Editor: A. Rayyan K
Kapolsek Jagakarsa, Kompol Nurma Dewi, memberikan pernyataan kepada wartawan di SD Negeri Srengseng Sawah 15 Pagi, Jakarta, Senin (13/7/2026). (Foto: Tangkapan layar Antara)
GEBRAK.ID, JAKARTA – Polda Metro Jaya bergerak cepat mengungkap kasus dugaan teror bom yang sempat menggegerkan SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Polisi telah mengamankan seorang pria berinisial MY yang diduga sebagai pelaku pengiriman ancaman bom melalui pesan WhatsApp kepada guru dan staf tata usaha sekolah.
Penangkapan dilakukan pada Senin (13/7/2026), hanya beberapa jam setelah ancaman tersebut memicu kepanikan di lingkungan sekolah yang sedang menggelar hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, membenarkan bahwa terduga pelaku telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
"Pelaku satu orang berinisial MY dengan alamat di sekitar lokasi kejadian sekolah sudah diamankan," ujar Budi Hermanto kepada wartawan.
Meski demikian, polisi belum mengungkap identitas lengkap maupun motif di balik aksi teror tersebut. Penyidik masih melakukan pendalaman untuk mengetahui tujuan pelaku mengirimkan ancaman tersebut.
"Masih dalam pendalaman penyidik terkait tujuan dan motif dari yang bersangkutan," katanya.
Sebelumnya, Kapolsek Jagakarsa Kompol Nurma Dewi mengungkapkan bahwa polisi telah lebih dulu mengantongi identitas pelaku sebelum akhirnya berhasil melakukan penangkapan.
Menurut Nurma, pesan ancaman yang dikirim melalui aplikasi WhatsApp menyebutkan adanya bom yang diklaim telah dipasang di 11 titik di lingkungan sekolah.
Mendapat informasi tersebut, pihak sekolah langsung melaporkan kejadian kepada kepolisian. Aparat kemudian bergerak cepat mengamankan lokasi dan mengevakuasi seluruh kegiatan MPLS demi keselamatan para siswa.
"Semua langsung bergerak. Tim Inafis, Damkar, camat, lurah, Dinas Kesehatan hingga Dinas Pendidikan datang ke sekolah untuk memastikan kondisi aman bagi anak-anak maupun orang tua," ujar Nurma.
Tim gabungan yang terdiri atas personel Gegana, Densus 88 Antiteror Polri, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), serta unit anjing pelacak langsung melakukan penyisiran secara menyeluruh di area sekolah.
Proses pemeriksaan berlangsung selama sekitar empat jam. Hasilnya, petugas tidak menemukan bom maupun benda mencurigakan di lingkungan SDN Srengseng Sawah 15 Pagi.
"Dari Gegana, Densus 88, BNPT, hingga anjing pelacak melakukan penyisiran. Setelah selesai, lokasi dinyatakan aman," jelas Nurma.
Meski kondisi sekolah dinyatakan aman, kegiatan hari pertama MPLS terpaksa dihentikan untuk mengantisipasi risiko dan memberikan rasa aman kepada peserta didik serta orang tua.
Sementara itu, kepastian mengenai pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada Selasa (14/7/2026) masih menunggu hasil koordinasi antara pihak sekolah, Suku Dinas Pendidikan, dan Pemerintah Kota Jakarta Selatan.
Dalam proses penyelidikan, polisi telah memeriksa sedikitnya tiga saksi, termasuk guru kelas I dan staf tata usaha yang menerima pesan ancaman tersebut. Rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar sekolah juga diperiksa sebagai bagian dari pengumpulan barang bukti.
Kasus ini bermula ketika polisi menerima laporan sekitar pukul 07.30 WIB, bertepatan dengan pelaksanaan upacara hari pertama MPLS. Ancaman yang beredar di kalangan guru membuat pihak sekolah segera mengambil langkah dengan melapor kepada aparat kepolisian.
Hingga kini, penyidik masih mendalami motif pelaku sekaligus memastikan tidak ada pihak lain yang terlibat dalam aksi teror tersebut.
(Sumber: Polri)