BNPB Minta Warga NTT Tetap Siaga, Gempa Susulan Capai 3.752 Kali
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 3.752 gempa bumi susulan setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Tangkapan layar BMKG)
Editor: Saeful Imam
GEBRAK.ID, JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat di wilayah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap waspada. Imbauan tersebut disampaikan karena aktivitas gempa susulan masih cukup tinggi dan sejumlah guncangan masih terasa kuat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan gempa susulan.
“Dengan masih banyaknya gempa susulan dan tergolong besar, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan tetap siap siaga,” ujar Berton dalam konferensi pers yang diikuti secara daring dari Jakarta, Kamis (20/8/2026).
BNPB mencatat sebanyak 3.752 gempa susulan terjadi di wilayah terdampak hingga Kamis pukul 16.00 WIB. Beberapa di antaranya memiliki kekuatan yang cukup besar dan masih dirasakan oleh masyarakat.
Salah satu gempa susulan terjadi pada Kamis pukul 10.47 waktu setempat dengan kekuatan 5,7 magnitudo. Kondisi tersebut membuat warga perlu lebih berhati-hati, terutama ketika hendak kembali ke rumah atau bangunan yang sebelumnya terdampak gempa.
Berton mengingatkan masyarakat untuk tidak terburu-buru memasuki bangunan yang terdampak sebelum memastikan kondisinya aman. Kerusakan struktur bangunan dapat menimbulkan risiko tambahan ketika gempa susulan kembali terjadi. “Bagi warga di daerah terdampak perlu dipastikan kondisi bangunan apabila akan memasuki bangunan tersebut,” ujarnya.
Aktivitas gempa yang masih berlangsung juga berpengaruh terhadap jumlah warga yang mengungsi. Hingga Kamis pukul 16.00 WIB, BNPB mencatat 92.735 jiwa telah mengungsi di sejumlah wilayah terdampak.
Jumlah tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan data sebelumnya yang mencapai 59.647 jiwa. Artinya, terdapat tambahan 33.088 warga yang kini berada di lokasi pengungsian.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan penanganan terhadap masyarakat terdampak masih cukup besar. Selain memastikan keselamatan warga, pemerintah dan petugas di lapangan perlu terus memantau perkembangan aktivitas gempa serta kondisi tempat tinggal masyarakat.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan aktivitas gempa susulan setelah gempa bermagnitudo 7,7 di Flores, NTT, masih akan berlangsung dalam beberapa pekan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, proses peluruhan gempa susulan membutuhkan waktu karena gempa utama memiliki kekuatan yang besar.
“Karena ini gempanya cukup besar, 7,7 magnitudo, jadi peluruhannya memerlukan waktu kurang lebih tiga sampai empat minggu ke depan,” kata Teuku Faisal di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Dengan kondisi tersebut, BNPB meminta masyarakat tidak mengabaikan setiap perkembangan gempa yang terjadi. Warga juga perlu mengikuti informasi resmi dari pemerintah, BNPB, BMKG, dan pihak berwenang agar dapat mengambil langkah yang tepat ketika terjadi guncangan.
Kewaspadaan terutama diperlukan bagi warga yang bangunannya mengalami kerusakan. Memastikan keamanan struktur sebelum kembali menempati rumah menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko akibat gempa susulan.
(Sumber: BNPB/BMKG)
