Tiga Tahun Zero Attack, Densus 88 Beberkan Ancaman Baru Terorisme di Ruang Digital

 

Densus 88 catat tiga tahun zero attack terorisme di Indonesia. Namun, ancaman bergeser ke ranah digital dengan target anak muda dan algoritma radikalisasi. ( Foto: polri) 

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID,JAKARTA- Indonesia berhasil mencatatkan pencapaian signifikan dalam pemberantasan terorisme. Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkapkan tidak ada aksi serangan teror dalam tiga tahun terakhir, atau yang dikenal dengan istilah zero attack.

"Jadi tiga tahun ini nol serangan (zero attack), tetapi trennya menurun secara serangan," ujar Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana dalam acara peluncuran buku 'Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran' di Menara Kompas, Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Capaian ini turut diakui oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyatakan situasi keamanan nasional saat ini berada pada level waspada terkendali dalam fase manajemen risiko (risk management phase).

Kepala BNPT Komjen Eddy Hartono menjelaskan bahwa meskipun ancaman terorisme masih nyata, kapasitas pelaku terbatas dan tidak terjadi eskalasi besar. "Negara berada pada risk management phase, bukan crisis response phase," tegasnya.

Pergeseran Ancaman ke Ranah Digital

Di balik kondisi keamanan yang terkendali, Densus 88 mendeteksi adanya pergeseran pola ancaman yang signifikan. Kelompok radikal kini lebih masif menyasar generasi muda atau digital native melalui algoritma media sosial dan platform digital.

Mayndra menjelaskan bahwa mekanisme algoritma platform digital yang dirancang untuk membuat pengguna betah berlama-lama justru dimanfaatkan untuk menciptakan echo chamber atau ruang gema.

Ini membuat anak-anak dan remaja terkunci dalam satu sudut pandang radikal tanpa mendapatkan sudut pandang pembanding (second opinion).

"Dia buka itu lagi, malamnya dia buka itu lagi, sebelum tidur dia buka itu lagi, seolah-olah alam itu menyodorkan bahwa inilah satu-satunya kebenaran," ujar Mayndra.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahaya penggabungan kekuatan narasi dan algoritma yang dapat memicu radikalisasi. Ia memperkirakan ancaman ini akan semakin kompleks seiring adopsi kecerdasan buatan (AI) dan teknologi komputasi kuantum.

Anak-Anak Jadi Target Utama

Data dari Densus 88 pada semester pertama tahun 2026 mengungkap fakta mencengangkan: sebanyak 132 anak tereksploitasi oleh jaringan terorisme dan 115 anak di 21 provinsi terekspos komunitas kekerasan True Crime Community.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago menyoroti kasus siswa di MAN 3 Kota Padang dan SMAN 72 Jakarta yang merakit bom untuk balas dendam setelah mengalami perundungan (bullying).

"Ini tidak berangkat dari satu ideologi tertentu, tetapi ini juga harus kita jaga," kata Djamari.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Aris Adi Leksono menambahkan bahwa perkembangan teknologi informasi, dinamika sosial, dan persoalan psikologis membuat proses seseorang menuju tindakan teror menjadi semakin kompleks. Aksi teror kini tidak selalu berawal dari doktrin ideologis semata.

Strategi Pencegahan dan Deradikalisasi

Menghadapi ancaman baru ini, Densus 88 terus memperkuat langkah preemtif dan preventif. BNPT mencatat Densus 88 telah menggagalkan kurang lebih 27 ancaman serangan berdasarkan kajian putusan pengadilan dalam dua tahun terakhir.

Kepala Densus 88 AT Polri Irjen Pol Sentot Prasetyo mengingatkan jajarannya untuk tetap mengedepankan akuntabilitas hukum dan hak asasi manusia dalam setiap tindakan operasional, terutama dalam penanganan Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH).

Selain pendekatan keras (hard approach), Densus 88 juga menggencarkan pendekatan lunak (soft approach). Di Solo Raya, Tim Cegah Satgaswil Densus 88 menjadwalkan kunjungan berkala ke 48 pondok pesantren untuk pembinaan dan penguatan wawasan kebangsaan.

Program deradikalisasi dan pendampingan bagi eks-narapidana teroris serta keluarganya juga terus digarap serius.

Meskipun zero attack telah dipertahankan, Densus 88 menegaskan pentingnya kewaspadaan. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyoroti tantangan baru seperti penggunaan AI untuk radikalisasi otomatis, penyebaran ideologi "salad bar", dan gamification kekerasan melalui platform daring yang menyasar kelompok rentan.

( berbagai sumber)