OJK Ingatkan Generasi Muda: Jangan Biarkan FOMO Mengendalikan Keputusan Keuangan

Desain Edukasi OJK untuk Anak Muda

Survei OJK bersama LPS dan BPS menunjukkan indeks inklusi keuangan nasional telah mencapai 93,61 persen, sedangkan indeks literasi keuangan berada pada level 69,57 persen. (Foto: Ilustrasi AI/Gebrak.Id/OJK)

GEBRAK.ID, SERANG — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terjebak Fear of Missing Out (FOMO) dan Fear of Other People’s Opinions (FOPO) ketika mengambil keputusan keuangan, terutama di tengah maraknya investasi digital dan informasi finansial di media sosial.

Peringatan tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku, Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, dalam program Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) 2026 bertema “Money Moves: Invest Today, Build Your Future” di Convention Hall UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Kota Serang, Banten, Selasa (8/9/2026).

Peringatan OJK tersebut memiliki relevansi dengan hasil SNLIK 2026. Survei OJK bersama LPS dan BPS menunjukkan indeks inklusi keuangan nasional telah mencapai 93,61 persen, sedangkan indeks literasi keuangan berada pada level 69,57 persen.

Kesenjangan tersebut lebih terlihat pada kelompok pelajar dan mahasiswa. Indeks inklusi keuangan kelompok ini mencapai 92,76 persen, sedangkan indeks literasinya hanya 62,72 persen. Dengan demikian, akses terhadap layanan keuangan telah jauh lebih luas dibandingkan tingkat pemahaman yang diperlukan untuk memanfaatkannya secara optimal.

Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah perkembangan layanan keuangan digital. Kemudahan transaksi dan akses informasi dapat memberikan manfaat besar, tetapi sekaligus membuka ruang bagi munculnya risiko apabila konsumen tidak memiliki pengetahuan dan kehati-hatian yang memadai.

Penguatan Edukasi Keuangan
OJK mencatat penguatan edukasi keuangan terus dilakukan secara masif. Sepanjang 1 Januari hingga 31 Agustus 2026, OJK telah menyelenggarakan 3.557 kegiatan edukasi keuangan dengan jangkauan 12.245.054 peserta. Pada periode yang sama, platform edukasi digital Sikapi Uangmu menerbitkan 260 konten edukasi dengan total 2.575.295 penayangan.

Dicky menilai generasi muda merupakan kelompok yang sangat dekat dengan teknologi digital. Namun, kemampuan menggunakan teknologi tidak serta-merta membuat seseorang memiliki kemampuan mengelola keuangan secara baik.

Menurutnya, semakin mudah masyarakat mengakses produk dan layanan keuangan, semakin penting kemampuan untuk memahami risiko dan mengambil keputusan secara sadar serta bertanggung jawab.

Dicky merumuskan tiga kata kunci yang perlu diterapkan generasi muda dalam mengelola keuangan, yaitu kelola, lindungi, dan tumbuhkan. “Kelola uang kita sebelum uang mengendalikan pilihan kita. Lindungi apa yang sudah kita miliki dengan selalu ingat legal dan logis, serta tumbuhkan semuanya dengan tujuan yang jelas,” ujar Dicky.

Menurut OJK, kecakapan tersebut diperlukan agar generasi muda tidak mengambil keputusan hanya karena mengikuti tren, tekanan lingkungan sosial, atau rekomendasi yang belum teruji. (*)

(Zaky Al Hamzah)
(Sumber: OJK)