Editor: Devona R
Ita Kurniawati, mahasiswi Universitas Negeri Semarang (Unnes), yang sukses lulus dengan presentasi novel karyanya. (Foto: Unnes)
GEBRAK.ID; SEMARANG – Kebanyakan mahasiswa menyelesaikan pendidikan sarjana melalui skripsi atau artikel ilmiah. Namun, Ita Kurniawati memilih jalur yang berbeda.
Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu berhasil meraih kelulusan setelah mempresentasikan novel hasil karyanya sendiri sebagai tugas akhir.
Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas dan karya sastra kini mendapat ruang yang semakin luas dalam dunia akademik. Ita dinyatakan lulus usai menjalani ujian karya pada Rabu (3/6/2026) dengan mempresentasikan novel terbarunya berjudul Can We Start Over yang telah diterbitkan oleh Akad Media Cakrawala.
Koordinator Program Studi Sastra Indonesia FBS Unnes, Suseno, menjelaskan bahwa program studi memberikan berbagai pilihan bentuk tugas akhir yang dapat ditempuh mahasiswa sesuai kompetensi dan bidang keilmuan yang ditekuni.
Menurut Suseno, selain novel, mahasiswa juga dapat menghasilkan karya kreatif lain seperti kumpulan cerpen, puisi, dongeng, film, naskah drama hingga pementasan teater sebagai bentuk tugas akhir.
“Karya kreatif yang sedang dan telah ditempuh mahasiswa meliputi novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, kumpulan dongeng, film, naskah drama, dan pementasan teater,” ujar Suseno.
Meski berbentuk karya kreatif, proses akademiknya tetap ketat. Dalam ujian, mahasiswa wajib memaparkan laporan proses kreatif sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah atas karya yang dihasilkan. Presentasi Ita pun tidak hanya dinilai oleh dosen penguji, tetapi juga disaksikan oleh mahasiswa lainnya.
Nama Ita sendiri bukan sosok baru di dunia literasi digital. Penulis muda tersebut mengawali karier kepenulisannya melalui platform Wattpad dan telah menerbitkan 12 novel. Salah satu karyanya yang berjudul *Samuel* bahkan dilirik industri hiburan setelah hak adaptasinya dibeli oleh MD Entertainment dan diangkat menjadi serial.
Sementara itu, Kepala Humas Unnes, Rahmat Petuguran, menegaskan kampus terus mendorong mahasiswa untuk menghasilkan karya yang berdampak bagi masyarakat.
“Kami mendorong mahasiswa untuk berinovasi menciptakan karya yang relevan dengan keilmuan dan kebutuhan masyarakat. Dalam paradigma Kampus Berdampak, karya-karya inovatif mahasiswa bisa berdampak besar,” kata Rahmat.
Keberhasilan Ita menjadi contoh bahwa tugas akhir tidak selalu harus berbentuk skripsi konvensional. Sesuai Panduan Akademik Unnes, mahasiswa program sarjana dapat menyelesaikan studi melalui berbagai bentuk karya akademik, mulai dari skripsi, proyek, prototipe, publikasi ilmiah, hingga book chapter.
Fleksibilitas ini membuka ruang lebih luas bagi mahasiswa untuk berkarya sekaligus menjawab tantangan dunia nyata melalui bidang keilmuannya masing-masing.
(Sumber: Unnes)