Hampir 8.000 WNI Lepas Kewarganegaraan, Indonesia Terancam Brain Drain

Brain drain merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perpindahan tenaga kerja terampil, profesional, ilmuwan, akademisi, maupun individu berpendidikan tinggi dari satu negara ke negara lain. (Foto: iStock)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID – Fenomena ribuan warga negara Indonesia (WNI) yang memilih melepaskan kewarganegaraannya dalam beberapa tahun terakhir mulai memunculkan kekhawatiran baru. Selain berpotensi mengurangi jumlah sumber daya manusia (SDM) berkualitas, kondisi ini juga dinilai dapat memicu brain drain atau keluarnya talenta terbaik Indonesia ke luar negeri.

Data Kementerian Hukum menunjukkan hampir 8.000 WNI mengajukan permohonan pelepasan kewarganegaraan Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Alasan yang melatarbelakangi keputusan tersebut beragam, mulai dari pekerjaan, pernikahan, hingga peluang hidup dan karier yang dianggap lebih menjanjikan di negara lain.

Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dian Azmawati, menilai perpindahan penduduk lintas negara sebenarnya merupakan fenomena yang lazim terjadi dalam era globalisasi. Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika yang berpindah adalah individu dengan pendidikan tinggi, keahlian khusus, dan kompetensi unggul.

"Mobilitas manusia antarnegara bukanlah sesuatu yang baru. Namun, ketika seseorang memutuskan berganti kewarganegaraan, tentu ada berbagai faktor yang membuat mereka merasa akan memperoleh manfaat yang lebih besar di negara tujuan," ujar Dian, dikutip dari laman resmi UMY, Senin (13/7/2026).

Menurut Dian, kondisi tersebut dikenal sebagai brain drain, yakni situasi ketika tenaga kerja atau sumber daya manusia terbaik suatu negara memilih menetap dan berkarya di negara lain. Jika berlangsung secara masif, dampaknya dapat menghambat pembangunan nasional. "Jika fenomena ini terus meningkat, tentu menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius," katanya.

Apa Itu Brain Drain?

Brain drain merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perpindahan tenaga kerja terampil, profesional, ilmuwan, akademisi, maupun individu berpendidikan tinggi dari satu negara ke negara lain. Fenomena ini biasanya dipicu oleh kesempatan karier yang lebih baik, tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, lingkungan riset yang lebih maju, hingga stabilitas ekonomi dan politik di negara tujuan.

Dalam jangka panjang, brain drain dapat menyebabkan negara asal kehilangan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan mendorong inovasi, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat daya saing nasional.

Indonesia Berisiko Kehilangan Talenta Terbaik

Dian menilai meningkatnya jumlah WNI yang memilih melepas kewarganegaraan menjadi sinyal bahwa persaingan global dalam memperebutkan sumber daya manusia berkualitas semakin ketat.

Apabila tren tersebut terus berlangsung tanpa langkah antisipasi, Indonesia dikhawatirkan kehilangan banyak tenaga profesional yang selama ini menjadi motor penggerak pembangunan di berbagai sektor.

"Jika talenta terbaik lebih memilih mengembangkan potensinya di negara lain, maka Indonesia akan kehilangan sumber daya yang penting untuk mempercepat pembangunan," ujarnya.

Perlu Perbaikan Ekosistem di Dalam Negeri

Untuk menekan risiko brain drain, pemerintah dinilai perlu memperkuat ekosistem yang mampu membuat talenta nasional memilih tetap berkarya di Indonesia.

Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas pendidikan, perluasan kesempatan kerja, dukungan terhadap riset dan inovasi, pemberian penghargaan yang kompetitif bagi tenaga profesional, hingga menciptakan iklim investasi yang mampu membuka lapangan pekerjaan berkualitas.

Menurut Dian, persoalan ini bukan sekadar soal perpindahan status kewarganegaraan, tetapi menjadi cerminan bagaimana setiap negara dituntut mampu mempertahankan sumber daya manusia unggulnya di tengah kompetisi global yang semakin ketat.

Apabila berbagai faktor pendorong tersebut tidak segera dibenahi, Indonesia berpotensi menghadapi tantangan besar berupa berkurangnya talenta terbaik yang justru berkontribusi terhadap kemajuan negara lain.

(Sumber: UMY)