Indonesia Tetap Jadi Pasar Penerbangan Terbesar ASEAN, Vietnam Salip Thailand pada Juli 2026

 

Indonesia masih menjadi pasar penerbangan terbesar ASEAN pada Juli 2026, sementara Vietnam resmi menyalip Thailand. ( Foto: angkasa pura II) 

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID,JAKARTA – Indonesia mempertahankan posisinya sebagai pasar penerbangan terbesar di kawasan Asia Tenggara pada Juli 2026. Meski pertumbuhan kapasitas kursinya relatif tipis, Indonesia tetap berada di peringkat pertama dengan total 10,9 juta kursi penerbangan terjadwal.

Data tersebut berasal dari laporan terbaru Official Airline Guide (OAG), lembaga analisis industri penerbangan global yang berbasis di Inggris. Dalam laporan itu, Indonesia mencatat pertumbuhan kapasitas sebesar 0,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Di sisi lain, Vietnam mencatat pencapaian penting dengan naik ke posisi kedua sebagai pasar penerbangan terbesar di ASEAN. Negara tersebut membukukan kapasitas 7,4 juta kursi atau tumbuh 5,6 persen secara tahunan, sekaligus menggeser Thailand yang kini berada di posisi ketiga dengan 6,9 juta kursi setelah mengalami kontraksi 3 persen. 

Secara keseluruhan, kapasitas penerbangan di Asia Tenggara mencapai 50,4 juta kursi pada Juli 2026. Angka tersebut turun 1,2 persen dibandingkan Juli 2025 akibat penyesuaian jadwal sejumlah maskapai, terutama segmen berbiaya rendah (low-cost carrier/LCC). 

Indonesia Masih Mendominasi Pasar Domestik

Dominasi Indonesia tidak terlepas dari besarnya pasar penerbangan domestik. OAG mencatat kapasitas penerbangan domestik Indonesia mencapai sekitar 8,7 juta kursi atau hampir tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, Vietnam menjadi negara dengan pertumbuhan pasar domestik tercepat di kawasan, meningkat 8,1 persen secara tahunan. 

Untuk pasar internasional, konektivitas penerbangan Asia Tenggara masih didominasi rute menuju kawasan Asia Pasifik. Namun, kapasitas penerbangan menuju Timur Tengah mengalami penurunan akibat dampak kenaikan biaya operasional dan harga bahan bakar penerbangan. 

Bandara Soekarno-Hatta Masuk Jajaran Tersibuk

Laporan OAG juga menempatkan Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta sebagai bandara tersibuk kedua di Asia Tenggara setelah Bandara Changi Singapura.

Bandara Soekarno-Hatta memiliki kapasitas sekitar 3,32 juta kursi pada Juli 2026 atau meningkat 3,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara Bandara Changi Singapura masih memimpin dengan kapasitas 3,56 juta kursi. 

Prospek Industri Penerbangan

Meski total kapasitas penerbangan kawasan mengalami penurunan, OAG menilai fundamental industri penerbangan Asia Tenggara tetap kuat. Pertumbuhan kelas menengah, meningkatnya mobilitas masyarakat, serta konektivitas antarnegara ASEAN diperkirakan akan terus mendorong permintaan perjalanan udara dalam jangka panjang. 

Pemerintah Indonesia sendiri terus mendorong peningkatan konektivitas penerbangan internasional melalui kerja sama kawasan, termasuk dalam forum ASEAN–China untuk memperkuat jaringan layanan udara dan membuka peluang rute baru di masa mendatang. 

( berbagai sumber