Tragedi Ceuta Makin Memilukan, 90 Migran Asal Maroko Tewas Saat Berusaha Masuk ke Wilayah Spanyol

Para migran tanpa dokumen—sebagian besar pria muda—yang memasuki wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, secara ilegal mulai kembali ke Maroko setelah menyadari kecilnya peluang mereka untuk mendapatkan status legal di Spanyol (31/7/2026). (Foto: Anadolu Agency/Abu Adem Muhammed)
Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID -- Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di perbatasan Afrika Utara. Sedikitnya 90 migran dilaporkan meninggal dunia saat berupaya memasuki wilayah kantong Spanyol di Ceuta dari Maroko, di tengah gelombang migrasi besar yang melanda kawasan tersebut.

Laporan stasiun radio Cadena Ser yang mengutip sejumlah sumber pada Minggu (2/8/2026), menyebutkan aparat Spanyol telah menemukan 74 jenazah, sementara otoritas Maroko menemukan 16 korban lainnya.

Peristiwa ini menjadi salah satu insiden paling mematikan dalam krisis migrasi yang terjadi di Ceuta dalam beberapa tahun terakhir.

Gelombang migran meningkat tajam pada akhir Juli 2026 ketika puluhan ribu orang mencoba menyeberang dari Maroko menuju Ceuta, wilayah Spanyol yang berada di pesisir utara Afrika.

Wali Kota sekaligus Presiden Ceuta, Juan Jesus Vivas, sebelumnya mengungkapkan sekitar 60.000 orang memasuki wilayah tersebut dari Maroko hanya dalam satu hari.

Lonjakan kedatangan migran itu memicu situasi darurat di kawasan perbatasan. Kerusuhan sempat terjadi sehingga pemerintah Spanyol mengerahkan tambahan personel kepolisian, Garda Sipil, dan militer untuk mengendalikan situasi.

Ceuta merupakan wilayah kantong milik Spanyol yang berbatasan langsung dengan Maroko. Bersama Melilla, kawasan ini menjadi satu-satunya perbatasan darat antara Afrika dan Uni Eropa.

Karena posisinya yang strategis, Ceuta selama bertahun-tahun menjadi salah satu jalur utama bagi para migran yang berusaha memasuki wilayah Uni Eropa secara ilegal demi mencari kehidupan yang lebih baik.

Organisasi-organisasi kemanusiaan selama ini berulang kali mengingatkan tingginya risiko yang dihadapi para migran dalam perjalanan menuju Eropa. Selain menghadapi kondisi alam yang berbahaya, mereka juga rentan menjadi korban penyelundupan manusia dan berbagai bentuk eksploitasi.

Hingga kini, otoritas Spanyol dan Maroko masih melakukan penanganan terhadap dampak krisis tersebut, termasuk proses identifikasi korban serta pengamanan wilayah perbatasan yang masih dipadati para migran.

(Sumber: Sputnik/RIA Novosti)