupun laporan mengenai kerusakan pangkalan dapat berubah menjadi beban elektoral bagi Partai Republik.

Trump kini menghadapi pilihan yang semakin sempit. Meningkatkan eskalasi belum tentu menghasilkan kemenangan. Sebaliknya, menarik diri tanpa capaian yang dapat dijual kepada publik hanya akan memperkuat kesan bahwa ia telah membawa Amerika ke dalam perang yang mahal tanpa tujuan yang jelas.

Dengan demikian, Amerika dan Trump tampaknya kembali memasuki sebuah quagmire—rawa perang yang mudah dimasuki, tetapi sangat sulit ditinggalkan.

Kali ini, jebakan itu tidak hanya berada di medan perang Timur Tengah, tetapi juga mulai merembes ke panggung politik domestik Amerika. Melanjutkan perang berarti menambah korban, menguras persediaan amunisi, memperbesar ancaman terhadap pasukan Amerika di kawasan, sekaligus meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur energi dan pelayaran internasional. 

Namun mundur tanpa kesepakatan yang substantif akan dipandang sebagai pengakuan bahwa kampanye militer yang sangat mahal itu gagal mencapai tujuan strategisnya.

Masalah utamanya bukan lagi sekadar bagaimana Amerika mengakhiri perang, melainkan bagaimana mengakhirinya tanpa menampilkan kesan kalah.

Hingga kini, jalan keluar yang bermartabat sekaligus mampu meminimalkan kerugian masih belum terlihat. Iran tidak mudah dipaksa menyerah, sementara Amerika juga tidak mungkin terus berperang tanpa batas.

Pada akhirnya, kedua pihak kemungkinan tetap harus kembali ke meja perundingan. Bedanya, posisi tawar mereka kini sudah berubah. Iran telah menunjukkan bahwa mereka bisa mengalami kerusakan yang sangat besar, tetapi tetap mampu memberikan pukulan balik kepada Amerika dan mengguncang stabilitas kawasan.

Sejarah kembali mengingatkan bahwa memenangkan serangan udara tidak sama dengan memenangkan perang. Amerika mungkin menguasai langit, tetapi belum tentu menguasai arah sejarah. Ia mampu menghancurkan banyak sasaran di Iran, namun hingga kini belum berhasil mengubah keunggulan militernya menjadi kemenangan politik yang nyata.

Dalam peperangan, kegagalan mengubah superioritas militer menjadi keberhasilan politik seringkali merupakan bentuk kekalahan strategis yang paling menentukan.

29 Juli 2026

*) Cendekiawan, filantropis, dan penulis.