Jangan Takut Beli Mobil Listrik Bekas, Ternyata Baterai Bukan Masalah Terbesar

Kekhawatiran soal kondisi baterai sering menjadi alasan banyak orang ragu membeli mobil listrik bekas atau electric vehicle (EV). Namun, hasil analisis terbaru justru menunjukkan fakta yang berbeda. (Foto: Pixabay)
Editor: A. Rayyan K 

GEBRAK.ID – Kekhawatiran soal kondisi baterai sering menjadi alasan banyak orang ragu membeli mobil listrik bekas atau electric vehicle (EV). Namun, hasil analisis terbaru justru menunjukkan fakta yang berbeda.

Data perusahaan penyedia garansi mobil bekas di Inggris, Warrantywise, mengungkap bahwa kerusakan baterai tegangan tinggi bukanlah masalah yang paling sering dialami pemilik EV bekas. Sebaliknya, gangguan kelistrikan umum, suspensi, hingga baterai 12 volt justru lebih sering memicu klaim perbaikan.

Temuan tersebut dipublikasikan CarsCoops pada Minggu (12/7/2026) berdasarkan analisis ribuan permintaan garansi kendaraan listrik bekas di Inggris.

Masalah EV Mirip Mobil Konvensional

Warrantywise menyebut sebagian besar persoalan yang muncul pada mobil listrik bekas ternyata hampir sama dengan kendaraan bermesin bensin maupun diesel.

Kerusakan paling banyak terjadi pada sistem kelistrikan umum, seperti sensor elektronik, modul kontrol, hingga central locking. Rata-rata biaya perbaikannya mencapai 810 hingga 900 poundsterling atau sekitar Rp19 juta hingga Rp21 juta.

Selain itu, komponen suspensi juga menjadi salah satu sumber kerusakan terbesar.

Lengan ayun (control arm) menjadi bagian yang paling sering mengalami keausan, dengan nilai klaim perbaikan rata-rata melampaui 1.200 pound sterling atau sekitar Rp29 juta.

Menurut analisis tersebut, bobot mobil listrik yang lebih berat akibat penggunaan paket baterai membuat komponen suspensi bekerja lebih keras dibandingkan mobil konvensional.

Pengisi Daya Onboard Masuk Daftar Kerusakan Termahal

Satu-satunya komponen khusus kendaraan listrik yang masuk lima besar klaim garansi adalah onboard charger atau pengisi daya internal kendaraan.

Jika mengalami kerusakan, biaya perbaikannya bisa mencapai 2.160 pound sterling atau sekitar Rp52 juta. Meski demikian, komponen ini tetap lebih sering bermasalah dibandingkan baterai utama kendaraan.

Baterai Tegangan Tinggi Justru Jarang Rusak

Hal yang cukup mengejutkan adalah baterai traksi tegangan tinggi, yang selama ini paling dikhawatirkan calon pembeli EV bekas, justru tidak masuk dalam lima besar daftar kerusakan.

Warrantywise menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi baterai mobil listrik modern jauh lebih tangguh dibandingkan anggapan banyak orang.

Selain dirancang memiliki daya tahan tinggi, sebagian besar produsen juga memberikan garansi baterai hingga delapan tahun atau lebih, sehingga risiko kerusakan dalam masa penggunaan awal relatif kecil.

Meski jarang terjadi, kerusakan baterai tegangan tinggi tetap membutuhkan biaya yang sangat besar.

Data Warrantywise mencatat rata-rata biaya perbaikannya mencapai lebih dari 6.400 pound sterling atau sekitar Rp155 juta.

Analisis Ini Punya Batasan

Warrantywise mengingatkan bahwa hasil analisis tersebut hanya berdasarkan kendaraan listrik yang terdaftar dalam program garansi perusahaan tersebut.

Artinya, data tersebut tidak mewakili seluruh populasi mobil listrik yang beredar di jalan, tetapi tetap memberikan gambaran mengenai tren kerusakan EV bekas yang terjadi di lapangan.

Temuan ini sekaligus menjadi kabar baik bagi masyarakat yang berencana membeli mobil listrik bekas. Kekhawatiran terhadap usia baterai memang tetap perlu diperhatikan, tetapi berdasarkan data klaim garansi, komponen tersebut justru bukan penyebab kerusakan yang paling sering terjadi.

(Sumber: Carscoops)