GEBRAK.ID, JAKARTA - Potensi pasar wisata bagi kelompok lanjut usia (lansia) kini makin dilirik oleh industri pariwisata nasional. Berwisata tak lagi hanya milik kalangan muda, tetapi juga menjadi sarana penting bagi para senior untuk menjaga kesehatan fisik dan mental di masa tua.
Melihat tren tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak guna mengembangkan layanan pariwisata yang ramah lansia atau geronto-tourism di Indonesia.
“Mengingat saat ini banyak negara yang memiliki populasi memasuki penuaan, seperti Jepang dan Belanda, pemerintah mendorong para stakeholder pariwisata untuk mengembangkan produk wisata lansia atau geronto-tourism yang memiliki daya saing global,” kata Juru Bicara Kementerian Pariwisata, Nia Niscaya, dikutip dari Antara, Kamis (30/7/2026).
Peluang Ekonomi dari Populasi Lansia
Pengembangan wisata ramah lansia ini didukung oleh data demografi yang menunjukkan peningkatan signifikan jumlah penduduk usia lanjut. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) 2026, jumlah penduduk Indonesia berusia 60 tahun ke depan mencapai lebih dari 35 juta jiwa.
Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Azril Azhari, menilai selama ini pengembangan pariwisata Indonesia terlalu terfokus pada wisatawan muda dan sehat, sementara kelompok lansia dengan daya beli tinggi belum tergarap optimal.
“Jadi pariwisata itu untuk siapa saja, bukan hanya untuk orang-orang yang sehat. Lansia memiliki kebutuhan, preferensi, dan potensi ekonomi yang besar, tetapi belum menjadi fokus utama kebijakan,” ujarnya.
ICPI menyoroti dua pasar potensial untuk wisata lansia, yaitu Jepang dan Belanda. Wisatawan lansia dari kedua negara dikenal cenderung berwisata lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang untuk pengalaman berkualitas di masa pensiun .
Azril menjelaskan, wisatawan lansia Jepang tertarik pada aktivitas kreatif seperti melukis dan kerajinan tangan, serta olahraga ringan seperti golf di kawasan alam. Sementara wisatawan Belanda lebih tertarik pada wisata sejarah dan kesehatan, termasuk menelusuri jalur rempah Nusantara.
Manfaat Wisata bagi Kesehatan Lansia
Selain potensi ekonomi, pengembangan wisata lansia juga sejalan dengan kebutuhan menjaga kesehatan fisik dan mental. Aktivitas berwisata dapat membantu lansia terhindar dari isolasi sosial serta meningkatkan fungsi kognitif .
Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, terdapat tiga manfaat utama traveling bagi lansia: menjaga kesehatan mental melalui interaksi sosial, menjaga kesehatan fisik melalui aktivitas berjalan kaki, dan menjaga fungsi kognitif dengan bertemu hal-hal baru.
Destinasi Wisata Ramah Lansia
Kementerian Pariwisata mendorong penyediaan sarana pendukung ramah lansia seperti fasilitas kesehatan, area istirahat, hingga aksesibilitas kursi roda . Beberapa destinasi telah mulai menerapkan kebijakan tiket masuk gratis bagi pengunjung berusia 60 tahun ke atas:
1. Museum Nasional Indonesia (Jakarta)
Museum terbesar di Indonesia ini memberikan tiket gratis bagi lansia berusia 60 tahun ke atas dengan menunjukkan KTP asli. Fasilitas yang tersedia meliputi jalur aksesibilitas, ramp, lift, dan area duduk .
2. Museum Benteng Vredeburg (Yogyakarta)
Berdasarkan aturan pengelolaan cagar budaya, museum ini membebaskan tiket masuk bagi lansia. Area museum memiliki permukaan jalan yang rata dan dilengkapi jalur pemandu (guiding block).
3. Gembira Loka Zoo (Yogyakarta)
Kebun binatang legendaris ini memberikan tiket gratis khusus lansia berusia 70 tahun ke atas dengan menunjukkan KTP asli. Tersedia wahana kereta keliling untuk memudahkan mobilitas.
4. Ancol (Jakarta)
Pengelola kawasan Ancol menggelar program Senior Citizens di Jakarta Bird Land dan Sea World hingga 31 Juli 2026. Program ini memberikan tiket gratis bagi lansia minimal 60 tahun dengan menunjukkan KTP asli.
Selain itu, Kebun Raya Mangrove Gununganyar di Surabaya juga menjadi destinasi ramah lansia dengan menyediakan buggy car, sepeda listrik, dan jalur datar untuk memudahkan pengunjung senior menjelajahi area.
Tantangan dan Harapan
Meski potensinya besar, pengembangan wisata lansia masih menghadapi tantangan. Penelitian Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan sejumlah destinasi di Yogyakarta seperti Museum Sonobudoyo dan Monumen Jogja Kembali masih membutuhkan peningkatan aksesibilitas fisik dan pelayanan sosial-emosional.
ICPI juga mendorong kehadiran fasilitas medis pendukung dan dokter gerontologi di destinasi wisata untuk menjamin kenyamanan dan keamanan wisatawan lansia.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat, pengembangan geronto-tourism diharapkan membuka peluang ekonomi baru sekaligus mewujudkan pariwisata yang inklusif bagi semua kalangan.
(berbagai sumber)
