Abu Vulkanik, dari Galunggung ke Soekarno-Hatta: Pelajaran yang tak Pernah Usang

bandara soetta-kemenpan rb

Penutupan sementara operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) Tangerang, Banten, Minggu (6/9/2026). Keputusan ini diambil setelah sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau masih terdeteksi di sekitar wilayah bandara. (Foto ilustrasi: Kemenpan RB)

Oleh Chappy Hakim *)

Minggu pagi, 6 September 2026, aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tiba-tiba terhenti. Berdasarkan NOTAM yang diterbitkan AirNav Indonesia, bandara terbesar di Indonesia itu ditutup sementara mulai pukul 01.30 hingga 05.30 WIB setelah paper test mendeteksi indikasi sebaran abu vulkanik di kawasan bandara. Abu tersebut berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Penutupan kemudian diperpanjang karena hasil pemantauan masih menunjukkan keberadaan abu vulkanik. Sejumlah bandara lain di sekitar Jakarta, Banten, Lampung, dan Jawa Barat juga ikut terdampak.

Dampaknya segera terasa. Puluhan penerbangan dari dan menuju Soekarno-Hatta mengalami pembatalan, penundaan, penjadwalan ulang, maupun pengalihan. Dalam perkembangan berikutnya, ratusan penerbangan di sejumlah bandara turut terdampak erupsi Anak Krakatau. Sebaran abu bahkan dilaporkan mencapai ketinggian signifikan dan meluas ke beberapa wilayah.

Ada kalanya sejarah penerbangan kembali mengingatkan kita bahwa ancaman lama tidak pernah benar-benar hilang. Penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta akibat sebaran abu vulkanik mengingatkan kita pada sebuah peristiwa dramatis yang terjadi 44 tahun silam.

Peristiwa itu adalah British Airways Flight BA009 pada 24 Juni 1982. Saat itu, sebuah Boeing 747 milik British Airways terbang dari Kuala Lumpur menuju Perth. Pada ketinggian sekitar 37.000 kaki, pesawat tersebut tanpa sengaja memasuki awan abu vulkanik akibat letusan Gunung Galunggung di Jawa Barat.

Dalam hitungan menit, keempat mesinnya kehilangan tenaga. Pesawat raksasa itu praktis berubah menjadi glider di ketinggian 37.000 kaki.

Situasinya nyaris tidak terbayangkan. Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel-partikel sangat halus yang masuk ke dalam mesin jet dapat meleleh akibat temperatur tinggi, kemudian menempel pada komponen mesin. Kondisi tersebut mengganggu aliran udara dan menyebabkan mesin kehilangan daya.

Abu vulkanik juga dapat mengikis permukaan pesawat dan kaca kokpit. Dalam kasus BA009, kaca depan pesawat mengalami abrasi sedemikian parah sehingga kemampuan awak untuk melihat ke luar menjadi sangat terbatas.

Kapten Eric Moody bersama awak pesawat kemudian melakukan emergency descent. Mereka berusaha mempertahankan kendali pesawat sambil mencoba menghidupkan kembali mesin satu demi satu. Setelah mencapai ketinggian yang lebih rendah, mesin akhirnya berhasil menyala kembali.

Pesawat kemudian dialihkan ke Jakarta dan mendarat dengan selamat di Bandara Halim Perdanakusuma.

Kalimat Kapten Moody yang kemudian terkenal bahwa dalam menghadapi keadaan tersebut mereka harus tetap tenang dan bekerja sesuai prosedur, sesungguhnya menggambarkan prinsip fundamental dalam penerbangan. Ketika keadaan darurat datang, keselamatan sangat bergantung pada kualitas manusia yang berada di dalam sistem.

Inilah salah satu pelajaran terbesar dari BA009.

Kita sering berbicara tentang kecanggihan pesawat, radar, satelit, sistem navigasi, dan teknologi peringatan dini. Semua itu memang sangat penting. Namun, teknologi tidak akan banyak berarti apabila manusia yang mengoperasikannya tidak memiliki kompetensi dan kesiapan menghadapi keadaan darurat.

Awak British Airways pada BA009 menjadi contoh nyata bagaimana pelatihan yang baik dapat menjadi pembeda antara bencana dan keselamatan. Mereka menghadapi situasi yang sangat tidak lazim: empat mesin mati sekaligus, pandangan dari kokpit terganggu, dan pesawat terus kehilangan ketinggian.

Namun, mereka tidak kehilangan kendali. Mereka bekerja berdasarkan prosedur, pengalaman, crew resource management, komunikasi, dan disiplin. Mereka tidak panik karena mereka terlatih.

