Kebakaran Hutan Parah Kepung Kalimantan, BNPB Ungkap Kondisi dan Langkah Penanganan
Sebaran tanda kebakaran di Google Maps memicu kekhawatiran warganet. BNPB menyebut risiko karhutla di Kalimantan masih tinggi hingga puncak musim kemarau. (Foto: BPBD)
GEBRAK.ID,JAKARTA — Sebaran tanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan yang terlihat melalui fitur Wildfires Google Maps menjadi perhatian publik. Tanda berwarna merah dengan keterangan severe fire tampak tersebar di sejumlah wilayah, dengan konsentrasi yang terlihat cukup padat di Kalimantan Selatan.
Kemunculan peta tersebut ramai dibahas warganet karena berlangsung di tengah musim kemarau yang relatif kering. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap meluasnya karhutla, munculnya kabut asap, hingga dampaknya terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat.
Namun, tampilan tanda kebakaran di Google Maps perlu dibaca secara hati-hati. Penanda pada peta merupakan informasi berbasis pemantauan kebakaran dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah pasti titik api atau luas lahan yang terbakar di lapangan.
Risiko Karhutla Kalimantan Masih Tinggi
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya telah memperingatkan peningkatan risiko karhutla pada periode Agustus-September 2026. Dalam rapat koordinasi penanganan karhutla pada 10 Agustus 2026, BNPB menyebut risiko tinggi kebakaran meluas terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Enam provinsi menjadi prioritas penanganan, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Hingga 9 Agustus 2026, luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas tersebut mencapai sekitar 48.889,69 hektare. Kalimantan Barat mencatat luasan terbesar, yakni sekitar 28.680,47 hektare. Selanjutnya Kalimantan Tengah sekitar 3.069,52 hektare dan Kalimantan Selatan sekitar 383,07 hektare.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan karhutla di Kalimantan bukan sekadar fenomena yang terlihat di peta digital, tetapi juga telah menjadi persoalan nyata yang membutuhkan penanganan di lapangan.
BNPB Perkuat Operasi Darat dan Udara
BNPB mengatakan operasi darat menjadi salah satu kekuatan utama dalam menghadapi karhutla, terutama karena pemadaman di lahan gambut membutuhkan proses pendinginan dan penyisiran setelah api terlihat padam. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tetap dilakukan sebagai dukungan. Namun, pelaksanaannya sangat bergantung pada keberadaan awan yang memenuhi syarat untuk penyemaian. Karena itu, ketika kondisi awan tidak memungkinkan, operasi darat menjadi sangat penting.
BNPB pada pertengahan Agustus juga menyiagakan 35 unit armada untuk mendukung penanganan karhutla. Armada tersebut terdiri dari 12 helikopter atau pesawat patroli, 21 helikopter water bombing, dan dua pesawat OMC. BNPB juga mengupayakan tambahan delapan helikopter water bombing.
Khusus di Kalimantan Tengah, BNPB sebelumnya memperkuat operasi OMC dan mengarahkan penyemaian bahan NaCl ke wilayah dengan tingkat kebakaran tinggi, termasuk Pulang Pisau dan Palangka Raya.
El Nino Membuat Kondisi Makin Kering
Faktor cuaca turut meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan kondisi Indonesia pada periode 18-24 Agustus masih didominasi cuaca relatif kering karena sebagian besar wilayah telah memasuki musim kemarau. BMKG mencatat sebanyak 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada Dasarian I Agustus. Curah hujan kategori rendah juga mendominasi 90,79 persen wilayah Indonesia.
Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terpantau terutama di Kalimantan dan Papua. Kondisi tersebut sejalan dengan keadaan cuaca yang relatif kering di sebagian wilayah. BMKG juga menyebut pengaruh El Nino dengan intensitas sangat kuat serta IOD positif cenderung mengurangi suplai uap air ke Indonesia sehingga mempertahankan kondisi atmosfer yang relatif kering.
Curah hujan rendah masih berpeluang mendominasi sejumlah wilayah Kalimantan dalam beberapa dasarian ke depan. Masyarakat Diminta WaspadaDi tengah kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan karhutla. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan indikasi titik api agar dapat ditindaklanjuti oleh pihak berwenang. Dengan risiko karhutla yang masih tinggi hingga periode puncak kemarau, sebaran tanda kebakaran di peta digital menjadi pengingat bahwa kewaspadaan perlu ditingkatkan. Penanganan tidak hanya membutuhkan pemadaman ketika api muncul, tetapi juga pencegahan agar kebakaran tidak meluas, khususnya di kawasan gambut yang berpotensi menyimpan bara di bawah permukaan.
(berbagai sumber)
