Negara tak Lagi Menunggu: 700 Anak Putus Sekolah 'Dijemput' Belajar di PJJ Mulai Agustus 2026

Siswa SMA PJJ Bagas Bagus William (dua kanan), ibunda Bagas Aas Novy (kanan), Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin (kiri), Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq (dua kiri), serta Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen Saryadi saat Bincang Media tentang Pendidikan Jarak Jauh di Jakarta Selatan pada Kamis (30/7/2026).
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID, JAKARTA – Dua tahun lamanya Bagas William hanya bisa terdiam di rumah, menatap tembok dan cita-cita yang terasa menjauh. Kecelakaan yang mengharuskannya menjalani operasi besar dan masa pemulihan panjang memaksanya mengubur mimpi untuk melanjutkan sekolah. 

Namun, takdir berkata lain. Di tengah keputusasaan sang ibu, Aas, muncullah secercah harapan bernama Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Kini, Bagas adalah satu dari lebih dari 700 Anak Tidak Sekolah (ATS) di seluruh Indonesia yang siap kembali menimba ilmu, membuktikan bahwa negara benar-benar hadir menjemput bola.

Program ini merupakan terobosan terbaru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk memastikan tidak ada satu pun generasi bangsa yang tertinggal. Dalam acara Coffee Morning bertajuk "Lebih Dekat dengan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Jenjang Pendidikan Menengah" di Jakarta, Kamis (30/7/2026), Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa ini bukan sekadar program biasa.

“PJJ adalah bentuk jawaban dari doa dan harapan. PJJ adalah jembatan meraih cita-cita. Ini adalah bentuk negara menjemput bola, tidak hanya sekadar hadir tapi negara menjemput bola," ujar Wamen Fajar dengan penuh keyakinan.

Menembus Batas Geografis dan Keterbatasan Fisik

Program PJJ ini dirancang khusus untuk menjangkau anak-anak yang selama ini tidak terakomodasi oleh sistem pendidikan reguler. Baik karena keterbatasan geografis di daerah terpencil, kendala ekonomi, maupun kondisi kesehatan yang memaksa mereka putus sekolah. 

Hingga Juli 2026, dari lebih 1.000 calon peserta yang diidentifikasi, sekitar 700 anak telah dinyatakan lolos verifikasi sebagai ATS sejati dan siap mengikuti pembelajaran mulai 3 Agustus mendatang.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus) Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menjelaskan bahwa pihaknya tidak main-main dalam menjaga kualitas program ini. Untuk memastikan pembelajaran setara dengan sekolah formal, Kemendikdasmen menggandeng dua lembaga pendidikan ternama, yaitu Universitas Terbuka dan SEAMEO SEAMOLEC.

“Kami berupaya untuk menjangkau lebih luas lagi sehingga anak-anak yang selama ini belum mendapatkan layanan pendidikan bisa kembali belajar melalui PJJ. Sekolah yang menjadi induk merupakan sekolah dengan akreditasi A, sehingga mutu pendidikannya tidak perlu diragukan," tegas Tatang.

Sistem pembelajaran yang digunakan pun modern dan fleksibel, memadukan metode sinkron (tatap muka virtual terjadwal), asinkron (belajar mandiri), serta pemanfaatan modul cetak dan digital yang telah disesuaikan dengan kurikulum merdeka.

Haru Tangis Sang Ibu di Balik Senyum Bagas

Kisah haru datang dari Bagas William, peserta PJJ asal Sragen, Jawa Tengah, yang kini terdaftar sebagai murid di SMAN 2 Semarang. Selama dua tahun, ia harus rela meninggalkan bangku sekolah untuk fokus pada pemulihan pasca kecelakaan. Namun, semangat mudanya untuk menggapai cita-cita sebagai wirausaha online tidak pernah padam.

“Saya mengikuti PJJ karena untuk mendapatkan pendidikan dan mencapai cita-cita menjadi wirausaha dengan berjualan online," ujar Bagas dengan mata berbinar.

JANGAN TERLEWATKAN Kisah Perjuangan Bagas untuk Bangkit Setelah Dua Tahun Putus Sekolah, Kini Lanjutkan SMA Lewat PJJ 

Pernyataan sederhana itu cukup untuk membuat ibunya, Aas, meneteskan air mata haru. Baginya, program ini adalah jawaban dari kekhawatiran panjang yang selama ini membayangi masa depan anaknya.

“Selama dua tahun itu anak saya tidak sekolah karena fokus untuk penyembuhan dan pemulihan. Saya selalu berpikir, gimana ya anak saya belum sekolah, sampai harus putus sekolah. Nah, saya senang sekali ada PJJ ini untuk membantu anak saya bisa tetap melanjutkan sekolah, melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi," ujar Aas dengan suara bergetar.

MPLS Serentak dan Target Perluasan ke Luar Negeri

Sebagai langkah awal, pemerintah akan menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara serentak dan daring pada 3 Agustus 2026 mendatang. Program perdana ini akan melibatkan 132 satuan pendidikan, yang terdiri dari 33 sekolah induk berakreditasi A dan 99 sekolah mitra. 

Wamen Fajar menutup sesi dengan menyampaikan visi besarnya. Pemerintah tidak berhenti di angka 700 siswa. Target ke depan adalah memperluas jangkauan PJJ tidak hanya untuk ATS di dalam negeri, tetapi juga untuk anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI) yang tinggal di negara tetangga, serta anak-anak penyandang disabilitas yang membutuhkan pendekatan pembelajaran khusus.

“Kita ingin membangun suatu ekosistem pembelajaran yang inklusif, yang adaptif. Ujung dari proses ini adalah kita ingin bangun suatu ekosistem pembelajaran yang inklusif yang adaptif sehingga no child left behind. Tidak ada satu pun anak yang tertinggal," pungkas Wamen Fajar.

Program ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah gempuran tantangan zaman, pemerintah bersama masyarakat bergandengan tangan memastikan hak pendidikan tetap menyala untuk semua anak Indonesia.

(Sumber: Kemendikdasmen)