AI Makin Mengancam Lapangan Kerja, Menaker Ajak Negara Asia Pasifik Bersatu Siapkan SDM Masa Depan

Menaker Yassierli dalam pertemuan tingkat menteri Asia Pacific Group (ASPAG) yang menjadi bagian dari International Labour Conference ke-114 di Jenewa, Swiss, Selasa (9/6/2026). (Foto: Humas Kemnaker)
Editor: Devona R 

GEBRAK.ID; JENEWA – Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan teknologi digital mulai mengubah wajah dunia kerja secara global. Di tengah kekhawatiran semakin banyak pekerjaan yang berpotensi tergeser otomatisasi, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengajak negara-negara Asia Pasifik memperkuat kerja sama dalam pengembangan keterampilan tenaga kerja agar mampu menghadapi tantangan era baru.

Ajakan tersebut disampaikan Yassierli dalam pertemuan tingkat menteri Asia Pacific Group (ASPAG) yang menjadi bagian dari International Labour Conference ke-114 di Jenewa, Swiss, Selasa (9/6/2026).

Menurut Menaker, kawasan Asia Pasifik saat ini menghadapi persoalan ketenagakerjaan yang semakin kompleks. Selain tingginya angka pengangguran dan meningkatnya sektor pekerjaan informal, kemajuan teknologi dan AI juga menghadirkan risiko pergeseran berbagai jenis pekerjaan yang selama ini dikerjakan manusia.

"Indonesia percaya kerja sama antarnegara kini semakin penting. Tantangan ketenagakerjaan tidak bisa dihadapi sendiri. Kekuatan kita ada pada kemauan untuk saling berbagi praktik baik dan saling belajar," kata Yassierli.

Ia menegaskan bahwa di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pengembangan keterampilan tenaga kerja menjadi salah satu prioritas nasional. Langkah tersebut dilakukan untuk mengatasi kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan industri yang terus berubah akibat transformasi digital.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, pemerintah menjalankan Program Pemagangan Nasional bagi lulusan perguruan tinggi. Program ini memberikan pengalaman kerja selama enam bulan dengan dukungan uang saku setara upah minimum. Pada 2026, program tersebut ditargetkan menjangkau 150 ribu peserta.

Selain itu, pemerintah juga mengembangkan Program Pelatihan Vokasi Nasional yang menyasar lulusan SMA dan sederajat dengan target 300 ribu peserta. Kedua program tersebut dirancang inklusif dengan membuka kesempatan yang sama bagi perempuan, penyandang disabilitas, serta masyarakat di wilayah terpencil.

Yassierli menilai perubahan teknologi tidak boleh menjadi ancaman yang membuat pekerja tertinggal. Sebaliknya, kemajuan AI harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk meningkatkan keterampilan, memperluas akses kerja, dan memperkuat daya saing tenaga kerja nasional.

"Indonesia siap berbagi dan belajar. Kita memiliki banyak hal yang dapat saling ditawarkan untuk membangun kawasan yang lebih kuat dan tangguh bagi para pekerja," ujarnya.

Sejumlah lembaga internasional sebelumnya juga memperingatkan bahwa otomatisasi dan AI akan mengubah jutaan pekerjaan dalam satu dekade ke depan. Karena itu, peningkatan keterampilan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling) dinilai menjadi kunci agar tenaga kerja tetap relevan di tengah revolusi industri berbasis teknologi.

(Sumber: Biro Humas Kemnaker)