GEBRAK.ID, TANGSEL -- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan pentingnya pendidikan antikorupsi sebagai fondasi pembentukan karakter murid yang jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Internalisasi Pendidikan Antikorupsi dan Implementasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang digelar di Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, Selasa (28/7/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Inspektorat Jenderal Kemendikdasmen bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikdasmen itu menjadi bagian dari strategi memperkuat budaya integritas di lingkungan pendidikan sekaligus menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.
Penasehat DWP Kemendikdasmen, Masmidah Abdul Mu'ti, mengatakan Indonesia saat ini berada pada fase penting menuju negara maju. Menurutnya, cita-cita tersebut hanya dapat diwujudkan apabila didukung sumber daya manusia yang memiliki karakter kuat dan integritas tinggi.
"Sektor pendidikan memiliki peran strategis yang tidak hanya berfungsi sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter, penanaman nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, kepedulian, keberanian, kesederhanaan, serta sikap saling menghargai kepada para generasi bangsa," ujar Masmidah saat membuka kegiatan, Selasa (28/7/2026).
Masmidah menekankan bahwa pembentukan karakter sejatinya dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua, khususnya ibu, memiliki peran penting dalam menanamkan nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan integritas sejak usia dini.
Menurut Masmidah, kebiasaan sederhana yang diterapkan di rumah akan menjadi bekal bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang menjunjung tinggi nilai-nilai antikorupsi.
"Karena itu, DWP memiliki peran penting sebagai mitra pemerintah dalam memperkuat budaya integritas, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat," katanya.
Selain keluarga, sekolah juga dinilai memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter peserta didik. Oleh sebab itu, pendidikan antikorupsi perlu berjalan beriringan dengan penciptaan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
"Sekolah yang aman dan nyaman akan melahirkan murid yang percaya diri, berani, menghargai keberagaman, serta mampu mengembangkan karakter positif. Dari lingkungan pendidikan, nilai-nilai antikorupsi akan tumbuh dan menjadi bagian dari budaya sehari-hari," jelas Masmidah.
Senada dengan itu, Inspektur Jenderal Kemendikdasmen, Faisal Syahrul, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan memperkuat pemahaman seluruh warga sekolah mengenai pentingnya integritas sekaligus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan.
Menurut Faisal, pendidikan tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga harus mampu membangun moral dan karakter peserta didik.
"Penanaman nilai kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, dan kepedulian menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan korupsi. Penguatan budaya antikorupsi harus dimulai sejak dini melalui pendidikan karakter yang diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah," ujarnya.
Faisal menambahkan, keberhasilan membangun budaya sekolah yang aman dan berintegritas membutuhkan kolaborasi seluruh ekosistem pendidikan, mulai dari keluarga, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, media massa, hingga masyarakat luas.
"Semoga seluruh warga sekolah semakin memahami pentingnya nilai-nilai integritas serta mampu mengimplementasikan budaya sekolah yang aman dan nyaman secara berkelanjutan. Dengan demikian, satuan pendidikan diharapkan menjadi ruang yang kondusif bagi tumbuh kembang murid sekaligus melahirkan generasi yang berkarakter, berintegritas, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045," kata Faisal.
Kegiatan ini digelar secara hibrida dengan melibatkan sekitar 1.000 peserta secara daring dan 150 peserta luring yang terdiri atas kepala sekolah, guru di Kota Tangerang Selatan, pengurus DWP Kemendikdasmen, serta perwakilan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemendikdasmen di Jawa Barat dan Banten.
Untuk memperkaya materi, forum tersebut juga menghadirkan narasumber dari berbagai institusi, termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pusat Penguatan Karakter, Inspektorat Jenderal Kemendikdasmen, serta psikolog yang membahas strategi pencegahan kekerasan di lingkungan satuan pendidikan.
(Sumber: Kemendikdasmen)