Pelajaran tersebut sangat relevan dengan situasi Indonesia saat ini.

Indonesia merupakan negara dengan aktivitas vulkanik yang sangat tinggi. Kita memiliki lebih dari seratus gunung api aktif, sementara ruang udara Indonesia juga menjadi salah satu jalur penerbangan yang sibuk di kawasan.

Artinya, ancaman abu vulkanik bukan sesuatu yang bersifat teoritis. Ancaman tersebut merupakan risiko nyata yang harus selalu diperhitungkan dalam pengelolaan penerbangan nasional.

Apa yang terjadi di Soekarno-Hatta menunjukkan bahwa abu vulkanik masih mampu mengganggu operasi penerbangan modern. Penutupan atau penghentian sementara operasi bandara tentu menimbulkan konsekuensi besar. Penerbangan dibatalkan, pesawat dialihkan, penumpang terdampak, dan aktivitas ekonomi ikut terganggu.

Namun, dari perspektif keselamatan penerbangan, keputusan tersebut justru harus dipahami sebagai bentuk kehati-hatian, bukan kelemahan.

Lebih baik sebuah bandara ditutup sementara daripada sebuah pesawat memasuki awan abu vulkanik tanpa kepastian mengenai konsentrasi, ketinggian, dan arah pergerakannya.

Kemajuan teknologi memang telah mengubah keadaan sejak 1982. Dunia penerbangan kini memiliki satelit, model prediksi atmosfer, sistem meteorologi penerbangan, NOTAM, komunikasi digital, serta Volcanic Ash Advisory Centres (VAAC).

Pengalaman Galunggung ikut mendorong berkembangnya sistem peringatan abu vulkanik internasional agar informasi mengenai letusan dapat diterjemahkan menjadi peringatan yang berguna bagi dunia penerbangan.

Namun, satu prinsip tetap berlaku: kita tidak dapat mengendalikan gunung api dan tidak dapat memerintahkan angin membawa abu ke arah tertentu. Yang dapat kita kendalikan adalah bagaimana kita mempersiapkan diri.

Karena itu, pengelolaan ancaman abu vulkanik tidak boleh hanya dilihat sebagai urusan bandar udara atau maskapai. Ancaman ini membutuhkan koordinasi erat antara lembaga vulkanologi, BMKG, regulator penerbangan, AirNav Indonesia, pengelola bandar udara, maskapai, awak pesawat, dan berbagai unsur terkait lainnya.

Informasi mengenai sebuah letusan harus dengan cepat diterjemahkan menjadi informasi operasional: di mana abu berada, pada ketinggian berapa, ke mana bergerak, berapa lama diperkirakan bertahan, dan jalur penerbangan mana yang aman.

Sekali lagi, sistem yang canggih tetap membutuhkan manusia yang kompeten.

Dari Galunggung 1982 hingga Soekarno-Hatta hari ini, terdapat dua pelajaran besar. Pertama, kita membutuhkan sistem deteksi dan peringatan dini yang semakin akurat. Kedua, kita membutuhkan manusia penerbangan yang semakin profesional dan semakin terlatih menghadapi keadaan darurat.

Pesawat dapat terus diperbarui. Radar dapat semakin canggih. Satelit dapat memberikan informasi dengan semakin cepat. Tetapi ketika keadaan darurat benar-benar terjadi, keputusan pada akhirnya tetap berada di tangan manusia.

BA009 selamat bukan karena bahayanya kecil. Sebaliknya, bahayanya luar biasa besar. Pesawat kehilangan keempat mesinnya di ketinggian 37.000 kaki. Yang membuat peristiwa itu berakhir dengan keselamatan adalah kesiapan manusia menghadapi situasi yang berada di luar keadaan normal.

Maka, ketika hari ini kita melihat sebuah bandara harus ditutup karena abu vulkanik, jangan hanya melihatnya sebagai gangguan perjalanan.

Indonesia hidup berdampingan dengan gunung api, sementara dunia penerbangan menuntut tingkat keselamatan yang semakin tinggi. Kita tidak mungkin menghilangkan ancaman alam tersebut. Tetapi kita dapat memastikan bahwa ketika alam memberikan kejutan, sistem kita siap, prosedur kita bekerja, dan manusia kita terlatih.

Pelajaran paling berharga dari BA009 sebenarnya sederhana. Teknologi membantu kita mendeteksi bahaya. Prosedur membantu kita menghadapinya. Namun, manusia yang terlatihlah yang pada akhirnya menyelamatkan penerbangan.

Utamakan Keselamatan!

Jakarta, 6 September 2026

*) Pusat Studi Air Power Indonesia