GEBRAK.ID, TANGERANG SELATAN -- Langkah Gus Hery Haryanto Azumi menuju kontestasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus bergulir. Menjelang Muktamar ke-35 NU, ia aktif bersilaturahim ke sejumlah kiai dan pengurus Nahdlatul Ulama guna memohon doa restu sekaligus menyerap aspirasi.
Terbaru, Rabu (29/7/2026) malam, Gus Hery bersama tim mengunjungi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Tangerang Selatan, KH. Abdullah Mas'ud, di kediamannya di Tangerang Selatan (Tangsel), Banten.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Selain mempererat silaturahim, dialog yang berlangsung lebih dari satu jam itu membahas masa depan Nahdlatul Ulama serta pentingnya menjaga persatuan menjelang Muktamar ke-35 NU.
Dalam kunjungan tersebut, Gus Hery didampingi Ketua Tim Pemenangan Dr. H. Fadli Yasir, MM; bersama Dr. Eng. Muhammad Kozin, MSc; Dr. Akhmad Khusyairi, ST., M.Eng.; Ardiansyah, MA; dan Syaiful Anwar, SE.
Maju Setelah Istikharah dan Musyawarah
Mengawali pertemuan, Dr. Eng. Muhammad Kozin menjelaskan bahwa silaturahim tersebut merupakan bagian dari ikhtiar memperkenalkan pencalonan Gus Hery sekaligus memohon doa restu kepada para ulama.
"Sebagai warga Tangerang Selatan, kami merasa penting untuk sowan kepada Ketua PCNU Tangerang Selatan. Kami datang bukan hanya untuk bersilaturahim, tetapi juga memohon doa restu kepada Kiai Abdullah Mas'ud. Pencalonan Gus Hery lahir dari banyaknya dorongan para sahabat dan kader NU yang berharap hadirnya alternatif kepemimpinan dalam Muktamar mendatang," ujar Kozin.
Di hadapan KH. Abdullah Mas'ud, Gus Hery mengaku keputusan maju sebagai calon Ketua Umum PBNU bukan diambil secara spontan. Ia menyebut langkah tersebut merupakan hasil perenungan panjang, istikharah, serta musyawarah bersama keluarga dan sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama.
"Terus terang, pada awalnya saya sama sekali tidak membayangkan akan ikut dalam kontestasi Muktamar NU. Sampai suatu hari saya dipanggil Kiai Fadli dan ditanya, 'Apakah ada keberanian jika harus ikut kontestasi?' Saya tidak langsung menjawab. Saya meminta waktu untuk beristikharah, berdiskusi dengan keluarga, dan meminta pandangan dari sejumlah sahabat, di antaranya Gus Ipul, Cak Imin, Gus Yahya, serta beberapa tokoh lainnya," ungkap Gus Hery.
Setelah melalui berbagai pertimbangan selama dua hari, ia akhirnya memutuskan menerima dorongan tersebut dengan niat mengabdi kepada organisasi.
"Nawaitu, bismillah saya ikut maju. Saya yakin, apabila niat ini benar-benar diniatkan untuk berkhidmah kepada jam'iyah, Allah akan menunjukkan jalannya. Target kami sederhana, memaksimalkan ikhtiar dengan niat yang lurus. Soal hasil, itu sepenuhnya kami serahkan kepada Allah SWT dan kepada para ahlul halli wal aqdi di Muktamar nanti," kata Gus Hery.
Serap Aspirasi Kiai di Berbagai Daerah
Gus Hery menegaskan dirinya bersama tim menyadari tidak mungkin mengunjungi seluruh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) maupun Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Indonesia. Karena itu, setiap kesempatan silaturahim dimanfaatkan untuk meminta nasihat, doa, dan menyerap aspirasi para kiai.
"Kami melakukan langkah-langkah yang mungkin terlihat sederhana, bahkan acak, karena kami sadar tidak mungkin mampu bersilaturahim kepada seluruh PWNU dan PCNU. Maka setiap kesempatan kami manfaatkan untuk memohon doa, restu, dan dukungan para kiai," kata Gus Hery menjelaskan. "Kami berharap ikhtiar ini jadi jalan untuk membangkitkan kembali kesadaran ruhani dalam berorganisasi, mengembalikan NU pada ruh khidmah, dan menormalkan kembali hal-hal yang selama ini mungkin terasa belum berjalan sebagaimana mestinya."
KH. Abdullah Mas'ud Apresiasi Niat Gus Hery
Ketua PCNU Tangerang Selatan KH. Abdullah Mas'ud menyambut baik kunjungan tersebut. Menurutnya, tradisi kader NU mendatangi para kiai untuk meminta nasihat dan doa merupakan budaya organisasi yang harus terus dijaga.
"Ini luar biasa. Jarang-jarang ada kader muda yang berani tampil dengan niat sungguh-sungguh untuk berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama. Tradisi seperti inilah yang harus terus hidup di NU, yakni kader datang kepada para kiai, meminta nasihat, doa, dan restu, bukan sekadar mengejar jabatan," ujar KH. Abdullah Mas'ud.
"Potensi Gus Hery cukup besar. Beliau memiliki modal dasar yang sangat baik karena pernah memimpin badan otonom NU. Pengalaman seperti itu sangat berharga dan tidak dimiliki semua kader. Karena itu, yang terpenting adalah kesiapan, kapasitas, integritas, dan niat untuk mengabdi," kata KH. Abdullah Mas'ud.
Di akhir pertemuan, KH. Abdullah Mas'ud memimpin doa bersama agar seluruh proses menuju Muktamar NU ke-35 berlangsung dengan penuh keberkahan dan tetap menjunjung tinggi ukhuwah serta semangat musyawarah.
"Semoga Allah SWT meluruskan niat, memudahkan setiap langkah, memberikan kesehatan, kekuatan, dan kebijaksanaan kepada Gus Hery. Jika ikhtiar ini memang diniatkan untuk kemajuan Nahdlatul Ulama dan kemaslahatan umat, semoga Allah membukakan jalan terbaik serta memberikan hasil yang paling membawa keberkahan bagi jam'iyah," doa KH. Abdullah Mas'ud.
Silaturahim tersebut menjadi bagian dari rangkaian konsolidasi yang terus dilakukan Gus Hery Haryanto Azumi bersama para ulama dan pengurus NU di berbagai daerah menjelang Muktamar ke-35 NU, dengan harapan proses regenerasi kepemimpinan berlangsung dalam semangat persaudaraan, musyawarah, dan pengabdian kepada Nahdlatul Ulama. (*)

