PSSI Ungkap Kendala Terbesar Sepak Bola Putri Indonesia, Bukan Minat Pemain tapi Anggaran

Para pemain timnas sepak bola putri Indonesia merayakan kemenangan. (Foto: Dok.PSSI)
Editor: Damar Pratama

GEBRAK.ID, JAKARTA -- Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) mengungkap tantangan terbesar dalam pengembangan sepak bola putri di Tanah Air. Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Vivin Sungkono Cahyani menyebut persoalan utama bukan berasal dari minimnya minat pemain, melainkan keterbatasan anggaran pembinaan.

Menurut Vivin, saat ini semakin banyak perempuan muda yang tertarik menekuni sepak bola. Terlebih, peningkatan prestasi Timnas Putri Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ikut mendorong tumbuhnya antusiasme masyarakat terhadap olahraga tersebut.

"Kalau bicara masalah kesulitan, kita semua tahu semuanya dari budget. Kalau keinginan kuat dari anak-anak ini untuk main sepak bola itu sudah ada," kata Vivin dalam konferensi pers Srikandi Merdeka Cup 2026 di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Vivin menilai, sepak bola putri Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang. Hal itu terlihat dari pencapaian Timnas Putri yang mampu bersaing di tingkat regional, termasuk keberhasilan menjuarai AFF Women's Cup 2026.

"Kalau dari sisi prestasi, kita enggak kalah. Kita kemarin juara AFF. Karena konsistensi dan fokus, itu yang bisa membuktikan bahwa kita bisa berprestasi," ujar Vivin.

Meski demikian, ia mengakui proses pembinaan pemain putri masih membutuhkan penguatan dari berbagai sisi, terutama dalam penyediaan kompetisi yang berjenjang dan berkelanjutan.

Kompetisi Putri Masih Terbentur Kemampuan Daerah

Vivin menjelaskan, salah satu tantangan yang dihadapi adalah kemampuan asosiasi provinsi (Asprov) PSSI dalam menyelenggarakan kompetisi sepak bola putri.

Menurutnya, Asprov saat ini sudah memiliki banyak tanggung jawab dalam menjalankan berbagai kompetisi yang menjadi program PSSI, seperti Piala Soeratin dan Liga 4. Kondisi tersebut membuat penyelenggaraan kompetisi tambahan untuk kelompok putri menjadi tantangan tersendiri.

"Sudah sebegitu banyaknya Piala Soeratin, ada Liga 4, Piala Soeratin dari U13, U15, U17 dan lain-lain, kemudian dibebankan lagi wajib menyelenggarakan kompetisi putri, Asosiasi Provinsinya enggak mampu," jelas Vivin.

Karena itu, menurut Vivin, diperlukan dukungan bersama antara federasi, pemerintah, dunia usaha, dan pihak swasta agar pembinaan sepak bola putri dapat berjalan lebih optimal.

Dukungan Swasta Jadi Penguat Pembinaan

Dalam keterbatasan anggaran tersebut, Vivin mengapresiasi kontribusi pihak swasta yang ikut membantu membangun ekosistem sepak bola putri Indonesia.

Salah satu program yang mendapat perhatian PSSI adalah pembinaan yang dijalankan Yayasan Bakti Olahraga Djarum Foundation melalui berbagai jenjang usia.

Program tersebut mencakup MilkLife Soccer Challenge (MLSC) untuk kelompok usia U10 dan U12, Hydroplus Soccer League (HSL) untuk usia U15 hingga U18, serta Srikandi Merdeka Cup untuk kategori U16.

Menurut Vivin, pembinaan berjenjang seperti itu menjadi jawaban atas kebutuhan sepak bola putri Indonesia yang selama ini masih mencari pola terbaik.

"Trilogi yang sudah dijalankan Yayasan Bakti Olahraga Djarum sudah menjawab tantangan yang selama bertahun-tahun tidak ada solusi di PSSI. Saya berharap konsistensi dan support ini bisa continue," kata Vivin.

PSSI berharap kolaborasi berbagai pihak dapat mempercepat perkembangan sepak bola putri nasional, baik dari sisi jumlah pemain, kualitas kompetisi, maupun prestasi internasional.

(Sumber: PSSI)