
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti. (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID; JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengungkapkan hasil sementara Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP 2026 menunjukkan pola yang tak jauh berbeda dengan capaian TKA SMA tahun lalu. Temuan ini menjadi sinyal kuat bahwa persoalan literasi dan numerasi siswa masih menjadi pekerjaan rumah besar dunia pendidikan nasional.
“Hasil dua hari pelaksanaan TKA SMP sudah bisa diketahui dan tidak jauh berbeda dengan hasil TKA SMA,” ujar Mendikdasmen Mu’ti di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Kamis (9/4/2026).
Data tersebut dihimpun oleh Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) dan dipaparkan langsung oleh Kepala BSKAP, Toni Toharudin. Meski TKA SMP masih berlangsung di sejumlah sekolah hingga 16 April 2026, pola capaian awal sudah terlihat, terutama pada mata pelajaran matematika.
Mendikdasmen Mu’ti mengakui kemampuan numerasi siswa masih tertinggal. Dari 30 soal matematika yang diujikan, terdapat kecenderungan jawaban benar yang belum memuaskan. “Masalah kita memang belum terselesaikan. Ini harus menjadi alarm bagi negara,” tegasnya.
Sejalan dengan Skor PISA 2022
Menurut Mendikdasmen Mu’ti, hasil TKA tidak jauh berbeda dengan capaian Indonesia dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2022. Dalam laporan tersebut, skor matematika siswa Indonesia berada di angka 366, membaca 359, dan sains 383. Secara peringkat global, Indonesia berada di posisi bawah untuk literasi membaca (peringkat 71) dan matematika (peringkat 70).
Data TKA SMA 2025 pun memperlihatkan gambaran serupa. Rata-rata nilai Matematika hanya 36,10, Bahasa Inggris 24,93, dan Bahasa Indonesia 55,38. Angka-angka ini menunjukkan tantangan mendasar dalam penguasaan kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung.
Mendikdasmen Mu’ti menilai kondisi ini tak lepas dari dampak learning loss dan learning poverty yang terjadi beberapa tahun terakhir. “Kita belum sepenuhnya pulih dari persoalan rendahnya literasi dan numerasi,” ujarnya.
Pelatihan 1.500 Guru dan Pendekatan Deep Learning
Sebagai respons, Kemendikdasmen menggulirkan program penguatan kapasitas guru. Sebanyak 1.500 guru dari 500 sekolah dasar di enam daerah—Kabupaten Tegal, Kota Medan, Kota Pematang Siantar, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Sikka, dan Kabupaten Ende—akan mendapat pelatihan intensif.
Program ini menggandeng lembaga kredibel seperti Tanoto Foundation, Gates Foundation, dan United Nations Children's Fund (UNICEF).
Pendekatan yang diusung adalah deep learning, kebijakan yang mulai dicanangkan sejak Oktober 2024. Model ini tidak sekadar mengubah metode mengajar, tetapi juga menata ulang strategi pembelajaran, pemanfaatan buku teks, serta penguatan praktik literasi dan numerasi di kelas.
Mendikdasmen Mu’ti berharap pendekatan tersebut mampu mempercepat pemulihan kualitas pembelajaran. “Dengan deep learning, kita ingin menyelesaikan persoalan fundamental secara lebih sistematis,” katanya.
Hasil akhir TKA SMP 2026 akan diumumkan setelah seluruh sesi selesai. Namun sinyal awal sudah cukup jelas: penguatan numerasi dan literasi harus menjadi prioritas bersama jika Indonesia ingin meningkatkan daya saing sumber daya manusia di tingkat global.
(Sumber: Kemendikdasmen)
Posting Komentar untuk "Hasil TKA SMP 2026 Mirip SMA, Mendikdasmen Mu'ti Soroti Lemahnya Numerasi Siswa"